Social Icons

16 November 2014

Seni Menawar

Salah satu kelemahan saya (yang ga ibu-ibu banget) adalah ga bisa nawar ((^.^’)
Ntah saya yang terlalu baik atau memang lugu, terkadang ada rasa ga tega. Seperti tadi ketika ke pasar. Saya merasa tidak masalah dengan membeli jagung dua ribu perbonggol, toh ukurannya memang besar-besar. Tapi, ibu di samping saya menawar dengan nada tinggi, "Sewu mangatus wae lah, Mas, koyo ngene iki kok!" padahal secara fisik jagungnya sehat. 
google.com

Tiba-tiba saya teringat dengan kisah seorang tukang becak di Jogja. Beliau memiliki dua prinsip, jangan pernah menyakiti orang dan beri makan anak istri dari rizki yang halal. Beliau adalah tukang becak yang tak pernah pasang tarif. Misal ada ibu-ibu mau ke Malioboro, "Sepuluh ribu ya, Pak?" beliau mengangguk. Menurut beliau jika memprotes, "Lima belas, Bu!" itu sudah menyakiti orang. Jadi, jikapun misal ibu-ibunya menawar, "Malioboro lima ribu ya, Pak?" beliau akan mengiyakan saja. Dan tahukah hasil dari prinsip luar biasa itu? Kedua anak laki-lakinya menjadi hafidz dan menjadi orang hebat (secara jabatan dan finansial) di kota besar. Subhanallah.. Selalu ada orang-orang yang membuat kita iri ya di luar sana..

Semoga setiap kebaikan yang kita niatkan membawa kebaikan pula untuk orang banyak :-)

0 komentar:

Posting Komentar