Social Icons

24 Desember 2015

Melahirkan, Sebuah Proses Menjadi Per-empu-an

"..tidak ada yang lebih mempengaruhi diri kecuali sugesti."

***

Ini adalah untuk pertama kalinya saya merasakan kepayahan yang bertambah-tambah. Meski begitu banyak dukungan telah diberikan, tetap saja rasa 'tidak sanggup' itu menghantui.

Berawal dari kontrol rutin ke dokter kandungan di mana usia janin kami sudah memasuki 37 pekan. Sedikit terkejut ketika mengetahui hasil USG bahwa berat badannya sudah mencapai 3,4 kg (naik 0,8kg dalam sepuluh hari) sementara hari perkiraan lahir masih dua pekan lagi. "Ibu sudah harus mulai menjaga makan," kata dokter kami saat itu. Dan itu adalah ketakutan saya yang pertama. Saya mengazamkan untuk bersalin normal dan khawatir tidak bisa melaluinya karena berat badan bayi kami terlalu besar.

***

"..kita tetap membutuhkan dukungan, sekalipun hanya tepukan di bahu."

***

Berjalan kaki setiap pagi dan sore, berkeliling lapangan ataupun memutari ruangan-ruangan di rumah kecil kami, senam, berenang, juga melakukan induksi alami dengan memakan nanas dan durian (dengan dosis tidak berlebihan) sebagai ikhtiar untuk mempercepat proses persalinan. Bahkan teman menganjurkan untuk bekam di titik tertentu untuk memicu kontraksi. Tapi karena beresiko, saya hanya menyanggupi melakukan refleksi.

Beberapa kali saya bertanya kepada suami, "..aku bisa kan?", juga kepada rekan-rekan dosen di kampus. Betapa sulit menutupi rasa takut itu. Mereka terus mendukung dan meminta berbaik sangka.

Dan dalam kepasrahan.. dalam doa-doa, yang terucap adalah, "..ya Allah, aku ketakutan. Maka mudahkan, lancarkan, kuatkan.."

***

"..bahwa persalinan mengajarkan banyak hal kepada perempuan, tentang sabar, tentang berjuang, tentang berbaik sangka, tentang pertolongan Rabbnya yang begitu dirindukan, juga tentang syukur."

***

Sabtu, 19 Desember 2015 jam 11 siang, saya merasakan salah satu tanda awal persalinan. Maka kami bersegera menuju rumah bersalin untuk dicek. Bukaan satu, kata bidan yang memeriksa. Saya pun bersemangat karena waktu kelahiran semakin dekat..

Kami memutuskan untuk melanjutkan aktivitas di rumah dan mengikhtiarkan banyak hal agar ada peningkatan kontraksi. Saya pun segera membenahi rumah agar ketika bersalin nanti, rumah dalam kondisi rapi dan bersih. Malam pun saya masih berjalan-jalan mengelilingi ruangan demi ruangan agar kepala bayi segera turun ke panggul, berdiri jongkok, merangkak, pose butterfly, meminum minyak zaitun untuk membantu melumaskan, makan kurma, pun meminta suami memijat di titik tertentu untuk membantu meningkatkan kontraksi. Hingga larut malam, saya tidak bisa benar-benar tidur.

Jam tiga dini hari, kontraksi semakin kuat. Sejam menghitung, ternyata sudah datang perlima belas sekali. Awalnya kami ingin bada shubuh saja ke rumah bersalin, tapi karena (maaf) rahim saya sudah mengeluarkan lendir dan bercak darah, kami bergegas ke rumah bersalin.

"Belum ada pembukaan ini, Bu," kata bidan jaga. Saya sedikit kecewa. "Mungkin karena jari saya dan jari bidan jaga siang kemarin berbeda ukuran, jadi hasil ceknya berbeda.."

Kami pun kembali pulang.

***

"..yang membuat segala sesuatu menjadi berat adalah, kita tak pernah tahu akhir dari sebuah perjalanan juga kapan waktunya tiba di tujuan."

***

Ahad pagi. Suami menghibur dengan mengajak berjalan-jalan ke PKOR Bandarlampung, juga ditemani Mama dan adik bungsu. Kami membeli nanas, lagi-lagi untuk induksi alami. Sementara saya merasakan kontraksi yang semakin kuat.

Siang.. sore.. kontraksi semakin kuat. Saya menghitung. Datangnya lima menit sekali. Bada Maghrib kami kembali ke rumah bersalin.

"Masih kuncup, Ibu.."

Ya Allah..

Saya semakin down. Kontraksi semakin kuat dan kuat, tapi hasil pemeriksaan bidan benar-benar membuat kecewa. Tapi, jam 9 malam, setelah ikut mengantarkan Mbah Putri pulang, menjemput kakak ipar dari stasiun (suami mengajak saya untuk menghibur), setibanya di rumah, kontraksi semakin sering dan kuat.

"Kita ke rumah sakit lagi aja, bidan bilang apa, kita tetap tunggu," kata Mama akhirnya.

***

"..betapa lemahnya kita, betapa kecilnya kita, betapa tidak berdayanya kita tanpa pertolongan Allah."

***

Tengah malam, saat posisi berbaring dan duduk tak lagi membuat nyaman, saat berdiri pun lutut tak sanggup menopang, saat kontraksi semakin kuat dan kuat, saat 'menarik napas panjang dan dihembuskan melalui mulut' tak lagi bisa teratur.. saya pun tak tahan untuk tidak mengerang.

"Ya Allah.. tolong.."

Seberat ini dan masih bukaan dua.

"Siapa lagi yang bisa menolong jika bukan Engkau.."

Sekalipun telah ditemani suami juga Mama, rasanya dekat sekali dengan putus asa.

Berkali-kali meminta maaf membuat Mama menangis dan memeluk saya, "Banyak istighfar ya.. Mama sudah ikhlaskan kalaupun Lia ada salah. Tapi kita ga tau apakah sudah Allah ampuni.."

Suami pun ikut menangis meski tangannya terus menggengam tangan saya.

Ia berdiri saat sepertiga malam tiba. Mendoakan saya, salah satunya. Sementara saya terus berdzikir, berdoa apapun yang saya bisa, agar kepayahan ini segera berakhir. Setidaknya, Allah beri tambahan kekuatan jika saya semakin tak sanggup menahan.

Shubuh. Bukaan tiga. Saya kembali memekik di dalam hati. Semalaman dan perjalanan ini masih jauh sekali dari ujungnya.

Jam enam pagi, bukaan empat.

"Yang kuat, Nak.. sebentar lagi InsyaAllah," Mama membisiki saya.

Saya menangis. Melihat wajah suami dan Mama yang terlihat lelah karena bergantian berjaga semalaman. Maka saya mengazamkan diri agar kuat, agar pengorbanan mereka tak sia-sia. Setiap kali kontraksi (yang semakin dahsyat) itu tiba, saya menggenggam tangan Mama dan meminta suami mengusap-usap punggung bagian bawah, sementara saya berusaha menenangkan diri dengan mengatur napas sembari terus berdoa dan mengucapkan dzikir-dzikir mudah yang bisa diucapkan.

***

"..ribuan teori yang sudah dipelajari, seolah menguap begitu saja saat menjalani ujian."

***

Jam sembilan pagi. Bukaan lima.

"Saya pindahkan ke ruang bersalin ya, Bu.."

Saya semakin berhusnudzon. Sebentar lagi.. sebentar lagi..

Jam sepuluh pagi. Seolah ada yang mendesak-desak dari dalam, kuat sekali, berkali-kali..

"Mamaaa.. ini bukaan berapaaaaa..?" tanya saya setengah berteriak.

Bidan tak kunjung datang karena melayani pasien bersalin lainnya (total hari itu adalah 14 pasien).

Dorongan itu datang lagi. "Mamaaaaa.. astaghfirullaaaaah.." Mama mendekap saya untuk meredam agar teriakan itu tidak menggema ke seluruh ruangan. Sementara suami bergegas memanggil bidan.

"Masih lima, Bu.. Kalau Ibu ngejan sekarang, jalan lahirnya bisa bengkak, nanti ga bisa normal," kata Bidannya. "Ibu atur napas ya.. Kaya orang kepedesan. Karena kalau teriak, nanti tenaganya habis ga bisa ngejan."

Bismillah.. Saya bisa.

Dan.. Saat telah bersiap mengatur napas, setelah selama beberapa detik menahan sakitnya, dorongan itu semakin kuat, "Astaghfirullaaaaaaaah.." dan cairan bening itu mulai membasahi kain yang saya kenakan.

"Mama.. ini ketuban bukan.."  saya kembali menangis.

Bidan kembali datang. "Delapan, Bu.. Tahan dulu ya.."

"Dia dorong sendiri.. ga bisa ditahaaan.."

Dalam sisa-sisa tenaga, dalam batas antara sabar dan tidak, kuat dan tidak, bahkan nyaris berputus asa.. dalam menahan dorongan yang semakin tak dapat ditahan..

Bidan memaksakan bersalin dalam kondisi bukaan yang belum lengkap.

***

"..satu kenikmatan yang diberikan, dapat menghapus seribu kepayahan."

***

Segala macam upaya yang ditempuh agar mampu bersalin normal, mudah, lancar, bahkan dengan membeli banyak buku mahal, mengikuti berbagai kelas senam ataupun pelatihan, tak akan benar-benar membantu saat persalinan jika kita tidak menggantungkan diri kepada Yang Maha Memberi Pertolongan.

Dalam kondisi lelah, dengan tubuh bergetar karena menahan sakit yang berkepanjangan, dalam kondisi nyaris berputus asa dan merasa tidak sanggup..

Seorang bayi mungil, dengan tangisnya yang nyaring, dalam kondisi natural tanpa dibersihkan, diletakkan di dada saya. Lelaki tangguh yang menemani saya sepanjang persalinan mengecup kening istrinya sembari menangis, "Aya hebat.." dan saya mengucap syukur tak henti-henti. Akhirnya..

Meski masih harus menahan sedikit nyeri saat ari-ari bayi dikeluarkan dan ketika belasan robekan dijahit oleh sang Bidan, kelegaan luar biasa telah menyelimuti atmosfer ruangan bersalin.

21 Desember 2015, 11.40, laki-laki, 3 kilogram, dan 47 centimeter.

Semoga shalih nan ahlul quran, Sayang..

Uinseann Altan El Hadziq. Diambil dari tiga bahasa, Irlandia, Turki, dan Arab. Uinseann berarti penakluk. Kelak ia adalah seorang kesatria yang menjadi pelopor dan pembawa kemenangan dalam peperangan. Altan berarti fajar, yang terbit setelah malam yang pekat. Ia adalah pembawa solusi dalam setiap permasalahan. El Hadziq, cerdas. Bahwa dengan kecerdasan, ia mampu memberikan bakti terbaik untuk umat.

***

Jika kau seorang perempuan dan telah melewati perjuangan melahirkan, kau akan tahu mengapa menyakiti ibu begitu dimurkai Allah. Jika kau seorang laki-laki yang menyaksikan istrimu melahirkan, kau akan mengerti mengapa surga berada di telapak kaki ibu.

Semoga kita mampu untuk terus belajar, menjadi putra/putri terbaik dari orang tua kita.. Semoga kita dimampukan, menjadi orang tua terbaik bagi anak-anak kita..

Readmore - Melahirkan, Sebuah Proses Menjadi Per-empu-an

30 November 2015

Perempuan Bekerja, Sebuah Ruang Mengoptimalkan Potensi

Jika perempuan bekerja tujuan utamanya adalah mencari nafkah, saya kurang sependapat. Bagi saya, mencari nafkah adalah mutlak kewajiban suami. Sedangkan perempuan memiliki tugas utama sebagai istri juga seorang ibu.

Tetapi.. Seorang perempuan pun membutuhkan ruang untuk berekspresi, ruang untuk mengembangkan potensi, juga berkontribusi untuk masyarakat. Karena nyatanya, kita (perempuan) lebih nyaman jika perempuan pulalah yang memeriksa kesehatan kita (yang kadang kala harus merambah hingga anggota tubuh paling pribadi). Kita merasa lebih aman jika perempuan jugalah yang mengantarkan kita, selain suami, ntah dengan ojeg ataupun taksi. Dan perempuan pula, yang dengan sabar dan tekunnya mampu membina anak-anak belajar ataupun mengaji, terutama di sekolah-sekolah formal.

Bayangkan, betapa cerdasnya anak-anak yang dilahirkan dari rahim seseorang yang kesehariannya adalah mengajarkan ilmu juga mengamalkan ilmu. Betapa dekatnya anak-anak dengan Tuhan ketika sedari dalam kandungan ibu telah mengajarkan untuk beribadah juga bermuamalah. Maka apapun aktivitasnya, seorang ibu tetaplah pendidik utama anak-anaknya.

Maka, jangan pernah mencibir perempuan bekerja. Mereka tidak sedang mengesampingkan keluarga, tetapi berusaha berkhikmad dengan segala potensinya. Meski tak dipungkiri, ada kalanya kondisi keluarga memaksakan perempuan mencari nafkah, tetapi yakinlah, hati kecil mereka tetap menginginkan yang terbaik bagi keluarga, terutama anak-anak.

Kelak, anak-anak akan tahu arti kerja keras ketika melihat ibunya tetap sigap dengan pekerjaan rumah, juga mengurusi setiap keperluan suami ataupun anak-anak, tetapi tetap menyisihkan energinya untuk juga mengabdi pada masyarakat. Kelak, anak-anak akan tumbuh dewasa dengan melihat bagaimana ibu mereka mencontohkan bahwa waktu mereka sungguh berharga setiap detiknya.

Berilah dukungan untuk para perempuan bekerja. Juga ingatkan, jika suatu waktu ia terlena dan lupa akan tugas utamanya di rumah :)

Readmore - Perempuan Bekerja, Sebuah Ruang Mengoptimalkan Potensi

8 Oktober 2015

Melahirkan Normal vs Cesar

Sejak dulu yang ada di pikiran saya, melahirkan normal adalah cara terbaik bagi perempuan untuk (mengawali belajar) menjadi seorang ibu. Hingga obrolan singkat dengan salah satu teman meruntuhkan statement itu.

Beliau salah satu senior saya dalam kepengurusan grup One Day One Line menghafal Quran. 6 tahun menikah dan baru dikaruniai buah hati. Sempat terkejut dengan kabar kelahiran putrinya yang terbilang cukup besar, 4kg, yang rupanya agak sulit diperjuangkan untuk normal. Padahal pembukaan sudah lengkap, tapi qodarullah sang buah hati tidak bisa keluar hingga diputuskan untuk cesar.

"Kenapa cesar, Mbak?" tanya saya seketika.

"Bayinya terlalu besar, Dek, susah keluar." Saya masih menanti jawaban berikutnya. "Pilihannya vacuum atau cesar dan saya pilih cesar."

Cesar. Satu kata yang saaangat ingin saya buang jauh-jauh dalam kamus kehidupan saya. Tak ingin membayangkan. Karena saya memiliki mimpi ditemani tiga hingga lima buah hati kelak. Sementara cesar begitu beresiko.

"Kenapa bukan vacuum?" pertanyaan saya mungkin terdengar menjustifikasi.

"Kasihan dede'nya.. Bentuk kepalanya mungkin akan sulit diperbaiki nanti. Dan kabarnya berpengaruh juga ke IQnya." Serius, saya baru tahu resiko vacuum dari beliau.

"Yah.. Daripada dede'nya kenapa-kenapa, lebih baik ibunya yang berkorban."

Deg! Jawaban yang benar-benar membuat saya tersentak.

Tiba-tiba saya merasa begitu kecil.. betapa cara berpikir saya sangat sempit. Nyatanya pikiran saya begitu dangkal dan justru sangat egois. Memandang cesar hanya dengan sebelah mata. Mungkin karena tak setuju dengan opini, "Enakan cesar.. ga kesakitan karena mules melahirkan" dan sebagainya. Hingga sempat sedikit kurang menyukai para ibu yang memutuskan cesar saat melahirkan.

Mbak Shaliha ini mengajarkan saya tentang naluri ibu yang mendahulukan keselamatan buah hatinya. Beliau merasakan keduanya, kesakitan luar biasa ketika akan melahirkan, pun pemulihan pasca cesar yang pastinya tidak sebentar. Bahwa keputusan cesar bukan semata-mata memilih "melahirkan dengan cara yang lebih mudah".

Dan saya.. begitu malu dengan diri saya sendiri.

Semoga masih ada waktu untuk memperbaiki diri, hingga nanti tiba waktunya ujian awal menjadi seorang ibu..

Readmore - Melahirkan Normal vs Cesar

3 Oktober 2015

Pizza 15 Menit

Senangnya gabung di grup masak adalah.. Never ending inspiration \(^.^)/ setiap hari adaaa aja postingan yang bikin mupeng untuk nyobain di rumah.

Kali ini saya latah ikut bikin Pizza 15 Menit. Kebetulan habis order Mozarella Indrakila, jadi pengen banget cepat-eksekusi, hihihi..

Resep (dari Mbak ani Mulyani) sedikit saya modifikasi:
~10 sdm terigu protein tinggi
~sejumput garam
~1 sdt minyak sayur
~1 sdt ragi instan (saya pakai fermipan)
~1 sdm susu (saya pakai kental manis)
~80 ml air hangat
~topping sesuka hati :D

Caranya gampaaang.. Semua bahan dasarnya dicampur jadi satu, tata di teflon, beri saus dan aneka topping, tutup, panggang.

Saya pakai panci anti lengket, hehehe.. Soalnya teflon saya datar dan ga ada tutupnya. Takut mozarellanya ga meleleh :D

Karena ga ada daging-dagingan, toppingnya hanya saya beri saus, jagung yang sudah dipipil, dan mozarella. Saya panggang dengan api keciiiiil banget supaya panas merata dan dasar pizzanya ga gosong. Butuh 30 menit sampai matang.

Dan.. Taraaa.. Pizzanya ngembang (selayaknya roti) dan mozarellanya meleleeeh muluuur kalau ditarik.

Baru matang, saya sudah habis tiga potong XD

Readmore - Pizza 15 Menit

15 September 2015

Ternak Ayam Nuansa Alquran

Ayam kami, beberapa hari setelah diambil dari tempat penetasan. Sempat ada dua ekor yang mati dan satu ekor pincang karena terinjak ayam-ayam lain. Tapi, mendengar seorang teman bercerita tentang salah satu peternakan ayam di Jember yang memperdengarkan Alquran 24 jam dan ayam-ayamnya semakin produktif, kami tertarik mencoba. Setelah ayam-ayam dipindahkan ke kandang yang lebih besar, kami menyediakan murottal yang sementara masih diputar melalui aplikasi mp3 ponsel jadul kami.

Alhamdulillah.. Tidak ada lagi ayam yang sakit (bahkan mati). Kami tak pernah memberi vaksin, hanya pakan dan air yang rutin diberi vitamin. Sekarang, terhitung kurang lebih 15 hari, beratnya sudah 600 gram-an. Meski saya kurang paham standar pertumbuhan ayam, saya yakin murottal yang kami sediakan membawa pengaruh. Mungkin ke keberkahan daging yang akan dikonsumsi? :)

Readmore - Ternak Ayam Nuansa Alquran

6 September 2015

Churros

Pertama kenal Churros dari Via, salah satu teman di facebook. Waktu itu ada food challenge dan Via pamer Churros untuk food challenge nya. Yang bikin penasaran, pertama karena bahannya sedikit dan praktis, plus agak mirip donat tapi ga perlu nguleni sampe keringetan, hihihi.. Tapi yaaa berhubung resep lain seliweran dan lebih bikin penasaran, akhirnya baru sekarang semoat eksekusi Churrosnya.

Ini saya copas dari fb Via ya, dengan sedikit perubahan ^^

~* Resep Churros *~

Bahan:
-250 ml air
-50 gram butter/margarin
-1 sdm gula pasir
-1/4 sdt garam
-150 gram terigu protein sedang/all purpose flour, ayak
-1/4 sdt vanilla
-1 butir telur ukuran besar, kocok lepas
-Minyak goreng yang banyak untuk menggoreng churros

Bahan taburan:
-gula pasir halus
-cokelat bubuk

Cara membuat:

1. Masak air, butter/margarin, gula dan garam hingga mendidih dan butter/margarin meleleh. Matikan api. Masukkan terigu yang sudah diayak dan vanilla. Aduk cepat. Nyalakan kembali api kecil, aduk-aduk hingga adonan licin dan kalis (tidak menempel di panci). Angkat. Biarkan sampai agak hangat.

2. Masukkan telur, aduk rata dengan menggunakan sendok kayu. Adonan akhir adalah adonan yang lengket tapi tidak terlalu lembek seperti adonan kue sus. Bila adonan terasa masih agak susah dispuit, tambahkan telurnya (menjadi 2 butir) karena ukuran telur berbeda-beda.

3. Masukkan adonan ke dalam piping bag/kantong segitiga hingga adonan habis. Gunting ujungnya lalu masukkan lagi ke dalam piping bag/kantong segitiga yang sudah diberi spuit bintang ukuran besar.

4. Panaskan minyak goreng dengan api sedang, spuitkan adonan ke dalam minyak goreng sepanjang 10 cm atau sesuai selera. Goreng sampai kuning kecoklatan. Angkat dan tiriskan. Atau bisa juga menyemprotkan dulu adonan churros ke atas loyang yang ditabur terigu tipis, lakukan sampai adonan habis. Simpan sebentar di freezer sampai adonan agak mengeras, baru digoreng. Hasilnya lebih cantik (saya hanya punya spuit bintang ukuran kecil, jadi churrosnya saya spuit memutar seperti bunga supaya tidak terlalu kering setelah digoreng)

5. Tunggu sampai agak hangat, baru balut dengan bahan taburan. Sebaiknya jangan saat terlalu panas langsung dibalut karena gulanya akan sedikit meleleh. Atau sajikan dengan chocolate sauce (churros con chocolate)

Readmore - Churros

5 September 2015

Chizkek Lumer Ala Rumahan

Lagi heboh Chizkek Lumer yang dijual online ya.. Daripada penasaran, mending bikin sendiri, hihihi..

Kemarin Pipit, salah satu anak buah jaman kuliah (damai, Pit :D ) ngepos homemade cheesecake di facebook. Daaan.. ternyata simpel banget bahannya, jadilah mupeng, fufufu.. Sayangnya saya sedikit anti mainstream, jadi otak-atik bahan yang ada di dapur aja, yang penting secara konsep sama haha..

Resep aslinya Pipit ada di sini.

Versi saya:

>>>Bahan:

~150 gr keju (saya pakai mozarella kw yang tempo hari saya buat)
~1 sdm susu kental manis
~1 sdm gula pasir
~1 gelas air
~18 keping Roma Biskuit Kelapa
~1 sdm margarin
~Mesis Ceres untuk taburan

Cara Membuat:

1. Hancurkan biskuit tapi jangan terlalu halus.

2. Cairkan margarin, lalu campurkan dengan biskuit yang sudah dihancurkan. Tata di dasar wadah.

3. Masak susu, 100 gram keju parut, gula dan air sampai mendidih dan mengental, sambil diaduk (saya menambahkan sedikit margarin agar gurih karena mozarella kw saya agak manis, tidak segurih cheddar). Siramkan ke dalam wadah berisi biskuit.

4. Taburkan coklat Ceres atau taburan lain sesuai selera.

5. Setelah panasnya hilang, masukkan ke dalam freezer selama 2-3 jam.

Percaya atau tidak, Chizkek ini berhasil saya habiskan sendirian ga sampai setengah hari ((^.^')

Readmore - Chizkek Lumer Ala Rumahan

Berkata yang Baik atau Diam

Sebegitu sulitnyakah bicara santun? Nyatanya berkata yang baik atau diam memanglah berat..

Mendapatkan amanah di Divisi Pendaftaran ODOLA (One Day One Line -hafal quran- Akhwat) membuat saya harus menghadapi beragam calon member dengan sifatnya masing-masing. Bagi saya, berkomunikasi via tulisan kini tidaklah sulit, apalagi aplikasi WhatsApp yang memungkinkan kita menggunakan banyak emoticon untuk menegaskan postingan kita.

Tapi nyatanya.. Masih banyak yang kurang pandai mengolah kata untuk disampaikan kepada lawan bicara.

Saya teringat suatu saat guru saya mengingatkan bahwa kata-kata yang kita lontarkan mencerminkan isi kepala. Dan Rasulullah, yang akhlaknya adalah Alquran, mencontohkan kepada kita agar berkata yang baik atau diam. Maka alasan apa yang membuat kita enggan berkata santun? Apalagi di media sosial yang notabene disaksikan oleh ratusan (bahkan mungkin ratusan ribu) netizen. Suatu saat postingan-postingan kita akan dimintai pertanggungjawaban.

Semoga kita selalu mempu menjaga diri agar senantiasa berkata yang baik atau diam.

Readmore - Berkata yang Baik atau Diam

3 September 2015

Bekal Masa Tua

Saya berharap, kelak tidak menjadi ibu yang mudah mengeluh..

Sore itu kami hanya berbincang ringan. Dan ntah bagaimana obrolan kami sampai pada persoalan anak. "Dikasih adek aja, Bu, supaya lebih dewasa," kata saya kepada teman dosen yang menceritakan anaknya yang menangis karena tidak menang dalam lomba mewarnai.

"Iya ya.. Tapi, suamiku ga mau anak cowok. Takut nakal katanya." Jawaban yang membuat saya tersentak.

"Terus, gimana dong biar anaknya cewek?" saya tertawa kecil berusaha tetap memberi feedback positif.

"Suamiku pengennya satu aja. Cukup," jawabnya lagi.

Ah.. Saya tak pandai soalan semacam ini. Tapi tetap menyayangkan mengapa beliau berpikiran seperti itu. Dan saya, dengan pengetahuan yang terbatas, hanya mampu menutup perbincangan kami dengan memberi komentar, "..padahal anak itu investasi ya, Bu."

Saya ingat sekali suatu saat pernah berbincang pula dengan Mamak mertua. Sedikit membuat gurauan tentang beliau yang luar biasa menghadapi anak-anak nakal berjumlah sembilan di rumah. "Nggo sangu mati, Nduk.." dan saya terdiam menyimak dengan khikmad.

Betul kata Mamak, apa lagi yang diharapkan oleh orang-orang yang telah renta selain perlakuan baik dari anak-anaknya. Lebih dari itu, setelah raga tak lagi bernyawa, tak ada yang dapat menolong kita di hari pembalasan kecuali doa anak-anak yang shalih kepada orang tuanya. Dan saya.. adalah satu dari sekian banyak hambaNya yang tak berdaya, yang mengharapkan anugerah putera-puteri shalih shaliha di masa mendatang.

Dan belajar untuk tidak mengeluh ketika mendidik mereka, adalah salah satu modalnya :)

Readmore - Bekal Masa Tua

29 Agustus 2015

Banana Bolen

Gara-gara keseringan nongkrong di grup masak dan lihat postingan Banana Bolen, jadi kepengeeen pakai banget. Tapi agak takut mau bikin sendiri karena dulu pernah bikin pastry (pakai korsvet), udah mah ribet, gagal lagi, huhuhuuu.. Tapi setelah ke toko kue andalan di Bandar Lampung, ternyata mereka ga stok Banana Bolen, padahal udah bolak-balik ke sana T-T

Daaan.. Nemu resep yang cukup ramah bahan-bahannya (tanpa korsvet). Cara buatnya pun simple. Yeeey \(^.^)/ eksekusi deh..

Pisang Bolen (Tanpa korsvet by Sajian Sedap)
Posting by Intan 'park Hyun Hoon'
Dame Tobing

Bahan A :
- 100 gr terigu protein tinggi
- 1 sdm minyak sayur
- 75 gr margarin

Bahan B :
- 200 gr terigu protein tinggi
- 30 gr gula
- 80 ml air es
-75 gr margarin

Pelengkap :
- Pisang tanduk, janten / uli, potong menjadi 3 bagian
- Keju chedar parut, secukupnya
- Meses secukupnya

Bahan Olesan :
- 2 btr kuning telur (saya pakai 1 butir dan cukup)
- 1 sdm susu cair

Cara membuat :
- Campur semua bahan A jadi satu, aduk rata. Bentuk bulat. Diamkan 10 menit ( aku simpan dalam kulkas )
- Campur semua bahan B, aduk rata dan uleni hingga kalis. Diamkan 15 menit ( aku masukkan kulkas juga )
- Bagi bahan A dan B menjadi 15 bagian sama besar
- Ambil sebuah bahan B, pipihkan.
- Letakkan bahan A di atasnya, pipihkan dengan tangan
- Lipat sisi atas dan bawah bahan B hingga bertemu, lipat lagi sisi kanan dan kirinya hingga bertemu, hasil akhirnya seperti bentuk amplop.
- Giling memanjang, adonan tadi secara perlahan agar kulit adonan tidak pecah
- lipat kedua sisi hingga bertemu, satukan lipatan tadi. Giling lagi secara perlahan sampai berbentuk kotak seperti semula
- Lakukan tahap melipat ini sampai 2 kali
- Setelah adonan kulit berbentuk kotak, ambil isian keju atau mesis secukupnya dan letakkan di dasar adonan, tambahkan potongan pisang di atasnya
- Lipat semua sisi adonan kulit sehingga berbentuk amplop kembali.
- Tata dalam loyang yang sudah dialas dengan baking papper. Lakukan sampai habis
- Oles permukaan bolen dengan bahan olesan, taburi mesis / keju sesuai dengan isiannya ( aku oles 2 kali sebelum ditabur topping )
- Oven dengan suhu 180 derajat hingga matang

Rasanya? Enaaak.. manis gurihnya pas :3 Suami yang ga suka keju pun ikut makan. Kebetulan keju dan mesesnya ga kebanyakan juga naruhnya, fufufu..

Selamat makaaan :D

Readmore - Banana Bolen

21 Agustus 2015

Puding Cokelat

Puding Cokelat perdana <3

Ke pesta tempo lalu dan nemu dessert yang yummy di lidah, akhirnya memutuskan untuk bikin sendiri. Teksturnya padat, kalau kata suami rasanya mirip brownies. Kayanya yang bikin enak memang dark chocolatenya :p

Resepnya hasil modifikasi dari resep yang bertebaran di google:

~1 bungkus agar-agar cokelat
~3 sdm gula pasir
~400 ml air
~3 sdm susu kental manis
~150gr dark chocolate, lelehkan
~1 butir telur, kocok lepas

Campurkan agar-agar, gula dan air hingga larut, panaskan. Masukkan susu kental manis dan dark chocolate, aduk rata. Ambil dua atau tiga sendok adonan, campurkan dengan telur hingga rata, tuangkan sedikit-sedikit ke dalam adonan. Aduk rata hingga adonan mendidih. Setelah mendidih, tuangkan ke dalam cetakan yang sudah dibasahi (supaya tidak lengket). Setelah agak dingin, simpan di lemari es sampai mengeras.

Selamat makaaan \(^.^)/

Readmore - Puding Cokelat

13 Agustus 2015

Suamiku Sayang, Suamiku Malang

Dari DP BBM seorang teman, kurang tau sumber aslinya, tapi.. Berhasil membuat saya dan suami terbahak :D Iya, kami dan mungkin mayoritas pasangan suami istri merasakan hal yang serupa. Istri marah, inginnya didengarkan, diiyakan. Suami berusaha memahami, tapi tetap mencari celah untuk berkata bijak. Endingnya tetap sama, "Pokoknya lelaki selalu salah, sekalipun maksudnya benar." :D

Tapi jujur, melihat gambar ini saya kasihan sekali melihat tokoh lelakinya (sembari melirik suami yang sudah tertidur pulas di samping saya). Para suami seperti itukah, nerimo, demi meredam suasana hati istrinya..? Kasihan T-T

Tapi di sisi lain, saya berpikir, apakah mungkin para suami punya alasan tersendiri mengapa memutuskan untuk 'nerimo'? Sebagaimana yang juga dilakukan oleh Umar bin Khattab ra ketika sang istri marah..? "Sebab ia melaksanakan kewajibannya untuk menjaga harta dan kehormatanku, ia pula yang menjadi guru pertama bagi anak-anakku.." jawabnya ketika seorang sahabat bertanya.

Ah.. Tapi semarah apapun, saya ingin terus berusaha untuk diam, tidak melampiaskannyadengan mengomel panjang lebar yang membuat illfeel siapapun yang mendengar. Dan beliau.. yang selalu tau saya sedang kesal, memilih untuk berdamai dengan memeluk dan mengusap-usap kepala istrinya. Membuat amarah yang memenuhi dada perlahan mencair dan keluar melalui bening di mata. Itu lebih melegakan daripada banting-bantingpiring kan ((^.^')

Terima kasih kepada para lelaki hebat yang telah bersabar menghadapi belahan jiwanya.. Semoga kesabaranmu berbuah kebaikan di surgaNya :)

Readmore - Suamiku Sayang, Suamiku Malang

8 Agustus 2015

Mozarella Crispy

Cemilan pagi \(^.^)/

Dari kemarin pengeeen banget makan pizza yang rotinya tipiiis, mozarellanya buanyaaak.. Tapi mozarella itu lumayan harganya, huhuhu.. Dan googling deh nyari resep mozarella kw, xixixi..

Bahannya simpel dan harganya juga ga terlalu mahal:
180 gr keju Prochiz
300 ml susu uht
3 sdm tapioka (cairkan dengan sedikit susu uht)

2 saschet susu kental manis (saya pakai 3 sdm)

1 bks Nutrijell plain

1/4 sdt garam

Di resep, keju harus difreez dulu 24 jam, tapi baru setengah hari sudah saya keluarkan, hehe.. ga sabar.

Parut keju, tambahkan semua bahan dan aduk rata. Setelah itu panaskan di atas api kecil sambil terus diaduk sampai adonan kalis dan melar, kira-kira butuh waktu 20 menit. Setelah itu dinginkan dan simpan dalam freezer.

Pengen bikin pizza tapi males ngadon roti, akhirnya mozarellanya digoreng crispy, hihihi.. Cuma modal terigu, telur (kocok lepas) dan tepung roti. Mozarella dipotong kecil-kecil sesuai selera, lumuri tepung, celupkan ke dalam telur dan ulangi sampai dua atau tiga kali, baru lumuri tepung roti. Goreng deeeh.. Mudah ya ^^

Pertama lihat tekstur keju di dalam, agak kecewa karena meski melted, kejunya ga melar seperti mozarella. Sepertinya saya kurang sabar waktu memanaskan adonan :( sudah terlihat kalis tapi belum melar seperti di foto petunjuk resep (bisa buka link di atas), tapi sudah saya angkat dan dinginkan. Meski begitu, dari segi rasa.. Enaknya mantap (^^,)bb paduan gurih manisnya pas dan bikin pengen nambah.

Lain kali, perlu nyoba mozarella asli agaknya. Nabung nabuuung :D

Readmore - Mozarella Crispy

5 Agustus 2015

Supermanzil Ramadhan 1436 H

26 Juni 2015

Supermanzil, sebuah mimpi yang menjadi nyata.

Saya bukanlah seorang ustadzah, bukan pula ahli ilmu. Tetapi saya bermimpi menjadi penghafal Alquran dan berharap mampu mengajak orang-orang sekitar untuk juga bisa menghafal Alquran. Misalnya mereka, anak-anak Rohis kampus STKIP PGRI Bandar Lampung.

Tempo lalu kami membuat agenda tasmi, satu persatu peserta melafadzkan surat demi surat di juz 30 secara bergilir, An Naas hingga Asy Sams. Kali ini, Supermanzil memfasilitasi mereka untuk setor seluruh hafalan di juz 30 secara bergilir dimulai Kamis lalu jam 10.00 dan ditutup 10.00 hari berikutnya. Jika ada kesalahan pelafadzan ayat, tajwid, dan makhrojnya, mereka harus mundur dan digantikan dengan peserta lain (yang juga diharuskan setor hafalan). Waktu istirahat hanya untuk sholat, membenahi kebutuhan fisik, juga berbuka dan sahur. Dan alhamdulillah, dari 10 peserta ada dua orang yang hampiiir menyelesaikan 1 juznya.

Semoga semangat menghafal Alquran itu tetap ada, hingga nanti Allah kumpulkan kita di surga bersama para penghafal Alquran yang lainnya.

Terima kasih telah membuat istana kecil kami semerbak dengan bacaan Alquran.. Semoga menjadi awalan terwujudnya cita-cita berikutnya..

Readmore - Supermanzil Ramadhan 1436 H

Tasmi' Perdana Tahfidz Kami

23 Januari 2015

Berawal dari rindu asrama tahfidz dan aktivitas Quraninya, saya ’memaksa’ anak-anak (lebih tepatnya teman, karena usia mereka yang tak terpaut jauh dari saya) untuk juga membuat agenda serupa. Seperti kali ini, kami merancang agenda tasmi’ perdana untuk halaqah tahfidz di STKIP PGRI Bandar Lampung.

Masih jauuuh dari agenda tasmi’ yang biasa diadakan di pondok tahfidz. Tasmi’ Juz 30 ini tidak full 1 juz, tetapi hanya An Naba, Asy Syams-An Naas, dan itu pun dimurajaah bergilir sesuai urutannya dalam Al Quran, bukan diucapkan bersamaan. Tapi bagi mereka, yang tertatih memperbaiki bacaan Quran, tampil dengan hafalan sebanyak itu adalah luar biasa. Semoga menjadi awalan aktivitas Qurani lain di kampus kami.

Oh iya.. Audiencenya cuma empat orang lho (selain kami). Mudah-mudahan kelak seluruh warga kampus bisa menyaksikan, ini lho.. Mahasiswa STKIP PGRI Bandar Lampung yang juga penghafal Quran :)

Readmore - Tasmi' Perdana Tahfidz Kami

27 Juli 2015

Martabak Telur By Accident

Gitu banget ya judulnya :D

Awalnya memang ga niat bikin martabak telur karena rencana cemerlangnya mau bikin Zuppa Soup. Tapi, adek yang dimintai tolong beli kulit pastry malah beli kulit lumpia haha.. "Kata Mbaknya ini kulit buat zuppa kok.." nah nah.. Jadi siapa yang error XD

Ya sudah, karena terlanjur dibeli, kulitnya tetap harus diolah. Kebetulan kulkas Mama isinya komplit (ceritanya lagi mudik), ada ayam, jagung, wortel, jadilah dipotong kecil-kecil dan direbus sebentar, tambah garam, merica, irisan daun seledri & daun bawang, campur dengan telur dan bungkuuus pakai kulit lumpia. Jadi deh \(^.^)/

Sambal cocolannya Mama yang bikin untuk nasi uduk sarapan tadi (^^,)v

Readmore - Martabak Telur By Accident

23 Juli 2015

Selamat Datang, Cinta

Dear Kesayangan Ayah dan Mama..

Hari ini genap empat bulan Allah titipkan Nanda di rahim Mama. Alhamdulillah.. Mama mulai bisa merasakan gerakan lembutmu, Nak. Semoga terus bertumbuh, sehat dan cerdas.

Mama masih ingat April lalu, ketika untuk pertama kalinya Mama tahu kehadiran Nanda. Saat itu pukul dua pagi dan Ayah ada tugas di luar kota. Mama memberanikan diri untuk tes kehamilan dengan testpack yang sebelumnya Mama beli di apotek. Mama sedikit khawatir karena belasan bulan sebelumnya, hasil tes selalu menunjukkan satu garis yang artinya Mama tidak hamil. Tapi malam itu.. Feeling Mama lain.

Mama masih berdiri memegang testpack yang perlahan berubah warna, dengan dada yang rasanya berdegup semakin kencang. Satu.. dua.. tiga.. Detik-detik yang datang seperti melambat. Perlahan muncul satu garis tebal -yang pasti akan muncul meski Mama tidak hamil. Tapi kemudian.. Samar.. Ada garis lain yang muncul.. Seperti malu-malu. Mama mengerjab, mengedipkan mata berkali-kali khawatir ini hanya imajinasi. Dan melihat dua garis itu tetap ada di sana membuat Mama serasa berguncang. Cepat-cepat Mama mengambil wudhu.

Sayang.. Jika Ayah melihat Mama di malam itu, mungkin kami akan menangis bersama. Tapi Mama benar-benar sendirian. Rasanya Mama ingin teriak.. Berlari menjumpai Allah dan berterima kasih untuk karuniaNya. Tapi Mama hanya bisa berdiri di atas sajadah, dengan air mata yang tak henti-henti mengalir.. Dengan tubuh yang bergetar karena menahan luapan bahagia yang luar biasa.. Mama tak sabar menunggu Ayahmu pulang, mengabarkan betapa Allah sangat baik pada kita.

Cinta, tahukah.. Mama dan Ayah telah mengikhtiarkan banyak hal demi mendapatkanmu. Sempat Mama merasa kecil.. Merasa ketakutan luar biasa saat hasil check up mengatakan ada yang salah dengan organ reproduksi Mama. Tuba falopi Mama (yang menjadi jalan bertemunya 'putri dan pangeran' ) keduanya tersumbat, dan ini harus didiatermi atau operasi. Tahukah Nak, jika tuba falopi itu harus dipotong, Mama tak akan bisa mengandung dan harus menitipkan buah hati Mama di dalam sebuah tabung. Allah.. Rasanya Mama tak sanggup membayangkan.

Rasanya hampir setiap waktu Mama menangis karena ketidakberdayaan. Siapa lagi yang bisa menolong kalau bukan Allah..? Mama hanya bisa memperbanyak istighfar, sedikit demi sedikit memberi kepada yang membutuhkan, memuliakan suami dan keempat orang tua, menunaikan janji, memperbanyak tilawah dan ibadah sunnah.. Mama telusur setiap kemungkinan 'terhalangnya doa', berharap bisa merayu Allah dan mengabulkan harapan kami memiliki buah hati.

Dan kini.. Allah benar-benar tunjukkan mukjizatNya :)

Doakan Mama amanah, Sayang.. Mama ingin mengusahakan pendidikan terbaik untukmu. Mama belajar untuk mengisi hari-hari dengan tilawah dan hafalan Quran.. Mama juga punya satu halaqah tahfidz dan tante shaliha di sana mendoakan kebaikan untukmu. Semoga kelak engkau bertumbuh menjadi Ahlul Quran, yang tidak hanya membaca, menghafalkan, mengamalkan, tetapi juga berakhlak Alquran.

Sampai ketemu lagi, Cinta.. Mungkin Desember atau Januari :)

Readmore - Selamat Datang, Cinta