Social Icons

30 September 2014

Cake untuk Mama

Coba tebak, berapa usia si pembuat cake? 5 tahun? Yak, salaaah.. Yang dekor cake ini usianya sudah hampir 25 tahun ((^.^’)

Sudah sejak awal September saya ngulik dekorasi cake yang elegan terutama untuk ibu-ibu usia 50 tahunan (mama saya-red). Sampai ke toko buku segala cari inspirasinya. Dan di bayangan saya wow bangeeet lah pokoknya ini cake.

Yeah.. Sampai di hari H, ternyata kesibukan semakin merajalela, apalagi ini hari-hari awal masuk di tahun ajaran baru. Alhasil setelah berpagi membereskan rumah, saya langsung ngampus untuk wawancara mahasiswa baru. Kyaaa.. Tersisa 2 jam di sore hari untuk bikin cake. Kalau bikinnya besok ga seru T _T

Awalnya saya ingin pakai krim untuk hiasan. Tapi menurut pengalaman, krim ini terbuang percuma pada akhirnya. Jadi saya pakai cokelat untuk lapisan sponge-nya. Nyari strawberry ga keburuuu .. Jadilah choco chip warna yang saya pakai daaan.. Yah, beginilah hasilnya pemirsah ((^.^’) not bad lah yaaa..

Maksud hati bikin love di tengah, tapi pas ditabur in choco chip nya pada tenggelam haha.. Ya sudah. Apa adanya deh. Kata Mama enak ko, hihihi.. I’m not good enough in art, really.

Barakallah fii umrik, Mama sayang.. Semoga kebaikan untuk Mama, di dunia dan di akhirat. Cake itu ga wajib. Tapi seneng aja kalau bisa ngasih Mama olahan tangan sendiri (^^,)v

Resepnya sama dengan cake yang dulu saya buat untuk Bayu ^^
Readmore - Cake untuk Mama

29 September 2014

Episode Lain Tilang-menilang

Senin siang gembira. Saya sedang melaju bersama revo hijau kesayangan dengan aman damai sentosa ketika tiba-tiba retina mata saya menangkap sosok bapak-bapak polisi yang sedang bertugas mengontrol kelengkapan berkendara warga sekitar. Hohoho.. Gabungan ya.. Dengan wajah tanpa dosa, saya pun lewat saja. Tak disangka, salah satu bapak polisi meminta saya berhenti. Hlo.. Salah saya apa :O

google.com

 Saya berhenti, tersenyum elegan, kemudian menepi. Kondisi fisik motor lengkap. Saya berhelm. Aman.

"Mau kuliah ya.." tanya bapaknya alih-alih memberi salam hormat seperti pak polisi lain.
"Wah.. Ga kuliah lagi saya, Pak," saya tertawa kecil, masih elegan. "Mau ngajar.."

"Oh.. Awet muda kayanya," komentar Bapaknya sembari menanti saya mengeluarkan SIM dan STNK.
"Hehe.. Sudah menikah saya, Pak." Masih santai dan tersenyum layaknya seorang dosen ‪#‎uhuk‬.

"Dari Pringsewu?" tanya beliau saat saya menyerahkan SIM. Saya mengangguk sembari terus merogoh setiap celah di tas. Hyak ampun.. Saya tidak membawa STNK. Dan bisa gawaaat kalau bapaknya tahu surat penting itu tak saya bawa.
"Sebentar ya, Pak.." saya mengambil ponsel dengan tetap tersenyum elegan supaya bapaknya tidak curiga.

"Halo, assalamualaikum," terdengar suara dari seberang.
"Waalaikumussalam. Bee.. Bawain STNK ke dekat pom bensin STKIP ya.. Aya lupa bawa. Ini disuruh Pak Polisi ambil," nada suara saya tenang mencerminkan kedamaian supaya pak polisi tak curiga.

"Ga bawa STNK ya.." tanya pak polisi yang mendengar saya berbicara di telepon. Yah.. Ketahuan.
"Iya Pak, maaf. Motornya tukar pakai dengan suami soalnya. STNK ada di dompet beliau," wajah saya masih innocent sekali.
"Rumahnya di mana?"

"Dekat kok, Pak. Di belakang SMP 10. Tunggu 5 menit ya Pak ya," kata saya seolah pak polisi harus maklum karena saya pejabat negara atau tokoh elit lainnya.

Tik tok tik tok. Kami menunggu. Tiba-tiba terasa garing sekali. Kami saling diam. Tak ada adu argumen seperti bapak-bapak sopir truk di samping saya yang berusaha menyogok, tak ada suara marah bapak polisi yang merasa harga dirinya dihina, tak ada caci maki sopir yang tak kunjung diloloskan dari sandera..

"Udah Mbak, ini bawa aja." Pak polisi terlihat menyerah dan mengembalikan SIM saya. "Besok jangan lupa bawa STNK ya.."
Ha? Gitu doang? Kayanya pak polisi kecewa karena dari tadi krik krik saja menghadapi saya. Tapi cepat-cepat saya menjawab, "Iya, Pak. Makasih, Pak.."

Dan beliau meminta kendaraan lain mengalah, memberi jalan untuk saya lewat. Sementara pengendara yang lain masih tertahan oleh polisi yang garang.

Dan sepanjang jalan saya garuk-garuk kepala. Maaf Pak, agaknya senyum elegan saya menghancurkan mimpi Bapak untuk membuat drama di senin siang gembira (’.’)a

Episode lain ada di sini.
Readmore - Episode Lain Tilang-menilang

27 September 2014

Aku Ingin Menikah Denganmu, Lagi

Aku ingin menikah denganmu, sekali lagi..
Karena cinta kita tak pernah sama. Ianya timbul kemudian tenggelam. Seiring dengan tawa, tangis, juga amarah kita yang datang bergantian.

Aku ingin menikah denganmu lagi..
Ada yang salah dengan kita, ada yang salah dengan niat kita. Sementara jalan yang kita titi adalah sama. Kita yang salah.. Kita yang harus membenahi kembali perahu yang berbalik arah.

Aku ingin menikah denganmu lagi..
Kita harus terus belajar untuk menjaga diri, melindungi yang lain. Aku adalah pakaian bagimu dan kau adalah pakaian bagiku.

Aku ingin menikah denganmu lagi..
Dengan Allah dan malaikat sebagai saksinya. Dengan Alquran sebagai maharnya. Aku ingin anak-anak kita kelak menyaksikan betapa orang tua mereka menginginkan keluarga kita adalah ahlul Quran..

Aku ingin menikah denganmu lagi..
Karena aku memutuskan untuk tetap di sini seberat apapun, sesulit apapun. Engkau yang Allah pilihkan untukku, dan aku ingin kita tetap bersama di rumah yang Allah bangunkan untuk kita, di surga.

Aku ingin menikah denganmu, lagi, lagi, lagi.. Hingga waktu berhenti berputar, hingga Allah tetapkan bahwa kita telah lulus setiap ujianNya.
google.com

Readmore - Aku Ingin Menikah Denganmu, Lagi

12 September 2014

Tahfidz Bersama Mahasiswa

"Sodaqallaahul’adziim.." Ia mengakhiri setoran hafalan hari itu. Saya pun menggerakkan pena untuk menuliskan nilai di buku rapor.

"Yaaah.. Ibuuu.." rengeknya ketika saya baru menorehkan huruf J. Ia tahu saya akan menuliskan Jayyid (baik) atau Jayyid Jiddan (baik sekali) dan bukanlah mumtaz (sempurna) seperti yang ia harapkan.

"Hehe," saya tersenyum saja. "Ada yang salah siy tadi.." Padahal di antara teman-teman, rapornya lah yang paling banyak menyimpan nilai mumtaz.

Dan seketika saya merindukan asrama 
google.com
Dulu, saya pun begitu. Sedikit ’ngambeg’ saat Ustadzah menorehkan nilai tak memuaskan. Kecewa pada diri sendiri yang tidak bisa menghafal lebih baik di hari itu.

Semangat anak-anaaak (^^,)9

Begitulah dinamika menghafal Al Quran. Tak linear sebagaimana ekspektasi kita. Seringkali menurun bahkan tak jarang dihinggapi putus asa dan ingin menyerah. Beruntunglah kalian yang memilih menjadi berbeda, memilih tetap menghafal sekalipun dihinggapi kesibukan setiap harinya. Semoga barokah Al Quran mewarnai hari-hari kalian, menjadi tabungan kebaikan di akhirat kelak.
Uhibbukunna, fillah..
Readmore - Tahfidz Bersama Mahasiswa

1 September 2014

Aquaponik untuk Halaman Belakang

Bahagianyaaa.. Rumah sudah bisa ditempati \(^.^)/
Belum selesai sebetulnya, belum ada plafon dan lantainya juga masih semen kasar. Tapi, saran Papa kami paling tidak harus menunggu setahun dulu untuk memastikan lantai kuat dan siap dikeramik. Supaya ga retak atau bolong karena tanah timbunannya kurang padat.

Selama menunggu setahun itu, sembari menabung, saya ingin menata halaman depan dan belakang dulu, hihihi.. Amatir siy, tapi boleh kan punya cita-cita. Halaman depan nanti kita bahas di ruang yang lain. Kali ini saya ingiiin sekali cerita tentang aquaponik.
sumber: google.com
Sekitar 7x3 meter halaman yang tersisa di belakang rumah. Padahal saya bercita-cita menanam banyaaaaaaak sekali jenis tanaman, terutama sayur-mayur dan bumbu dapur, hihihi... Di kota begini harganya melambung, bikin nangis setiap kali belanja ke warung.

Awalnya saya ingin menanam dengan teknik hidroponik, tapi kok ingin punya kolam ikan juga yaaa... Dan paaas banget tempo hari lihat liputan di televisi tentang aquaponik. Ternyata bisa digabungkan  ((^.^')

Teknik aquaponik ini selain menghemat tempat, baik juga untuk kolam ikannya. Air terus diputar dari kolam ke media tanam dan kembali ke kolam. Jadi, media tanam juga berfungsi sebagai penyaring. Makanya, cocok untuk berbagai jenis ikan, termasuk ikan yang agak rewel dengan air (air harus selalu bersih) seperti ikan mas. Tapi, suami sukanya lele siy ('.')a
sumber: google.com
Hanya tanaman tertentu yang cocok dengan teknik hidroponik, misalnya sayuran hijau. Kalau cabe, tomat, daun bawang, dan bumbu dapur lain tetap butuh tanah untuk menanamnya. Mungkin pakai polybag atau paralon yang diisi tanah seperti ini ya nanti...

sumber: google.com
sumber: google.com















Mudah-mudahan benar-benar bisa terealisasi (^.^)v
Readmore - Aquaponik untuk Halaman Belakang