Social Icons

6 Juni 2013

Akhirnya ke Sarangan Juga


Perjalanan itu.. mengajarkan untuk saling mengenal.

***
Finally, we're here... Telaga Sarangan :)


***

"Lee, selasa atau rabu aku main ke Solo yaaaaaaa..." SMS dari Mbak Uzi.

Seketika saya berteriak girang. Yes yes yes, saatnya jalan-jalan! :D
Pasalnya, tempo lalu kepala saya rasanya berasap karena mempersiapkan draf untuk Seminar Hasil Penelitian tesis. Mbak Uzi main ke Solo itu moment langka karena biasanya saya yang singgah ke Jogja dan meminta diantarkan ke sini dan ke sana oleh Mbak Uzi.

"Mau main ke mana nih Mbak, Tawangmangu?" tanya saya.

"Ke tempat yang kamu belum pernah laaah."

Serius? Kalau begitu saya request Sarangan, telaga yang ada di balik Gunung Lawu itu. Tempo lalu saya dan teman-teman sekelas sempat berencana camping di sana, tapi batal karena kondisi yang tidak memungkinkan. Sedang padat-padatnya dengan tugas kuliah saat itu :D

"Ke Sarangan nanti Shandronando yang jadi guide."

"Coba ajak Arif, Aziz.. Atau Irfan. Biar rame.."
***
Tempo lalu, pertama kalinya main bareng Irfan itu... Nyasar juwawuh banget padahal tujuannya cuma mau ke Pantai Klayar di Pacitan itu. Dan hari ini, lagi-lagi ada cerita :D

Aziz dan Arif yang notabenenya satu almamater sama Shandro, ga memungkinkan untuk diajak main. Jadi, saya meng-invite Irfan yang kemudian menginvite Shafa, temannya sesama Laskar Langit, semacam perkumpulan pemuda pemudi yang hobinya tadabbur alam.

Sebenarnya Shafa dan Irfan itu kakak tingkat saya. Angkatan 2006 S1-nya, sedangkan saya (dan Shandro) angkatan 2007. Irfan S1 di UNY dan melanjutkan S2 di UNS, satu semester lebih dulu dari saya. Mungkin karena kecerdasan kami tidak jauh berbeda (atau saya lebih cerdas? hahaha) Jadi saya panggil nama saja. Ngapunten nggih (^^,)v

Rencananya, dari Jogja Mbak Uzi naik kereta ke Solo dan saya jemput di Balapan. Sementara Irfan dan Shafa motoring dari Jogja.

"Jam 7 start dari Solo ya," kata saya.

"Laaah.. Males bangun pagi-pagi. Jam 8 deh." Jogja-Solo motoring itu sekitar dua jam. Kasihan juga sih ya, nyubuh gitu mereka harus berangkat dari Jogja. Tapi Mbak Uzi harus sudah di Jogja sebelum Maghrib karena ada agenda elit, jadi mau ngejar kereta jam 16.20. Sementara Solo-Sarangan menghabiskan waktu dua jam perjalanan.

"Mbak Uzi ngejar kereta jam 16.20 lho.."

"Ha? Mbak Uzi naik kereta? Aku juga mau naik keretaaa..."

Dan diaturlah rencana sedemikian rupa sehingga Mbak Uzi, Shafa, dan Irfan naik kereta. Saya meminjam motor Bayu, adek saya yang juga kuliah di UNS untuk dipakai Shafa dan Irfan ke Sarangan.

Ternyata, setibanya saya di Balapan Solo untuk menjemput Mbak Uzi, Shafa tidak ada.

"Shafa ketinggalan kereta, bangunnya kesiangan."

Lah? Hahaha.. Padahal ceritanya Mbak Uzi terburu-buru tanpa menilik ponsel dengan husnudzon, anak-anak lain sudah sampai di stasiun. Ternyata belum datang. Dan dengan baik hatinya Mbak Uzi langsung membeli tiket untuk Sriwedari (AC) yang harganya dua kali lipatnya Prambanan Ekspres itu. Tiga tiket, untuk Mbak Uzi, Irfan dan Shafa.

"Keretanya terlambat, jadi aku SMS Shafa cepetan ke stasiunnya. Paaas Shafa sampai gerbang paaas keretanya berangkat."

Hahaha.. Kebayang wajah piasnya Shafa. Tapi lebih kasihan lagi Mbak Uzi yang sudah belikan tiket Sriwedari.

Awalnya mutung', Shafa ga jadi ikut ke Sarangan.

"Nyusul aja, ke Solo naik motor."
"Males bawa balik ke Jogjanya. Memangnya kamu mau, bawa motor ke Jogja, nanti aku yang naik kereta?"
"Mau."

Hahaha.. Jadi nanti balik ke Jogja, gantian yang bawa motor Irfan dan Shafa naik kereta bareng Mbak Uzi.

Sesampaiya di Solo, Shafa ngomel-ngomel, "HP-ku ketinggalan, padahal aku mau update status."

Ya ampuuuuuun sempet-sempetnya :D
***
Awalnya, saya ditakut-takutin Irfan kalau track ke Sarangan agak beresiko. Tempo lalu waktu ke Candi Sukuh, saya sempat standing di tanjakannya. Ah.. Namanya juga amatir, jadi belum mahir manajemen gigi motor.

"Ke Sarangan itu, tanjakannya lebih miring 5 derajat dari Candi Sukuh."

Dan dengan baik hatinya, Irfan menyarankan untuk naik angkot saja ke Sarangan dari terminal Tawangmangu.

"Biar seruuu naik angkot," kata Mbak Uzi.

Eh, saya laporan ke Shandro, guide yang terhormat. Katanya, "Cemen. Ke Candi Sukuh aja berani, ke Sarangan ga berani motoring."

Aduuuh jiwa Rangking Satu saya tidak terima dibilang cemeeeeeeeeen.

"Mbak, kita naik motor saja." Saya memutuskan sambil menaikkan kacamata.
***
Ternyata... Ke Tawangmangu itu ada jalur cepatnya. Lewat jalan kampung, bukan jalan besar yang banyak lampu merahnya itu. Dusun, hahaha... Untung ada guide.

Awalnya masih mulus ya, gaya pakai gigi empat. Sampai jalanan agak naik, gigi tinggal tiga. Jalannya makin curam, pakai gigi dua. Iiiiiiiiiiiiiih.. susah naiknyaaaaaaaaa...

Tanjakan paling wow itu setelah Terminal Tawangmangu. Ampuuun... Saya paling susah manajeman kecepatan kalau nemu tikungan. Apalagi tikungannya nanjak.


Sampai di tikungan paling ekstrim, motor yang saya naiki bersama Mbak Uzi semakin lambat. Ngg.. Ngg.. Ngg... Mana tanah datar ini mana mana..

"Hayo loh hayo loh..." Shafa dan Irfan yang awalnya di belakang kami, menyalip. Bukannya bantuin malah (--,)a


Dan mungkin karena saya terlalu memaksakan gas, bensinnya jadi cepat habis. Mampir deh beli bensin. Padahal cuma alasan biar ga dibilang ga kuat nanjak, hahahahaha...

"Ini tanjakan terakhir loh," kata Shandronando.

Seketika saya kembali bersemangat. Padahal Mbak Uzi sudah menawarkan, "Aku aja yang di depan." Tapi penasaran ingin menaklukkan tracknya, saya tetap yang memegang kendali.

Ya.. Tetep sih, kaya siput jalannya ((^.^')

"Ini jalan masuknya para pendaki kalau mau ke Lawu."

Ha? Ini? Ya ampuuuuun dekat sekali kaaaan dekat sekaliiiiiii..

"Mbaaaak ayo ndakiiii..."

Teringat akhir tahun 2011 lalu ketika teman-teman Sekolah Pintar Merapi berencana mendaki Lawu sedangkan saya tidak diizinkan mommy tercinta untuk ikut mendaki.

"Sebelum aku 'uhuk', pokokmen aku mau ndaki duluuuuu..."

Hahaha.. Memang kadang saya terlalu berambisi. Lupa kalau dulu sempai ada kejadian merepotkan banyak orang sewaktu mendaki Sumbing. Dasar Aulia Stephani Esteban (--,)a


Saya pikir, ada gerbang mewah dan karpet merah yang akan menyambut kami setibanya di Sarangan. Lha sih jalannya kecil gini :O
Sampai di Sarangan.

"Udah, gini dowang?" kata Irfan. "Yuk, pulang."

Hahaha.. Emang berharap yang kaya gimana sih.

"Ini kita ga bayar tho?"

"Harusnya bayar. Tapi kita pakai jalan pintas," kata Sahndro.

Pantesaaaaaaan ga ada tabuh-tabuhan penyambutan Putri Kerajaan mau datang (--,)a

Selama belasan menit kami ngobrol ga jelas di tepi telaga.

"Ini siapa ketua rombongannya sih."

Sontak Irfan menunjuk Mbak Uzi, "Kan yang paling senior."

Baiklah.. Mbak Uzi yang super duper baik hati itu akhirnya ngajakin naik speed boat. Kayanya Mbak Uzi mupeng gitu ya, ngelihat cewek yang naik speed boad sampai kerudungnya berkibar-kibar gitu saking kebutnya itu boat. Hihihi... Tapi, kata Irfan ada air terjun dekat sini. Agaknya kami lebih penasaran dengan air terjunnya. Hahaha.. Maap ya Mbak Uzi.

Sekitar lima menit perjalanan dari tepi telaga ke tempat parkir motor menuju air terjun.
Karena harus mendaki gunung dan melewati lembah, kami berjalan kaki menuju air terjun. Subhanallah cantiknya iniiiiiiiiiiii... Untungnya Shandro punya DSLR, jadi bisa lebih wow gitu gambarnya, fufufu...


















"Mbak Uzi mau naik gunung kok pakai sendal Cinderella sih," protes saya.
 "Siapa yang mau naik gunung. Kita kan mau ke air terjun," jawab Irfan mewakili Mbak Uzi.

Krik krik deh.

"Ini jalannya nanjak semua ya?"
 "Ini anak tangga terakhir," kata Shandro.
 "Ini baru anak tangga. Belum Bapak Tangga. Ibu tangga?" kata Irfan dengan polosnya.

Hahahahaha... Saya ngakak ga ketulungan. Padahal ga lucu tapi ga tau kenapa ga bisa berhenti ketawa. Dan anehnya saya tertawa sendirian :O

Airnya jerniiiiiiih... Diminum dong ini sama Shafa. Memangnya steril ya.. Seketika saya  dan Mbak Uzi teringat kejadian di pendakian Sumbing, anak-anak cowok minum air dari sungai kecil yang ada kecebongnya :D

Sampai deh di air terjunnya. Berapa menit ya perjalanannya... Lima belas menit mungkin dari tempat parkir.

Ada yang jual sate kelinci. Tapi, berhubung Mbak Uzi bawa jajan banyak banget, kita ga jajan duuunk, pengiritan gitu loh anak kos (haha). Dan waktu kami habisnya untuk berfoto ria.


Ini foto favorit saya selama di air terjun. Ih ya ampun Irfan itu menghayati banget goyang dangdutnya, hahaha...

Di dekat air terjun, di air yang mengalir lebih lambat, ada binatang ini, apa ya namanya.. Kalau kata Mbak Uzi namanya kepik.
Puas foto-foto, kami pulang. Hampir Dzuhur dan kami berniat singgah sebentar di rumah Shandro yang katanya cuma 15 menit dari Sarangan.

Di jalan nemu semut.

"Ini ceritanya semut-semutnya minggir, ada Nabi Sulaiman mau lewat."

Hahaha...

"Rapi ya barisnya semut ini," kata saya. "Coba dikasih tulisan KPK gitu, jadi kaya lagi demo."
"Semut itu pekerja keras," kata Mbak Uzi. "Dan ga suka ngeyel."

Wah... Memang kalau ngobrolnya sama Panwaslu (panitia pengawas pemilu) beda bahasannya (--,)a


Dan sepanjang perjalanan.. Saya yang notabenenya cerdas, malah jadi korban buli-buli. Saya bawel apa gimana kok kayanya ga habis-habis kalau adu argumen dengan Shafa.

"Shafa itu ih nyebelin bangeeet... Itu lho kaya Irfan. Anaknya baik," kata saya.
"Tapi kalau kamu tau Irfan aslinya gimana, pasti kamu mau ngelempar sendal ke dia," kata Mbak Uzi.


Ah, mana bisa sih Irfan itu jahil. Lugu gitu kok orangnya.

Ntah karena mau memperbaiki posisi tas atau bagaimana, tak sengaja tangan saya menyentuh plastik yang ntah sejak kapan menggantung di tas saya. Plastik sampah bekas jajan.

"Irfaaaaaaaaaaan..." satu sendal saya melayang ke arahnya. Beruntung tidak kena, malah sendal saya kecebur got. Aduuuh sendal guweee.

"Basah deh," saya bersungut-sungut.

Akhirnya atas rekomendasi Mbak Uzi, saya tukaran sendal dengan Irfan karena khawatir kaos kaki saya ikut basah.

"E tau ga sih, cara jalan kita itu mengikuti jenis sendal yang dipake lho." Saya menunjuk cara jalan saya yang tiba-tiba jadi macho karena sendalnya kegedean.

"Jadi aku jalannya gini ya." Irfan langsung jalan ala peragawati di catwalk.

"Garis lurus, garis lurus," kata Shafa mengarahkan.

Hahahahaha.. Aduuuuuh saya ketawa sampai sakit peruuut.

Sampai deh di tempat parkir dan ngeeeeeeng kita berangkat ke rumahnya Shandrooo...


Ngelewatin Sarangan.

"Kita belum poto-poto di siniiiiiiiiiiiiii..." saya meminta rombongan untuk berhenti.

Itu Shandro lurus banget sih orangnya, jalan-jalannya khusyuk banget. Setiap kali memimpin di depan, tidak sekalipun dia berhenti kecuali diklaksonin. Padahal kan dia fotografeeeeeeer... Ga mupeng kali ya lihat objek kaya gini. Saya sih dusun, belum pernah ke sini :D

Kami melewati kebun strawberry... Wortel... Seledri... Wuuuuuu bahagia deh lihat tanaman berjajar rapi begitu. Sampai tiba-tiba mata saya terpaku pada sebuah telaga.

"Itu apa namanya?"
"Sarangan bukan?" tanya Mbak Uzi.

"Sarangan bukan kaya gini."

Seketika saya berteriak meminta Shandro yang di depan untuk berhenti.

"Itu klaksonnya dipake dong," kata Mbak Uzi.

"O iya khilaf."

Tin Tiiiiiiiiiiiiiiin... Baru deh berhenti itu guide (-_-)"

"Mau poto di siniiiiii..."
"Oh.. Ini Telaga Wahyu namanya."

Wah... Sakti kayanya ini dilihat dari namanya :O

Dan, jepret!

Mari kita lanjutkan perjalanan *naekin kacamata*
Tak lama, sampai deh di rumah Shandro.

Ada belalang tempurnya Shandro. Kalau kata Mbak Uzi, Shandro itu Kotaro Minami, pahlawan jaman kami masih lucu-lucunya sekolah SD.

Lho, kirain dijual makanya dia naik Jupiter.

"Lagi bosen," kata Shandro.

Ha? Boseeeeeen? Motor wow kaya gitu bosen? Ya iya ding, wajar.. Soalnya ada yang lebih wow lagi sih. *tiba-tiba guwe pengen pingsan*


Terus... Kita-kita disuguhin jeruk bali gitu... Langsung abis kalau ada Irfan n Shafa :D
Emang duduk di sofa empuk itu enaknya tidur, zzzzt... Kok sempet berpose sih Om? (-_-)"

Setelah sholat, makan siang (yang ini bukan kita yang minta), ngobrol-ngobrol sebentar, pulang deeeh... Sempet foto dulu bareng Mbah dan adiknya Shandro yang masih SMA. Adiknya itu kembar, tapi kembarannya lagi tidur. Ih padahal gemes ya kalau ada anak kembar. Sayangnya dia udah gede :D

Ada bunga cantik deh. Kayanya bagus buat koleksi kebun di Asrama.

"Itu bunga apa namanya?"
"Kamboja?"
"Yang kecil itu kalau gede jadi bunga yang ini bukan?" tangan saya menunjuk pot yang lebih besar dan sudah banyak bunganya.

Eh eh terus dikasih dong ke saya itu bunga yang masih kecil, sama potnya sekalian. Aduuuuuuh... Maluuuuuu. Tapi sebenernya ngarep juga. *nyengir kuda*

Saya pengen banget foto di dekat jalur masuk pendakian ke Lawu. Tapi, ingat Mbak Uzi mau ngejar kereta, saya sedikit menyabarkan diri untuk tidak foto.

Eh ga taunya agenda elitnya Mbak Uzi itu ga jadiiiiiiiiiiiiiiiii... Akhirnya saya foto-foto dengan gembiranya. Yihaaaa! :D

"Aku pengen penthol deh," kata Shafa.
"Apaan tuh penthol?"
"Cilok, cilok."

Saya ber'ooo' ria.

"Ada itu di bawah," kata Shandro. Kita chao ke sana deeeh nyari penthol. Lucu banget sih namanya.
Penthol yang dijual itu isinya bakso kecil-kecil selusin, bakso gede isinya telor, sama tahu tiga potong. Katanya cilok :O

Tapi ga peduli ya... Mau penthol, mau bakso, yang penting makaaaan.. Padahal tadi udah makan di rumah Shandro :D

"Yuk, pulang."
"Jam berapa ini?"
"Setengah empat."
"Udah, gini dowang?" tanya saya. "Mbak Uzi kan ga jadi ngejar kereta jam 16.20."
"Lha kamu mau ke mana?"
"Adanya apa?"
"Kemuning?"
"Apa itu?"
"Kebun teh."
"Di mana itu?"
"Deket air terjun Jumog itu lho..."
"Lah jauh, aku jam 5 udah harus ada di asrama."
"Ya udaaaaaaaaaah kita pulang ajaaaaaa.."

Capek deh ngomong sama guwe :D :D :D
***

Travelling itu keren, tentu saja. Apalagi ketika ada hal baru yang bisa saya pelajari di sini. Ah ya... Dunia memang berwarna. Beragam juga penghuninya :D

Mbak Uzi, Mbak Nyonyah saya yang pokoknya nyonyah banget dan saya Ijah. Tapi lebih sering mengalah dan menuruti maunya saya.

Irfan, yang sisiran rambutnya persis tokoh Budi di buku-buku anak SD. Lugu-lugu gitu jahil juga yaaa... Tapi, kata Mbak Uzi, dia punya rencana besar untuk mbangun kampungnya.

Shafa. Menyebalkan. Ngobrol sama dia kaya lempar-lemparan bola. Ga ada ujungnya perdebatan itu kecuali saya mengalah. Huft... Tapi mendengar namanya, seketika teringat sebuah ayat di surat Al Baqarah. Ya, nama bukit tempat Siti Hajar berlarian mencari air untuk bayinya yang kehausan, Nabi Ismail. Mungkin, orang tuanya ingin ia menjadi pekerja keras yang tak kenal menyerah.

Shandro. Sholih sejak lahir kayanya ya... Selama perjalanan dia ga banyak bicara. Cuma ikutan ketawa kalau ada yang ketawa. Eh, diam-diam dia nyimpan foto gazebo (ga zelas bo) dengan pose-pose aneh kita. Hadeeeuuuuh... Tapi, tuan rumah yang baik. Semuanya dia yang bayarin. (Terus, guwe bukan tuan rumah yang baik gitu ya, ckckck).

Nice trip as always.. Kapan-kapan lagi ya :D

2 komentar:

  1. hahaha,
    senang senang senang........

    jazaakilaahu khoyr ya Lee..

    ^uhibbuki.fillaah^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayanya kalau lebih rame lagi mbak uzi lebih senang deh ((^.^')

      Hapus