Social Icons

8 Oktober 2015

Melahirkan Normal vs Cesar

Sejak dulu yang ada di pikiran saya, melahirkan normal adalah cara terbaik bagi perempuan untuk (mengawali belajar) menjadi seorang ibu. Hingga obrolan singkat dengan salah satu teman meruntuhkan statement itu.

Beliau salah satu senior saya dalam kepengurusan grup One Day One Line menghafal Quran. 6 tahun menikah dan baru dikaruniai buah hati. Sempat terkejut dengan kabar kelahiran putrinya yang terbilang cukup besar, 4kg, yang rupanya agak sulit diperjuangkan untuk normal. Padahal pembukaan sudah lengkap, tapi qodarullah sang buah hati tidak bisa keluar hingga diputuskan untuk cesar.

"Kenapa cesar, Mbak?" tanya saya seketika.

"Bayinya terlalu besar, Dek, susah keluar." Saya masih menanti jawaban berikutnya. "Pilihannya vacuum atau cesar dan saya pilih cesar."

Cesar. Satu kata yang saaangat ingin saya buang jauh-jauh dalam kamus kehidupan saya. Tak ingin membayangkan. Karena saya memiliki mimpi ditemani tiga hingga lima buah hati kelak. Sementara cesar begitu beresiko.

"Kenapa bukan vacuum?" pertanyaan saya mungkin terdengar menjustifikasi.

"Kasihan dede'nya.. Bentuk kepalanya mungkin akan sulit diperbaiki nanti. Dan kabarnya berpengaruh juga ke IQnya." Serius, saya baru tahu resiko vacuum dari beliau.

"Yah.. Daripada dede'nya kenapa-kenapa, lebih baik ibunya yang berkorban."

Deg! Jawaban yang benar-benar membuat saya tersentak.

Tiba-tiba saya merasa begitu kecil.. betapa cara berpikir saya sangat sempit. Nyatanya pikiran saya begitu dangkal dan justru sangat egois. Memandang cesar hanya dengan sebelah mata. Mungkin karena tak setuju dengan opini, "Enakan cesar.. ga kesakitan karena mules melahirkan" dan sebagainya. Hingga sempat sedikit kurang menyukai para ibu yang memutuskan cesar saat melahirkan.

Mbak Shaliha ini mengajarkan saya tentang naluri ibu yang mendahulukan keselamatan buah hatinya. Beliau merasakan keduanya, kesakitan luar biasa ketika akan melahirkan, pun pemulihan pasca cesar yang pastinya tidak sebentar. Bahwa keputusan cesar bukan semata-mata memilih "melahirkan dengan cara yang lebih mudah".

Dan saya.. begitu malu dengan diri saya sendiri.

Semoga masih ada waktu untuk memperbaiki diri, hingga nanti tiba waktunya ujian awal menjadi seorang ibu..

0 komentar:

Posting Komentar