Social Icons

23 Agustus 2013

Kisahku, Kisahmu... Kisah Kita

Menantimu, butuh ribuan hari rupanya...
 
2 Ramadhan 1434 H

Aku akan mengingat ini sebagaimana aku mengingat hari-hari istimewa dalam hidupku. Ya. Hari ini, pertama kalinya kita bertemu. Kau menatapku, sementara aku tertunduk, bersembunyi dalam debarku.

“Bagaimana, sudah mantap?” tanya Ustadz Hambali yang duduk bersebelahan dengan istrinya, murobbiyahku.

Dan engkau menjawab dengan semangat, ”Sudah, Ustadz!”

Sementara aku memalingkan wajahku, menyembunyikan senyum karena sungguh kata-katamu telah menenteramkanku.

Kau tahu... Puluhan jam yang kau lalui sepanjang Lampung-Solo demi menemuiku, bagiku itu cukup.

***
 Orang besar adalah ia yang memuliakan perempuan
***
7 Ramadhan 1434 H

Hari ini, kau akan sowan dengan kedua orang tuaku di rumah. Dan tiba-tiba menit detikku terasa begitu lambat berjalan. Dadaku berdesir setiap kali mengingatnya.

Menyibukkan diri dengan hafalan dan persiapan sidang tak cukup mampu sembunyikan gelisahku. “Kau terlihat tak fokus,” kata seorang teman. Tentu saja. Bahkan aku kesulitan memejamkan mata kala malam tiba.
***
Kazamidori.. Kazamidori.. Kazamidori.
***
8 Ramadhan 1434 H

Kau, melalui kakakmu, bertanya mahar apa yang kuminta?

Ah... Bahkan dengan hadirnya kau di hadapanku, di waktu yang benar-benar tepat, telah membuatku berucap syukur tiada henti. Muliakanlah aku dengan caramu, dengan mahar pilihanmu.

Namun satu, jika boleh kuminta, hafalan 3 ayat pertama surat Al Mulk. Salah satu surat favoritku. Surat, yang mengawali semangatku untuk menghafalkan Al Quran, yang dengannya pun aku berharap kelak keluarga kita adalah keluarga Al Quran. Dan melalui Al Mulk, Allah ingatkan agar kita terus berkarya, berlomba-lomba dalam kebaikan untuk kelak dipersembahkan ke hadapanNya.
***
“...supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya...”
***
9 Ramadhan 1434 H

Biodatamu baru kuterima dua pekan lalu. Pun kita hanya sekali bertemu. Lalu, mengapa kita begitu yakin? Karena kita benar-benar mempercayakan ini kepada Dia yang menggenggam setiap takdir?

Sebagaimana kata-katamu tempo lalu, “Jika sudah jodohnya, bagaimanapun ia, maka saya hanya perlu menjemput.”

Dan kau... Menyanggupi khitbah sepekan lagi tanpa aku di sana.
***
How could I call you, anyway.. You have a same name as my father’s...
***
10 Ramadhan 1434 H 

Menyengajakan diri tak miliki cincin, agar kelak ada seseorang yang datang dan menyematkannya di jari manisku. Kau kah itu?

Aku tertawa sendiri sepulang dari ’hunting’ cincin di toko mas. Kakak iparmu bertanya ukuran lingkar jariku. Sementara aku di Solo, jauh dari rumah, jauh dari kerabat. Tak ada cincin dewasa yang pas dengan jariku karena rampingnya.

“5 cm,” jawabku setelah melingkarkan meteran di jari manisku. Bingung karena hanya ada cincin anak-anak yang pas di jariku. Itupun tak berlabel ‘nomor’ yang menunjukkan ukurannya.

Ah... Kau tahu, aku begitu gugup membayangkan hari di mana cincin yang sedang kau persiapkan itu, terlingkar di jariku.
***
...a ring, finally.
***
Malam 15 Ramadhan 1434 H

Bulan keemasan menyembul malu di antara gemawan, menelisik jiwa-jiwa perindu ketenteraman. Adakah aku, kau, kita, titipkan doa? Semoga esok segala sesuatunya lancar.

Sementara aku tersibukkan dengan persiapan sidang akhir pascasarjanaku, kau... Mengemas apik segala sesuatu yang akan kau bawa ke hadapan orang tuaku.

Khitbah. Langkah awal kita menggenapi separuh agama.
***
“...dia yang ’kan menemukanmu. Kau mekar di hatinya, di hari yang tepat.”
***
Penghujung Ramadhan 1434 H

Aku mempercayai skenario cantik yang telah Ia tata untuk para hambaNya. Dan aku... Merasa begitu beruntung dengan hadiah yang satu-persatu Ia hadirkan ke hadapanku.

Terima kasih telah datang... Terima kasih telah bersabar hingga tiba harinya.
***
“...sibukkan harimu, jangan pikirkanku. Takdir yang ‘kan menuntunku, pulang kepadamu...”
***

Malam Akad, 8 Syawal 1434 H

Ia lahir dari seorang ibu
berkuah peluh, berdarah-darah meregang nyawa setelah masa panjang

Ia adalah permata hati sang ayah
tangan yang pegal sepulang kerja pun sembuh ketika menggendong balitanya

Ia adalah anugerah terindah bagi orang tuanya
tawa di saat susah, senyum di waktu sedih, harapan di saat kecewa,
ramai di saat sepi, cair di tengah kekakuan,
dan canda di tengah ketegangan tetapi juga tangis di suatu kala
yang sebenarnya tak diinginkan

Ia mencintai ayah dan ibunya
dan kekasih adalah ia yang mencintai kecintaan kekasihnya
(Salim A. Fillah)


Readmore - Kisahku, Kisahmu... Kisah Kita