Social Icons

13 Juli 2014

51, Semoga Usia Papa Barakah


Sejak kami kecil, Papa lama merantau di Kota Kembang untuk studi, maka hanya Mama yang menjadi pahlawan di mata kami. Dan saya baru tahu betapa hebatnya Papa justru setelah dewasa.

Papa punya caranya sendiri untuk mendidik anak-anak. Tidak banyak memberi aturan, tetapi lebih kepada teladan. Hingga kami mampu menyaksikan, bagaimana menjadi bersahabat sekaligus berwibawa, bagaimana membawa nama baik keluarga dengan tidak banyak berdebat. Papa tahu kapan saatnya berpendapat, meski lebih banyak berbuat. Dan karena dermawannya, kami ingin menjadi seperti Papa.

Barakallah fii umrik, semoga usia Papa senantiasa barakah.. Semoga kebaikan untuk Papa, di dunia juga di akhirat. Semoga kebaikan sekecil apapun yang kami lakukan mengalirkan kebaikan pula untuk Papa dan Mama. 51 tahun. Semoga Papa tetap menginspirasi..
 
Readmore - 51, Semoga Usia Papa Barakah

5 Juli 2014

Cara Menarik Mengajar Hapalan Al Qur'an Kepada Balita


Share dari seorang sahabat (sumber dari sini)
 
***
 
Saya tinggal di Iran dan punya anak usia empat tahun. Sejak tiga bulan lalu, saya masukkan dia ke sekolah hafiz Quran untuk anak-anak. Setelah masuk.., wah ternyata unik banget metodenya. (Siapa tau bisa dijadikan masukan buat akhwat-akhwat yang berkecimpung dibidang ini). Anak-anak balita yang masuk ke sekolah ini (namanya Jamiatul Quran), tidak disuruh langsung ngapalin juz'amma, melainkan setiap kali datang, diperlihatkan gambar, misalnya gambar anak sedang cium tangan ibunya, (di rumah, anak disuruh mewarnai gambar itu), lalu guru cerita tentang gambar itu (jadi anak harus baik..dll).

Kemudian, sang guru ngajarkan ayat "wabil waalidaini ihsaana/ Al Isra:23" dengan menggunakan isyarat (kayak isyarat tuna rungu) misal "walidaini" isyaratnya bikin kumis dan bikin kerudung di wajah (menggambarkan ibu dan ayah). Jadi anak-anak mengucapkan ayat itu sambil memperagakan makna ayat tersebut. Begitu seterusnya (satu pertemuan hanya satu atau dua ayat yang diajarkan). Hal ini dilakukan selama 4 sampai 5 bulan. Setelah itu, mereka belajar membaca dan baru kemudian mulai menhapal juz'amma. Suasana kelas juga semarak banget. Sejak anak masuk ke ruang kelas, sampai pulang, para guru mengobral pujian-pujian (sayang, cantik, manis, pintar..dll) dan pelukan atau ciuman. Tiap hari (sekolah ini hanya 3 kali seminggu) selalu ada saja hadiah yang dibagikan untuk anak-anak, mulai dari gambar tempel, pensil warna, mobil-mobilan dll. Habis baca doa, anak-anak diajak senam, baru mulai menghapal ayat.

Itupun, sebelumnya guru mengajak ngobrol dan anak-anak saling berebut memberikan pendapat. (Sayang anak saya karena masalah bahasa, cenderung diam, tapi dia menikmati kelasnya). Setelah berhasil menghapal satu ayat, anak-anak diajak melakukan berbagai permainan. Oya, para ibu juga duduk di kelas, bareng-bareng anak-anaknya. Kelas itu durasinya 90 menit.

Hasilnya? Wah, bagus banget! Ketika melihat saya membuka keran air akan terlalu besar, anak saya akan nyeletuk, "Mama, itu israf (mubazir)!" (Soalnya, gurunya menerangkan makna surat Al A'raf:31 "kuluu washrabuu walaatushrifuu / makanlah dan minumlah dan jangan israf (berlebih-lebihan)). Waktu dia liat TV ada polisi ngejar-ngejar penjahat, dia nyeletuk "Innal hasanaat tushrifna sayyiaat / Sesungguhnya kebaikan akan mengalahkan kejahatan" (Hud:114).

Teman saya mengeluh (dengan nada bangga) bahwa tiap kali dia ngobrol dengan temannya tentang orang lain, anaknya akan nyeletuk "Mama, ghibah ya?" (soalnya dia sudah belajar ayat "laa yaghtab ba'dhukum ba'dhaa" Mujadalah:12). Anak saya (dan anak-anak lain, sesuai penuturan ibu-ibu mereka), ketika sendirian, suka mengulang-ngulang ayat-ayat itu tanpa perlu disuruh. Ayat-ayat itu seolah-olah menjadi bagian dari diri mereka. Mereka sama sekali tidak disuruh pakai kerudung.

Tapi, setelah diajarkan ayat tentang jilbab (An-Nur:31) mereka langsung minta sama ibunya untuk dipakaikan jilbab. Anak saya, ketika ingkar janji (misalnya janji nggak main lama-lama, trus ternyata mainnya lama) saya ingatkan ayat "limaa taquuluu maa laa taf'alun" (As-Shaf:2).. dia langsung bilang "Nanti enggak gitu lagi Ma..!" Akibatnya, jika saya mengatakan sesuatu dan tidak saya tepati, ayat itu pula yang keluar dari mulutnya!

Setelah tanya-tanya ke pihak sekolah, baru saya tahu bahwa metode seperti ini, tujuannya adalah untuk menimbulkan kecintaan anak-anak kepada Al Quran. Anak-anak balita itu dimasa depan akan mempunyai kenangan indah tentang Al Quran. Saya pikir-pikir benar juga. Saya ingat, dulu waktu kecil pergi ke TPA (Taman Pendidikan Al Quran) di Indonesia, rasanya maless.. banget (kalo nggak dipaksa ortu, nggak jalan deh). Bagi saya TPA identik dengan beban berat, PR yang banyak, hapalan bejibun, guru galak dsb.

Pernah saya dengar, di sekolah Kristen anak-anak diberi hadiah dan dikatakan kepada mereka bahwa itu dari Yesus. Nah, kenapa kita kaum muslim yang meyakini bahwa agama kitalah yang paling benar tidak meniru cara ini agar anak-anak merasa cinta kepada Allah dan Quran? Bagaimanapun, dunia anak-anak adalah dunia materi. Mereka baru bisa menyerap hal-hal yang nyata, seperti hadiah (dan belum paham, pahala itu apa). Para orangtua teman sekelas anak saya juga pada cerita bahwa anak-anaknya malah nangis kalau nggak diajak ke sekolah. Malah, buat anak saya, ancaman tidak diantar ke sekolah adalah ancaman paling ampuh, kalau dia nakal (dia akan langsung nangis, hehehe... mamanya nakal ya? )

Metode pengajaran ayat Quran degan menggunakan isyarat ini diciptakan oleh seorang ulama bernama Sayyid Thabathabi. Anak beliau yang pertama pada usia 5 tahun dibawah bimbingan beliau sendiri, sudah hapal seluruh juz Al Quran, berikut maknanya, hapal topik-topiknya (misalnya ditanyakan, coba sebutkan ayat-ayat mana saja yang berbicara tentang akhlak kepada orangtua, dia akan menyebut, ayat ini..ini..ini..) dan mampu bercakap-cakap dengan bahasa Al Quran (misalnya ditanya: makanan favoritmu apa, dia akan menjawab "Kuluu mimma fil ardhi halaalan thayyibaa" (Al Baqarah:168)

Anak kedua juga memiliki keampuan sama, tapi sedikit lambat, mungkin usia 6 atau 7 tahun. Keberhasilan anak-anak Sayyid Thabathabi itu benar-benar fenomenal (bahkan anak pertamanya diberi gelar Doktor Honoris Causa di bidang Ulumul Quran oleh sebuah universitas di Inggris) sehingga sejak itu, gerakan menghapal Quran untuk anak-anak kecil benar-benar digalakkan di Iran.

Setiap anak penghapal Quran dihadiahi pergi haji bersama orangtuanya oleh negara dan setiap tahunnya ratusan anak kecil dibawah usia 10 tahun berhasil menghapal Al Quran (jumlah ini lebih banyak kalau dihitung juga dengan anak lulusan dari sekolah-sekolah lain). Salah satu tujuan Iran dalam hal ini (kata salah seorang guru) adalah untuk menepis isu-isu dari musuh-musuh Islam yang ingin memecah-belah umat muslim yang menyatakan bahwa Quran-nya orang Iran itu beda/lain dari pada yang lain)

Saya pernah diskusi dengan teman saya dosen ITB, dia mengatakan bahwa metode seperti itu merangsang kecerdasan anak karena secara bersamaan anak akan melihat gambar, mendengar suara, melakukan gerakan-gerakan yang selaras dengan ucapan verbal dll. Sebaliknya, menghapal secara membabi-buta, malah akan membuntukan otak anak.

Selain itu, menurut guru di Jamiatul Quran ini, pengalaman menunjukkan bahwa anak-anak yang menghapal Quran dengan melalui proses isyarat ini (jadi mulai sejak balita sudah masuk ke sekolah itu) lebih berhasil dibandingkan anak-anak yang masuk ke sana ketika usia SD. Selain itu, menghapal Al Quran lengkap dengan pemahaman atas artinya jauh lebih bagus dan awet (nggak cepat lupa) bila dibandingkan dengan hapal cangkem (mulut).

Nah.. segitu dulu pengalaman saya. Mudah-mudahan ada manfaatnya.
 
 
Readmore - Cara Menarik Mengajar Hapalan Al Qur'an Kepada Balita