Social Icons

29 September 2014

Episode Lain Tilang-menilang

Senin siang gembira. Saya sedang melaju bersama revo hijau kesayangan dengan aman damai sentosa ketika tiba-tiba retina mata saya menangkap sosok bapak-bapak polisi yang sedang bertugas mengontrol kelengkapan berkendara warga sekitar. Hohoho.. Gabungan ya.. Dengan wajah tanpa dosa, saya pun lewat saja. Tak disangka, salah satu bapak polisi meminta saya berhenti. Hlo.. Salah saya apa :O

google.com

 Saya berhenti, tersenyum elegan, kemudian menepi. Kondisi fisik motor lengkap. Saya berhelm. Aman.

"Mau kuliah ya.." tanya bapaknya alih-alih memberi salam hormat seperti pak polisi lain.
"Wah.. Ga kuliah lagi saya, Pak," saya tertawa kecil, masih elegan. "Mau ngajar.."

"Oh.. Awet muda kayanya," komentar Bapaknya sembari menanti saya mengeluarkan SIM dan STNK.
"Hehe.. Sudah menikah saya, Pak." Masih santai dan tersenyum layaknya seorang dosen ‪#‎uhuk‬.

"Dari Pringsewu?" tanya beliau saat saya menyerahkan SIM. Saya mengangguk sembari terus merogoh setiap celah di tas. Hyak ampun.. Saya tidak membawa STNK. Dan bisa gawaaat kalau bapaknya tahu surat penting itu tak saya bawa.
"Sebentar ya, Pak.." saya mengambil ponsel dengan tetap tersenyum elegan supaya bapaknya tidak curiga.

"Halo, assalamualaikum," terdengar suara dari seberang.
"Waalaikumussalam. Bee.. Bawain STNK ke dekat pom bensin STKIP ya.. Aya lupa bawa. Ini disuruh Pak Polisi ambil," nada suara saya tenang mencerminkan kedamaian supaya pak polisi tak curiga.

"Ga bawa STNK ya.." tanya pak polisi yang mendengar saya berbicara di telepon. Yah.. Ketahuan.
"Iya Pak, maaf. Motornya tukar pakai dengan suami soalnya. STNK ada di dompet beliau," wajah saya masih innocent sekali.
"Rumahnya di mana?"

"Dekat kok, Pak. Di belakang SMP 10. Tunggu 5 menit ya Pak ya," kata saya seolah pak polisi harus maklum karena saya pejabat negara atau tokoh elit lainnya.

Tik tok tik tok. Kami menunggu. Tiba-tiba terasa garing sekali. Kami saling diam. Tak ada adu argumen seperti bapak-bapak sopir truk di samping saya yang berusaha menyogok, tak ada suara marah bapak polisi yang merasa harga dirinya dihina, tak ada caci maki sopir yang tak kunjung diloloskan dari sandera..

"Udah Mbak, ini bawa aja." Pak polisi terlihat menyerah dan mengembalikan SIM saya. "Besok jangan lupa bawa STNK ya.."
Ha? Gitu doang? Kayanya pak polisi kecewa karena dari tadi krik krik saja menghadapi saya. Tapi cepat-cepat saya menjawab, "Iya, Pak. Makasih, Pak.."

Dan beliau meminta kendaraan lain mengalah, memberi jalan untuk saya lewat. Sementara pengendara yang lain masih tertahan oleh polisi yang garang.

Dan sepanjang jalan saya garuk-garuk kepala. Maaf Pak, agaknya senyum elegan saya menghancurkan mimpi Bapak untuk membuat drama di senin siang gembira (’.’)a

Episode lain ada di sini.

0 komentar:

Posting Komentar