Social Icons

27 Agustus 2014

Menghafal Al Quran bukan Perkara Matematis

Hafalan Al Quran itu.. tidak bisa dihitung secara matematis.

Yah.. Mengenyam pendidikan dengan spesifikasi matematika agaknya memang sedikit mempengaruhi perilaku dan cara berpikir saya. Misalnya ini. Karena hanya tersisa satu semester di Solo, maka saya hanya punya kesempatan enam bulan untuk menjadi hafidzhoh. Artinya, sebulan saya harus hafal minimal 5 juz. Maka sepekan hafalan saya minimal 1,5 juz. Sehari target setoran adalah 3 lembar. Wow!



Tapi serius ya.. Dulu saya begitu bersemangat lho untuk mengejar target itu. Sampai teman-teman sepermainan (ehm, sebelum masuk asrama tahfidz, sejarah saya adalah anak gaul yang suka main, hihihi..) heran, "Aul hebat bisa menghafal segitu banyaaak.." Seiring berjalannya waktu.. Saya menjadi stres. Ini sudah bulan apa, hafalan sudah berapa juz, tesis apa kabar, jodoh belum datang, aaaaaaargh.. Dan tibalah masa di mana saya bertanya, untuk apa saya menghafalkan Al Quran..

 
Sumber google.com

Saya menangis, karena yang saya pikirkan hanyalah waktu, waktu, dan waktu.. Tanpa meresapi makna dari setiap aktivitas yang saya pilih. Setoran hafalan seolah hanya berlalu begitu saja tanpa berbekas di hati. Bahkan, sembilan juz yang sempat disetorkan kepada ustadzah terkadang tak bisa saya ulang meski hanya berselang hari. Saya semakin menangis ketika kemudian tesis dimudahkan dan seseorang yang baik agama dan akhlaknya pun datang menjemput saya dari tangan orang tua. Ya Allah.. Betapa baiknya Engkau.. Dan saya malu karena hafalannya begini..

Tesis selesai, artinya saya harus kembali ke kampung halaman. Kebetulan suami asli Lampung, hanya berbeda kabupaten dengan saya. Lama merantau membuat saya tak mengenal lingkungan, tak pula mengenal banyak kawan. Sementara suami sering ke luar kota. Maka, jadilah saya yang menggalau karena tak punya banyak aktivitas seperti di Bandung ataupun Solo. 

Pesan ustadzah sebelum pamit dahulu, saya harus bisa murajaah satu juz sehari. Wah wah.. Dulu, untuk siap setor satu juz langsung, saya butuh persiapan satu pekan. Jadi deh hanya sanggup murajaah seperempat juz perhari. tapiii.. tetap saja berkendala T-T apalagi saya belum nemu halaqah yang sesuai kebutuhan. Di sini hanya ada halaqah tahfidz pekanan dan setorannya pun terbatas karena harus bergantian dengan teman-teman yang lain. Dan saya pun kembali menggalau karena murajaah yang belum juga selesai, padahal saya sudah ingin segera menambah hafalan. Hingga kemudian, hati saya tergerak untuk bergabung dengan komunitas One Day One Juz. 

Saya sudah mendapat ajakan bergabung sejak lama, apalagi kebanyakan teman-teman aktivis bergabung di sini. Tapi, pada waktu itu saya menolak dengan alasan harus mengejar target hafalan. Yah.. ternyata saya merasa waktu saya kurang efektif karena menghafal lebih besar tantangan ’malas’nya, apalagi tanpa musyrifah untuk menyimak. Baiklah, daripada waktu saya terbuang sia-sia (karena banyak tidur dan nonton tipi), bismillah.. dengan ini saya nyatakan bergabung dengan grup ODOJ via whatsapp (ketok palu, tok tok tok!)
Sumber: google.com
Waaaaaaah.. Subhanallah senangnya bisa gabuuung \(^.^)/
Kenal dengan teman-teman dari berbagai daerah dengan berbagai cerita, bahkan saling memotivasi untuk tilawah tidak hanya satu juz sehari, share info dan nasehat-nasehat untuk berbuat baik.. dan yang pasti saya punya kesibukan baru: tilawah.

Tilawah.. tilawah.. tilawah.. ternyata tilawah ampuh mengusir galau! Karena asyiknya, terkadang saya menyesal ketika bepergian dan tidak membawa Al quran. Padahal kan bisa menunggu (jemputan, misalnya) sambil tilawah.. Dan alhamdulillah.. Berkat motivasi dari ODOJ saya bisa mengkhatamkan alquran 3x selama ramadhan. Dan air mata saya kali ini, benar-benar air mata bahagia.. Sebelumnya saya tidak pernah khatam lebih dari sekali selama ramadhan..

Tak lama berselang, Faizah, teman saya seasrama tahfidz dulu men-chat, mengajak gabung ke grup One Day One Line menghafal alquran. Yeeeeeee.. Alhamdulillah nambah lagi semangat hafalannya. Apalagi sistem setorannya perhari. Meski via audio dan tidak bertatap langsung dengan penyimak hafalan, saya merasakan efektifnya grup ini.

Yah.. Berinteraksi dengan Al Quran memang membahagiakan. Satu hal yang kemudian saya sadari, bahwa bercita-cita menjadi penghafal Al Quran tidak bisa hanya mengejar waktu. Memangnya, kalau bisa menghafal 30 juz dalam setahun, sudah berhenti sampai di situ? Ya tidak. Interaksi dengan Al Quran harus terus-menerus. Apalagi 'hafidz' yang artinya penjaga, tidak cukup hanya lancar menyebutkan ayat ini surat ini, juz ini.. Kita harus pula meresapi makna ayatnya, bagaimana sejarah ayat itu diturunkan. Ah.. Menjadi hafidz adalah sebuah perjalanan panjang. Maka, tetap berada di lingkungan para pecinta Al Quran adalah salah satu cara untuk tetap bersemangat mempelajari, mentadabburi, dan menghafalkannya. Ntah itu melalui ODOJ, ODOL, maupun komunitas yang lainnya.

Semoga kita selalu dimudahkan untuk menjadi ahlul Quran ya :)

0 komentar:

Posting Komentar