Social Icons

18 Februari 2014

Buah Hati yang Dinanti

Untuk yang kesekian kalinya saya menghembuskan nafas dalam-dalam. Ya. Seorang teman baru saja memberi kabar gembira sepulangnya dari dokter kandungan. Pertanyaannya adalah.. kapan giliran saya?
Dahulu saya kira, setiap pasangan suami istri (baru) mudah mendapatkan anak pertama. Sebagaimana yang saya perhatikan dari teman-teman yang lebih dulu menikah. Hanya berjarak satu atau dua kali haid, mereka dinyatakan ’positif’. Ternyata tidak seperti itu..

Bulan pertama menikah, saya begitu menggebu-gebu membeli testpack. Membayangkan dua garis merah tertera di sana.. kemudian saya hadiahkan ketika suami pulang. Saya salah. Setelah garis merah pertama muncul, yang kedua tak terlihat juga meski saya menunggu satu.. dua.. bahkan sepuluh menit.
Bulan berikutnya pun sama. Hingga saya terlambat haid (sampai dua belas hari) tetapi masih saja testpacknya bergaris satu. Pada akhirnya saya tetap haid dan saya mulai ketakutan. Apakah mungkin saya (atau suami) tidak sehat..

Pada bulan keenam, kami memutuskan untuk menemui dokter kandungan. Rasanya berbagai ikhtiar sudah dilakukan dan kami ingin mengoptimalkan. Maka, mengikuti program hamil dari dokter menjadi pilihan. Ah.. Tak semudah yang saya bayangkan. Saya sudah patuh mengonsumsi obat dari dokter, tetapi suami agak sulit. Lokasi kerja yang jauh, makan yang tidak teratur, pulang larut.. Membuat obat hampir tak tersentuh, bahkan ketika saya mengingatkan via pesan singkat di ponsel. Huft..

Saya percaya bahwa rizki telah ada yang mengatur. Mereka yang lebih dahulu menikah, belum tentu langsung diberi momongan. Mereka yang dianugerahi keturunan, mungkin belum memiliki rumah sendiri. Mereka yang rumahnya mewah, semua fasilitas ada, belum tentu menginginkan anak. Selain saya, bahkan ada yang menanti hingga hitungan tahun. Nabi Ibrahim dan Zakaria, yang tak diragukan kesholehannya pun tak lepas dari cobaan keturunan.

Maka.. Sebagai hamba yang tak punya kuasa, saya harus menyerahkan segala sesuatunya kepada Dia. Kami tidak lebih baik dari para nabi dan rasul. Semoga ini menjadi penggugur dosa-dosa kami, peningkat derajat kami.

Mungkin.. Saya diberi kesempatan untuk memperbagus hafalan terlebih dahulu sebelu membimbing anak-anak untuk hafal quran nantinya :-)

"..maka aku berkata (kepada mereka), ’mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia perbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu." (Nuh: 10-12)

0 komentar:

Posting Komentar