Social Icons

12 Juni 2013

Di Kaki Gunung Merapi Kita Bersua

Saya menyeka air mata untuk yang ke sekian kalinya. Ntah haru, ntah karena sekelebat bayang tentang masa depan yang tiba-tiba singgah dengan nakalnya ke dalam benak. Sebentar lagi.. Dan saya akan benar-benar beranjak dari kota talok ini. Pulang.. Mengabdikan diri di tanah kelahiran.

Mungkin ini yang menjadi alasan mengapa saya mau, bahkan di sela-sela agenda padat penelitian dan menghafal Al Quran, sekedar berbincang hingga travelling ke sini dan ke sana bersama mereka, orang-orang luar biasa yang mungkin akan sulit saya temui setelah pulang nanti.

"Ayo sebelum pulang cari sebanyak-banyaknya bahan cerita," kata Shandra(nando).

Seketika teringat janji kepada Mbak Uzi di wisuda S.Pd.nya setahun lalu. Saya berniat memberi hadiah wisuda, boneka rajutan tangan saya sendiri. Mungkin berputus asa karena hasilnya yang sungguh jauh dari kata membanggakan, saya beralih membuat setangkai mawar dari adonan sabun. Lagi-lagi khilaf, mawar yang saya titipkan di kos teman itu tak kunjung saya jemput . Ragu dengan keberadaannya yang ntah masih sehat walafiata atau tidak, saya memutuskan untuk memberi hadiah yang lain. Sebuah mug. Setidaknya, desain mug-nya saya sendiri yang membuat. Dan dengan bantuan Unit Gawean Digital (UGD), jadilah sebuah mug bernuansa hijau (warna favorit saya) untuk dihadiahkan pada Mbak Uzi.

Ya. Saya selalu senang memberi mug, kepada siapapun. Karena filosofi tentang kehidupan ada di sana. Bahwa apapun yang tersuguhkan, manis, pahit, bahkan tawar sekalipun, tetap akan membahagiakan selama ia ada karena cinta.

Hingga kemudian, saya dikejutkan dengan pesan dari seorang kakak tingkat. "Hari Selasa kita ketemu di kampus ya.."

Saya pikir hanya untuk transfer file foto jalan-jalan ke Sarangan kemarin. Saya mengiyakan saja, bahkan memandatkan Shandro saja yang mengambil karena tak mau memberatkan bawaan dengan laptop saya yang beberapa inchi lebih lebar dari milik Shandro.

Sempat terheran-heran mengapa Irfan memaksakan diri untuk bertemu, padahal Shandro sudah meng-copy file fotonya. "Aku ga bawa laptop, ga bisa transfer fotonya," kata saya. "Pokoknya kalau sudah di kampus, SMS."

Saat itu saya masih bersungut-sungut. Dan sempat berniat untuk tidak memberitahu Irfan kalau saya sudah di kampus. Tak dinyana, kami berpapasan di lobi Pascasarjana. Saya berniat kabur, "Aku mau ke ataaas mau bimbingaaan". Sampai tas saya ditarik supaya menurut, "Di sini aja."

Ia mengeluarkan sebuah bingkisan.

Tanpa Irfan berkata pun, rasanya saya tahu itu dari siapa. "Kalau udah tau dari siapa, SMS ya.."

Bingkisan itu saya pun buka. Ah.. Nakal sekali. Bulir-bulir bening di pelupuk saya berdesakan. Ingin ditumpahkan rasanya. Sayang sekali di hadapan saya ada Irfan.

"Makasih ya.." dan saya pun beranjak menemui dosen pembimbing.

Bingkisan itu.. sebuah jam. Didesain sama dengan mug yang saya beri untuk Mbak Uzi. Dan saya bisa membaca tulisan yang tertera di sana dengan jelasnya.

"...di sebuah rumah sederhana di kaki gunung Merapi kita bersua. Tapi, tak ada kata Selamat Tinggal, karena kita akan kembali berjumpa, di surga kelak atas izinNya.."

Maaf Mbak Uzi, saya tidak patuh. Tidak meng-SMS seperti mandat Irfan kemarin. Hanya ingin ucapkan, uhibbuki fillah.. Dengan cara yang saya ingini.

0 komentar:

Posting Komentar