Social Icons

13 Maret 2013

Nyasar Demi Pantai Klayar

Perjalanan itu.. Terkadang bukan karena kita ingin, tetapi kita harus.
 ***
Demi panorama seindah ini, apakah kita rela menempuh perjalanan berliku dan berpeluh?

 
Nyatanya, begitulah kami hari ini.
 ***

Sebelum touring ke Purworejo sebetulnya saya sudah merasakan gejala flu. Dan benar, sepulang dari touring 10 menit itu, saya ambruk. Ya ampuuun.. Padahal hanya flu, tetapi 'ngiung' di kepala, uap panas yang keluar dari pori-pori kulit, benar-benar membuat saya harus 'dipaksa' bed rest (--,)a

"Aul, besok jadi ikut ke Pacitan, kan?" Mbak Jemi tiba-tiba sms.

Aduuuuh saya lupaaa.. Sebelum ke Purworejo, saya sudah berjanji pada Mbak Jemi untuk menemaninya ke Pantai Klayar di Pacitan bersama teman-teman traveling-nya. Hitung-hitung jalan-jalan sebelum Mbak Jemi kembali ke Pontianak karena baru saja menerima ijazah M.Pd.nya.

"Misal aku ga ikut gimana Mbak? Lagi flu berat nih, baru pulang dari Purworejo"
Solo-Pacitan itu juawuh buanget lho pemirsah.

"Oh gitu.. Ya udah kalau ga fit ga pa-pa."
"Ceweknya banyak kan, Mbak?" tanya saya, berharap.
"Cuma Mbak Jemi."
"Appppppaaaaaaaaah???"

Dan kemudian saya menghitung kancing. Ikut, ga, ikut, ga, ikut, ga...

Kalau ikut, apa flu-nya ga tambah parah...? Tesisku nanti gimana? Hafalan Al Quranku? Nanti ditunda-tunda lagi, kapan ngerjainnyaaaa.. Tapi kalau ga ikut, kan sudah janji dengan Mbak Jemiiiiii.. Dan betapa teganya saya membiarkan Mbak Jemi sendirian di antara rombongan penyamun *uhuk*

"Aku ikut, tapi Mbak Jemi yang bawa motor ya?" Kedip-kedip.
"Aulia," kata Mbak Jemi. "Anak-anak itu suka protes kalau Mbak Jemi traveling bareng mereka. Masalahnya Mbak Jemi kaya siput jalannya."

Ealaaaaaaaaaaaah...
***
Karena saya harus sudah di asrama Tahfidz jam 5 sore, saya meminta jam 7 pagi kami sudah berangkat. Ya elaaa.. Susah betul ya kalau sudah bareng rombongan itu, banyak iklannya pemirsah. Ada yang sarapan dulu, ada yang ke kos teman dulu nitip kunci, ada yang ini ada yang itu.. Alhasil jam 8 kurang kami baru chao.. 

Kami bertujuh dengan lima motor. Gaya banget yak, padahal kan bisa cuma empat motor (--,)a
Itu cowok-cowok yang bawa motor gede ga mau boncengan coba... Ga irit bensin banget (-_-)"
Saya+Mbak Jemi dengan Revo, Dona (cowok) dan Rokhman dengan Supra Fit, Mas Bintang dengan Spacy, sedangkan Bang Sandi dan Irfan pakai motor gede yang saya ga tau apa itu namanya :D

Solo-Solo Baru-Wonogiri-Pacitan-Pantai Klayar.

Begitu seharusnya rutenya. Yang tahu rute itu Irfan. Tapi karena beliau itu suka ngebuuut dan di antara rombongan ada putri kerajaan, jadi Mas Bintang yang memimpin di depan, dilanjutkan dengan saya, Bang Sandi, Rokhman+Dona.

Eeeh kok Irfannya ga ada?
"Isi bensin," kata Mas Bintang. "Kita disuruh duluan. Ketemu di jalan Wonogiri-Pacitan."
***
Waduk Gajah Mungkur. Hanya lewat :D
Kami berhenti untuk menunggu Irfan. Jadi, foto-foto duluuuuuuuu \(^.^)/











Setengah jam. Irfan kok ga lewat-lewat?
“Ga mungkin Irfan belum sampai, udah setengah jam,” kata Mas Bintang.

“Posisi di mana?” Irfan sms.
“Jembatan Waduk,” jawab kami.
“Lah, ini juga di jembatan,” katanya lagi.

Dan akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan possitive thinking, Irfan ada di jembatan setelah jalan ini. Tetapi tidak ada. Eeeeeeeh?

Kami berhenti di perempatan jalan.
“Ke mana ini?” tanya salah satu dari kami. “Sms Irfan.”

Mbak jemi dengan gesit menekan keypad ponselnya. “Lurus katanya, nanti ambil kiri. Irfan nunggu di BRI.”

Sekitar 10 km baru kami menemukan BRI Eromoko.

"Irfan di mana?"
"BRI Ngadipiro."
"Lah, di mana ituuu? Ini Eromoko loh.. Betul kan tadi petunjuk jalannya?"
Garuk-garuk kepala deh guwe (--,)a

Mas Bintang bertanya ke tukang ojeg dan kembali ke rombongan dengan ekspresi menahan tawa.
"Ngadipiro itu," katanya dengan tawa tertahan. "Dekat. Pertigaan ini ambil kiri terus nyebrang."
"Lha itu dekat."
"Nyebrang sungaaaaaaaaaaaaaaaaaaaai..."
"Haaaaaaaaaah?"
Untung ga kejengkang :D

"Cek lagi Jem, betul ga itu petunjuk arah dari Irfan."
Mbak Jemi menelepon Irfan sebentar.

"Hahaha.. Kita salah. Seharusnya perempatan jalan tadi langsung ambil kiri, ga lurus dulu," kata Mbak Jemi. Cape deeeeeeeeeh...

Kami pun kembali lagi ke perempatan yang jaraknya 10-an km itu (--,)a
Karena sudah tahu rutenya, kami ambil kecepatan 80 km/jam. Padahal jalannya bergelombang. Jadi naik motor berasa naik kuda. Hiak hiak hiyaaaaaaak...

Mas Bintang tanya Ibu-ibu penjual warung dan kembali lagi dengan menahan tawa.
"Kalau kita ambil kiri, itu juga sungaaaaaaaaaaaaai.."

Hahahahaha.. Sakit perut kebanyakan ketawa.

"Pake GPS, pake GPS," kata Bang Sandi.
"Kenapa ga dari tadiiiiiiiiiiiiiii?"
"Alaaah maaak.. Ga ada pun Ngadipiro di sini. GPS ga kenal kampung kecil keknya nih," kata Bang Sandi. Eaaa logat Melayunya keluar. "Pake GPS kedua."

Bang Sandi dan Mas Bintang mendekat ke sopir bus tak jauh dari kami. Dari jauh, sepertinya sopir itu menunjuk jalan ke arah BRI Eromoko tadi.

Bang Sandi dan Mas Bintang kembali, "Pantai Klayar ya ke arah BRI Eromoko itu tadi."

Haaaaaaaaah???
E serius kita mesti balik lagi?

"Ini si Irfan lah yang nyasar sebetulnya. Padahal dia yang tau jalan."
"Jangan-jangan sebetulnya Irfan juga ga tau dia ada di mana, hahahaha..."

Ponsel Mas Bintang berdering, bersamaan dengan ponsel Mbak Jemi.

"Halo, Fan?" jawab Mas Bintang.

"Ya, Irfan di mana?" tanya Mbak Jemi dari ponselnya. "Eh ini Irfan nih." Mbak Jemi menyerahkan ponselnya ke Mas Bintang.

"Ya, gimana, gimana? Kantor Bupati? Udah lewat tadi.. Oh iya iya, terus? Wooo kejauhan kalau balik ke Pasar Wonogiri... Batu Retno? Oke oke.."

Saya dan teman-teman yang lain tertawa sampai memegang perut karena sakit. Itu orang panik apa gimana, nelpon pake dua hape sampe ga nyadar kalau itu dari orang yang sama, hahahahaha..

"Kita ketemu di Batu Retno." Mas Bintang menutup telepon.

"Batu Retno?" Bang Sandi membuka lagi GPS. "Ada nih. Aih, banyaknya ini Batu Retno.." Bang Sandi termelongo sendiri.

"Aku tau jalannya," kata Mas Bintang. "Dan kita mesti lewat BRI Eromoko tadi hahahahahaha..."
***
Dari posisi kami semula, kami harus melewati Pracimantoro terlebih dahulu baru sampai ke Batu Retno. Pracimantoronya aja udah juwawuh buwanget apalagi Batu Retno. Jalanan sepi, tapi berliku dan bergelombang. Motoring sensasi kuda, hiak hiak hiaaaaaaaaaaaaaak...

Fiuh.. Sampai juga di Batu Retno setelah satu jam menyusur jalan. Ketemu Irfan rasanya pengen ngelempar sendal :D










Ini nih tersangkanya (--,)a

"Kalian itu nyasar," kata Irfan dengan wajah tak berdosa.
"Mana ada yaaaaaa. Namanya nyasar itu yang terpisah dari rombongaaaaaaaaaan," saya tidak terima.

"Tahu gak, kita mau ke sini aja udah ngabisin waktu lima jam. Lima jam! Gimana pulangnya coba?"
Hahahaha.. Ya sudah, ga usah dibayangin.

"Dekat kokpulangnya, paling dua jam nyampe.."

Kau pikir kami bodoh (-_-)"

Dari jauh terdengar adzan Dzuhur. Haaah? Sudah adzan? Padahal rencana jam 11-an sudah sampai pantai loh pemirsah dan ini masih di Batu Retno (--,)a

"Lapaaaar.."
"Yuk cari warung makan."
"Jangan warung makan laaah.. Rumah makan."
"Oh iya, biar kita bisa sekalian sholat."
***
Setengah jam melintasi jalanan berkelok, baru nemu rumah makan.










Kompak, kami memesan ayam kampung goreng. Cuma Mas Bintang yang pesan Mie Ayam pakai nasi :D
***
Sudah kenyang, sudah sholat, kami melanjutkan perjalanan menuju Paaantaaaiii Klaaayaaar...

Benar-benar melintasi gunung lho pemirsah. Wuiiiiiiiiiiiw.. Dan sebelumnya saya belum pernah melewati track seperti ini. awalnya masih jalan besaaar, berkelok, dekat jurang. Tapi Mbak Jemi ga mau ambil fotonya, katanya takut (-_-)"

Setelah jalan besar itu, kami baru melintasi perkampungan. Serius ini, berliku berbatu. Tanjakannya itu lho... Uwoooo kayanya bergradien kurang dari 45 derajat jadi curam betul. Tapi tanjakan yang curamnya ga difoto sama Mbak Jemi (--,)a










Setelah satu jam baru kami bisa melihat tanda-tanda keberadaan pantai. Subhanallaah.. Rasanya perjalanan hari ini kebayar semuanyaaa... Lihat pantai dari kejauhan aja udah bahagia betuuul...










Waaaaaaaaaaaaah.. Indahnyaaaaaaaaaaaaa... Subhanallah walhamdulillah walaailaahaillallaah wallaahu akbar!










Setiap kali melihat ombak yang membentur karang, kami mengomentari buih-buih yang mirip sekali dengan busa sabun,"Siapa itu yang buang air cucian?"

"Tahu ga, kenapa air laut asin?" tanya Mas Bintang. "Karena dia adalah perkumpulan air pip*s orang sedunia."

Iiiiiiiiiiiiih.. Mas Bintang jorok (--,)a



Owh ya ampuuun.. Ini sudah jam setengah tiga dan ga mungkin jam lima sampai di asrama Tahfidz. Jadi, saya harus segera kabari Ustadzah pengampu kalau saya izin ga masuk. Hukumannya, besok saya harus setor hafalan double (‘.’)a


Dari sejak pertama sampai di pantai, cuma Irfan yang ribut, "Aku pengen berenaaaaaang..."
Dan tau-tau dia udah nyebur aja (--,)a













Saya pernah nonton Laptop si Unyil edisi Gunung Kidul. Dan di liputannya ada ibu-ibu yang suka ngambilin rumput laut di pantainya untuk digoreng tepung. Saya nunjukin ke Mas Bintang rumput laut yang di Klayar karena mirip dengan yang di Gunung Kidul, eh sama dia dimakan.

"Enak kok," katanya. "Asin."

Ya iyalah campur air laut :D




Eh habis makan gitu, ternyata di rumput lautnya ada ulat apa cacing gitu. Hahahahaha... Langsung dibuang lagi itu rumput laut yang udah dikunyah :D

Lihat pohon kelapa, yang kebayang apa? Makan kelapa mudaaaaaaaaaaaaa \(^.^)/




Ide siapa ini, mau lihat sunset di pantai? Mau pulang jam berapa coba (-_-)"
Masalahnya track dari pantai ke jalan besar itu ngeri betuuul.. Ga ada lampu penerang jalan, scara di kampung..

"Atau, kita lihat sunrise sekalian?" kata Dona.
Uwooooooooooooooooooooooo...

Akhirnya, dengan estimasi waktu kami harus sampai di Batu Retno sebelum gelap, kami pulang jam setengah lima. Karena daerah Pacitan cukup beresiko untuk pengendara amatir seperti saya: jalanan berliku dengan belasan tikungan tajam karena memutari tebing.

Kalian tahu, Pacitan itu tanah kelahiran Presiden?

"Jadi, kalau kamu mau kampungmu jalannya bagus, jadi Presiden dulu," kata Mas Bintang.
Hahahahahah... Tertawa tapi miris.
Dari Batu Retno kami tak perlu melewati Pracimantoro lagi. Jadi, pulang kali ini kami melewati track yang dilalui Irfan ketika berangkat: lewat Ngadipiro.

Saya sudah bahagia gitu pemirsah, karena kami melewati pemukiman padat penduduk yang ditandai dengan hingar bingar pasar yang malam pun tetap ramai. Eh hanya bertahan belasan menit, berikutnya kami melewati jalan yang kanan kiri sawaaaaaaaaah semua, lalu melewati jalanan gunung yang tak ada lampu penerang jalan, apalagi tukang jual bensin :O

Ini horor pemirsah, ini horooooor.. Tempo hari, gelap-gelap begini pulang dari Purworejo so calm karena melewati jalan lintas kota.Ini? Waaaaaaaaah.. Banyak-banyak dzikir deh. Untung saya masih mendengar murotal Ar Rahman dari headset. Jadi sedikit lebih tenang.

"Aaaaaaaaaa!" Mbak Jemi menjerit. "Astaghfirullah, astaghfirullah.."

Kami baru saja melihat ular di tengah jalan. Menggeliat-geliat karena tak sengaja dilindas Irfan dan Bang Sandi yang di depan. Untung kami menghindar, jadi ban Revo saya tidak menyentuh ular. Tapi tetap saja heboooooooooh...

Start dari pantai jam lima kurang, sampai kotaWonogori jam tujuh lewat belasan menit. Fiuh... Sampai juga di kota. Setelah bertegang-tegang ria. Ini tangan dan kaki saya kebas sekali rasanya. Mata sudah pedas karena ditampar-tampar angin sepanjang jalan, tetapi harus awas dengan stabilitas gas di tangan kanan dan rem di kaki plus tangan.

Saya menghampiri Irfan, "Istirahat doloooooooooooooh.. Aku pengen pip*s."

Tau ga sih pemirsah, awalnya Irfan bilang kita dinner di Solo Baru aja. Dan itu masih satu jam lagi dari Wonogiri. Uwoooooooooooooo...

Mengalah, Irfan merapat ke sebuah rumah makan (yang saya juga ga paham ini rumah makan, warung makan, atau kedai atau apa :D )











Menu spesialnya, teh poci. Sedap lho pemirsah, malam-malam begini. Rasanya paaaaaas sekali. Ini pakai gula batu dan irisan lemon.

"Eh ini berapa harganya?" tanya saya. Dona menggeleng.
"Jangan-jangan, tehnya aja udah lima belas ribu harganya, hahahahahhah..."
Ini menu kami. Ada dua versi sambel, sambel mateng dan sambel mentah. Tapi, yang jadi rebutan itu sambel mentahnya. Mak Nyoooooossss...

Anyway, pas bayar totanya cuma Rp 16.500,00 satu porsi. Itu udah sama tehnya, pemirsah. Alhamdulillah... *ngelus dada, lega*
Saatnya pulaaaaaaang...

"Aurel hebat," kata Bang Sandi. Eh nama saya Aulia ya kok jadi Aurel (--,)a

Iya, saya paham mengapa Bang Sandi bilang begitu. Saya juga heran, kok bisa saya kuat dari pagi sampai malam begitu, mengendalikan Revo sendiri, tidak bergantian. Sejauh itu lagi. Ntah berapa ratus kilometer yang sudah kami tempuh hari ini.

Ntahlah... Yang saya pikirkan sedari tadi adalah, saya tidak boleh menyusahkan orang. Travelling dengan para traveller itu, paling tidak saya harus berani untuk meng-upgrade kecepatan dan kelihaian berkendara. Setidaknya, mereka tidak perlu menunggu terlalu lama jika saya tertinggal. Dan yang pasti, kekuatan itu yang bahkan membuat kita lupa dengan sakit dan tiba-tiba menjadi sehat :D

Jam sembilan lebih belasan menit, saya sudah bisa mencium aroma bantal \(^.^)/

Yang paling berkesan dari sebuah perjalanan, agaknya bukan tujuan. Tetapi, perjalanan itu sendiri :)

2 komentar:

  1. emang gaya nulismu dari dulu gt y ul ul hihi :D
    tapi emg tiap penulis harus punya taste, harus punya ciri sendiri sih ... overall, asik dibaca ko.. bahasanya ringan ^^
    dan yang paling penting dari sipembaca tulisanmu adalah, "aku jadi pengen kesana juga" hahahaha...
    nice nice nice,, ngorbanin yang jam17 demi ayat kauniyahNYA :D

    fotonya tempel2 lagi dong ul ul >.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. Arigatooo..

      Alhamdulillahnya ya, pas touring itu masih sempat hafalan. Dapat 1 halaman surat Al Hadiid tapi kurang tiga ayat, hehe..

      No regret at all. Keren, dan pengen touring lagi :D

      Hapus