Social Icons

24 Desember 2015

Melahirkan, Sebuah Proses Menjadi Per-empu-an

"..tidak ada yang lebih mempengaruhi diri kecuali sugesti."

***

Ini adalah untuk pertama kalinya saya merasakan kepayahan yang bertambah-tambah. Meski begitu banyak dukungan telah diberikan, tetap saja rasa 'tidak sanggup' itu menghantui.

Berawal dari kontrol rutin ke dokter kandungan di mana usia janin kami sudah memasuki 37 pekan. Sedikit terkejut ketika mengetahui hasil USG bahwa berat badannya sudah mencapai 3,4 kg (naik 0,8kg dalam sepuluh hari) sementara hari perkiraan lahir masih dua pekan lagi. "Ibu sudah harus mulai menjaga makan," kata dokter kami saat itu. Dan itu adalah ketakutan saya yang pertama. Saya mengazamkan untuk bersalin normal dan khawatir tidak bisa melaluinya karena berat badan bayi kami terlalu besar.

***

"..kita tetap membutuhkan dukungan, sekalipun hanya tepukan di bahu."

***

Berjalan kaki setiap pagi dan sore, berkeliling lapangan ataupun memutari ruangan-ruangan di rumah kecil kami, senam, berenang, juga melakukan induksi alami dengan memakan nanas dan durian (dengan dosis tidak berlebihan) sebagai ikhtiar untuk mempercepat proses persalinan. Bahkan teman menganjurkan untuk bekam di titik tertentu untuk memicu kontraksi. Tapi karena beresiko, saya hanya menyanggupi melakukan refleksi.

Beberapa kali saya bertanya kepada suami, "..aku bisa kan?", juga kepada rekan-rekan dosen di kampus. Betapa sulit menutupi rasa takut itu. Mereka terus mendukung dan meminta berbaik sangka.

Dan dalam kepasrahan.. dalam doa-doa, yang terucap adalah, "..ya Allah, aku ketakutan. Maka mudahkan, lancarkan, kuatkan.."

***

"..bahwa persalinan mengajarkan banyak hal kepada perempuan, tentang sabar, tentang berjuang, tentang berbaik sangka, tentang pertolongan Rabbnya yang begitu dirindukan, juga tentang syukur."

***

Sabtu, 19 Desember 2015 jam 11 siang, saya merasakan salah satu tanda awal persalinan. Maka kami bersegera menuju rumah bersalin untuk dicek. Bukaan satu, kata bidan yang memeriksa. Saya pun bersemangat karena waktu kelahiran semakin dekat..

Kami memutuskan untuk melanjutkan aktivitas di rumah dan mengikhtiarkan banyak hal agar ada peningkatan kontraksi. Saya pun segera membenahi rumah agar ketika bersalin nanti, rumah dalam kondisi rapi dan bersih. Malam pun saya masih berjalan-jalan mengelilingi ruangan demi ruangan agar kepala bayi segera turun ke panggul, berdiri jongkok, merangkak, pose butterfly, meminum minyak zaitun untuk membantu melumaskan, makan kurma, pun meminta suami memijat di titik tertentu untuk membantu meningkatkan kontraksi. Hingga larut malam, saya tidak bisa benar-benar tidur.

Jam tiga dini hari, kontraksi semakin kuat. Sejam menghitung, ternyata sudah datang perlima belas sekali. Awalnya kami ingin bada shubuh saja ke rumah bersalin, tapi karena (maaf) rahim saya sudah mengeluarkan lendir dan bercak darah, kami bergegas ke rumah bersalin.

"Belum ada pembukaan ini, Bu," kata bidan jaga. Saya sedikit kecewa. "Mungkin karena jari saya dan jari bidan jaga siang kemarin berbeda ukuran, jadi hasil ceknya berbeda.."

Kami pun kembali pulang.

***

"..yang membuat segala sesuatu menjadi berat adalah, kita tak pernah tahu akhir dari sebuah perjalanan juga kapan waktunya tiba di tujuan."

***

Ahad pagi. Suami menghibur dengan mengajak berjalan-jalan ke PKOR Bandarlampung, juga ditemani Mama dan adik bungsu. Kami membeli nanas, lagi-lagi untuk induksi alami. Sementara saya merasakan kontraksi yang semakin kuat.

Siang.. sore.. kontraksi semakin kuat. Saya menghitung. Datangnya lima menit sekali. Bada Maghrib kami kembali ke rumah bersalin.

"Masih kuncup, Ibu.."

Ya Allah..

Saya semakin down. Kontraksi semakin kuat dan kuat, tapi hasil pemeriksaan bidan benar-benar membuat kecewa. Tapi, jam 9 malam, setelah ikut mengantarkan Mbah Putri pulang, menjemput kakak ipar dari stasiun (suami mengajak saya untuk menghibur), setibanya di rumah, kontraksi semakin sering dan kuat.

"Kita ke rumah sakit lagi aja, bidan bilang apa, kita tetap tunggu," kata Mama akhirnya.

***

"..betapa lemahnya kita, betapa kecilnya kita, betapa tidak berdayanya kita tanpa pertolongan Allah."

***

Tengah malam, saat posisi berbaring dan duduk tak lagi membuat nyaman, saat berdiri pun lutut tak sanggup menopang, saat kontraksi semakin kuat dan kuat, saat 'menarik napas panjang dan dihembuskan melalui mulut' tak lagi bisa teratur.. saya pun tak tahan untuk tidak mengerang.

"Ya Allah.. tolong.."

Seberat ini dan masih bukaan dua.

"Siapa lagi yang bisa menolong jika bukan Engkau.."

Sekalipun telah ditemani suami juga Mama, rasanya dekat sekali dengan putus asa.

Berkali-kali meminta maaf membuat Mama menangis dan memeluk saya, "Banyak istighfar ya.. Mama sudah ikhlaskan kalaupun Lia ada salah. Tapi kita ga tau apakah sudah Allah ampuni.."

Suami pun ikut menangis meski tangannya terus menggengam tangan saya.

Ia berdiri saat sepertiga malam tiba. Mendoakan saya, salah satunya. Sementara saya terus berdzikir, berdoa apapun yang saya bisa, agar kepayahan ini segera berakhir. Setidaknya, Allah beri tambahan kekuatan jika saya semakin tak sanggup menahan.

Shubuh. Bukaan tiga. Saya kembali memekik di dalam hati. Semalaman dan perjalanan ini masih jauh sekali dari ujungnya.

Jam enam pagi, bukaan empat.

"Yang kuat, Nak.. sebentar lagi InsyaAllah," Mama membisiki saya.

Saya menangis. Melihat wajah suami dan Mama yang terlihat lelah karena bergantian berjaga semalaman. Maka saya mengazamkan diri agar kuat, agar pengorbanan mereka tak sia-sia. Setiap kali kontraksi (yang semakin dahsyat) itu tiba, saya menggenggam tangan Mama dan meminta suami mengusap-usap punggung bagian bawah, sementara saya berusaha menenangkan diri dengan mengatur napas sembari terus berdoa dan mengucapkan dzikir-dzikir mudah yang bisa diucapkan.

***

"..ribuan teori yang sudah dipelajari, seolah menguap begitu saja saat menjalani ujian."

***

Jam sembilan pagi. Bukaan lima.

"Saya pindahkan ke ruang bersalin ya, Bu.."

Saya semakin berhusnudzon. Sebentar lagi.. sebentar lagi..

Jam sepuluh pagi. Seolah ada yang mendesak-desak dari dalam, kuat sekali, berkali-kali..

"Mamaaa.. ini bukaan berapaaaaa..?" tanya saya setengah berteriak.

Bidan tak kunjung datang karena melayani pasien bersalin lainnya (total hari itu adalah 14 pasien).

Dorongan itu datang lagi. "Mamaaaaa.. astaghfirullaaaaah.." Mama mendekap saya untuk meredam agar teriakan itu tidak menggema ke seluruh ruangan. Sementara suami bergegas memanggil bidan.

"Masih lima, Bu.. Kalau Ibu ngejan sekarang, jalan lahirnya bisa bengkak, nanti ga bisa normal," kata Bidannya. "Ibu atur napas ya.. Kaya orang kepedesan. Karena kalau teriak, nanti tenaganya habis ga bisa ngejan."

Bismillah.. Saya bisa.

Dan.. Saat telah bersiap mengatur napas, setelah selama beberapa detik menahan sakitnya, dorongan itu semakin kuat, "Astaghfirullaaaaaaaah.." dan cairan bening itu mulai membasahi kain yang saya kenakan.

"Mama.. ini ketuban bukan.."  saya kembali menangis.

Bidan kembali datang. "Delapan, Bu.. Tahan dulu ya.."

"Dia dorong sendiri.. ga bisa ditahaaan.."

Dalam sisa-sisa tenaga, dalam batas antara sabar dan tidak, kuat dan tidak, bahkan nyaris berputus asa.. dalam menahan dorongan yang semakin tak dapat ditahan..

Bidan memaksakan bersalin dalam kondisi bukaan yang belum lengkap.

***

"..satu kenikmatan yang diberikan, dapat menghapus seribu kepayahan."

***

Segala macam upaya yang ditempuh agar mampu bersalin normal, mudah, lancar, bahkan dengan membeli banyak buku mahal, mengikuti berbagai kelas senam ataupun pelatihan, tak akan benar-benar membantu saat persalinan jika kita tidak menggantungkan diri kepada Yang Maha Memberi Pertolongan.

Dalam kondisi lelah, dengan tubuh bergetar karena menahan sakit yang berkepanjangan, dalam kondisi nyaris berputus asa dan merasa tidak sanggup..

Seorang bayi mungil, dengan tangisnya yang nyaring, dalam kondisi natural tanpa dibersihkan, diletakkan di dada saya. Lelaki tangguh yang menemani saya sepanjang persalinan mengecup kening istrinya sembari menangis, "Aya hebat.." dan saya mengucap syukur tak henti-henti. Akhirnya..

Meski masih harus menahan sedikit nyeri saat ari-ari bayi dikeluarkan dan ketika belasan robekan dijahit oleh sang Bidan, kelegaan luar biasa telah menyelimuti atmosfer ruangan bersalin.

21 Desember 2015, 11.40, laki-laki, 3 kilogram, dan 47 centimeter.

Semoga shalih nan ahlul quran, Sayang..

Uinseann Altan El Hadziq. Diambil dari tiga bahasa, Irlandia, Turki, dan Arab. Uinseann berarti penakluk. Kelak ia adalah seorang kesatria yang menjadi pelopor dan pembawa kemenangan dalam peperangan. Altan berarti fajar, yang terbit setelah malam yang pekat. Ia adalah pembawa solusi dalam setiap permasalahan. El Hadziq, cerdas. Bahwa dengan kecerdasan, ia mampu memberikan bakti terbaik untuk umat.

***

Jika kau seorang perempuan dan telah melewati perjuangan melahirkan, kau akan tahu mengapa menyakiti ibu begitu dimurkai Allah. Jika kau seorang laki-laki yang menyaksikan istrimu melahirkan, kau akan mengerti mengapa surga berada di telapak kaki ibu.

Semoga kita mampu untuk terus belajar, menjadi putra/putri terbaik dari orang tua kita.. Semoga kita dimampukan, menjadi orang tua terbaik bagi anak-anak kita..

0 komentar:

Posting Komentar