Social Icons

16 November 2016

Sakit dan Altan

Readmore - Sakit dan Altan

19 Agustus 2016

Altan vs Rencana Traveling

Altan (yang baru tumbuh gigi) vs Rencana Traveling

Ini lho, alasan Mamanya Altan rada gupek dengan menu MPASI selama traveling September nanti. Perjalan darat-laut sehari semalam bukan perjalanan mudah. Apalagi tempat singgah bukan hotel yang bisa direquest perkakas dan bahan makanannya (karena pasti di sana orang-orang sibuk juga urus manten dan pestanya, hihi). Tapi beruntung, September nanti usia Altan hampir 9 bulan, yang artinya sudah boleh makan nasi tim dan konsumsi finger food.

Mumpung masih ada waktu, agaknya perlu list apa aja yang mesti dibawa (mohon koreksinya ya Bu Ibuuu):

.:. Alat ~> Panci kecil, saringan kawat, mangkuk, sendok makan, cangkir.

.:. Makanan & Bahan Makanan

● Selama perjalanan:
~> Nasi lembut, ubi cilembu
~> Bubuk teri, abon ayam homemade, telur rebus
~> Bubuk tempe, tahu goreng
~> Rebusan buncis, wortel, labu siyam
~> Jeruk, apel, pisang, pepaya.

● Selama menginap:
~> Beras merah & putih
~> Wortel, buncis, labu siyam
~> Kecambah, tahu, bubuk tempe
~> Telur, abon ayam homemade, bubuk teri
~> Jeruk, apel, pisang, pepaya.
~> Minyak goreng
~> Bawang merah&putih, seledri, daun salam, serai.

Sebetulnya bahan makanan selama menginap agaknya bisa minta di dapur resepsi pernikahan ya.. Tapi takutnya ribet atau gimana nanti, jadi agaknya tetap harus disiapkan dari rumah.

Bismillah.. semangat (^^,)9

Readmore - Altan vs Rencana Traveling

10 Agustus 2016

Altan, Jadilah Pembawa Solusi

Brukkk!

Kotak segala, tempat saya menyimpan pernak-pernik kecil yang tak pernah bisa rapi dan bertengger di rak paling bawah, ditumpahkan Altan. Saya menoleh, meski tak beranjak dari dapur. Altan terlihat bingung melihat pernak-pernik menjahit, baterai, bekas charger, dan yang lainnya menghambur keluar dari kotaknya dan memenuhi lantai.

Saya bergeming, memperhatikan reaksi Altan. Ia yang semula berdiri, berusaha meraih apa yang ada di rak, kini terduduk. Menggapai satu persatu perkakas kecil di kakinya. Tidak menangis, meski saya tahu ia terkejut. Menoleh ke kanan dan ke kiri mencari ibunya. Saat bola matanya menangkap bayangan saya yang berdiri tak jauh darinya, seketika Altan mendekat. Saya tersenyum dan memeluk, "Penasaran ya.." napasnya terdengar memburu. "Ga apa-apa. Kadang jatuh, tapi kan bisa berdiri lagi. Yang berantakan bisa diberesin lagi."

Saya terlihat kejam, mungkin. Atau lebih tepatnya tega. Saya terbiasa meninggalkan Altan asyik bermain di ruang tengah sementara saya mondar-mandir nyapu, ngepel, bahkan nyetrika, dengan mata tetap mengawasi meski tak di dekatnya, menjaga. Jika Altan mulai mencari, saya akan berteriak, "Altaaan!" hingga ia menoleh, menemukan ibunya, dan merangkak menghampiri. Saya tega, membiarkan Altan menangis 'manja' sembari memeluk kaki, karena hendak merampungkan cucian piring terlebih dahulu. Kecuali tangisnya karena sakit, lapar, atau BAB.

"Ga semua yang kita ingin bisa langsung kita dapat," kata saya mengusap-usap kepalanya. "Kadang harus menunggu. Harus sabar." Saya memeluk dan mengecup pipinya yang berisi. "Nanti kan dipeluk Mama lagi. Tapi ga bisa.. selalu minta gendong."

Meski mungkin Altan belum mengerti.

Saya ingin ia tumbuh menjadi sosok yang kuat, yang cerdas, yang berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri, yang tidak mudah mengadu lantas menyerah. Kelak ia adalah seorang pemimpin. Mungkin memimpin jutaan bahkan milyaran umat. Ia harus menjadi bagian masyarakat yang membawa solusi. Seperti namanya, Altan, yang berarti fajar. Ia hadir setelah malam yang begitu pekat.

Readmore - Altan, Jadilah Pembawa Solusi

7 Agustus 2016

Brownies Ala-ala

Brownies ala-ala (ikutan Mba Ajeng, hihi)

Sabtu-Ahad, selain hari beres-beres sedunia, kadang dinobatkan juga jadi hari jalan-jalan sedunia. Tapi, ntah kenapa boring banget pekan ini huhuuu.. Biasanya ada dua majelis ilmu di hari Sabtu, tapi 1 dicancel, jadilah celingak-celinguk, mau ngapain yaaa selain lala lili beres-beres dan nemenin Altan main, maem, bobooo..

Lama tak bersua dengan grup masak semacam Langsung Enak atau Natural Cooking Club. Lepas kangen deh mampir ke grup. Dan tiba-tiba kepengen makan brownies. Kebetulan ada telur, mentega, terigu. Tinggal nyari dark cooking chocolate. Alhasil, ayahnya Altan yang jadi korban dimintain tolong muter muter muter muteeer akhirnya nemu juga meski merk nya agak mengkhawatirkan (murah banget soalnyaaa).

Dan.. ya, beginilah. Yang penting brownies ((^.^')

Pas mau bikin, paaas Altan bangun dan masih ngalem-ngalemnya. Jadi tangan satu gendong Altan yang ga mau lepas, tangan satunya lagi ngayak terigu, oles-oles mentega di loyang, dan bla bla bla.. hebat juga ya ibu-ibu hihiii..

Ini betulan ala-ala deh, dan kategorinya 'lumayan'. Pakai takaran sendok lagi. Yang penting keinginan sudah terkabul. Kalau dari rasa, masih enakan brownies Mba Sukma, jauuuh, hihi.. yang mau order brownies enyak dan nyokelat banget, ke Mba Sukma aja ya :*

Anyway, shiny crush atau apa itu namanya, itu cara dapatnya gimana siy, di teknik memanggangnya ya.. ini kurang mateng atasnya apa gimana :O

Note: Resep bisa dilihat di sini ya..

Readmore - Brownies Ala-ala

29 Juli 2016

Belajar Kuat Altan

Dug!

Altan terjatuh, kepalanya membentur karpet styrofoam, karena tidak seimbang saat mengubah posisi dari merangkak ke duduk. Sementara saya duduk tenang menyetrika satu meter dari tempatnya bermain. Saya bergeming, memperhatikan reaksi Altan. Napasnya terdengar cepat dan mimik wajahnya mulai berubah dan.. tangisnya pun pecah. Saya membiarkan. Sesaat.. dan akhirnya mengalah mendekat ketika volume tangisnya semakin besar.

"Yuk, bangun." Saya meraih kedua lengannya dan langsung disambut Altan yang menghambur ke pelukan. Mama datang, tangisnya reda.

"Kan Altan masih main, jatuh sendiri. Ga ada yang salah. Besok lebih hati-hati ya.." Altan hanya ber ao ria sambil mengulum jari.

Mungkin saya adalah tipe ibu yang tega, tidak gesit langsung menimang saat buah hati menangis. Tapi di situlah saya belajar mengelola emosi. Dominasi emosi terkadang bukan edukasi yang baik. Altan lelaki, kelak tanggung jawabnya sangat besar. Ia harus tumbuh menjadi sosok yang kuat dan menguatkan. Bahwa apa yang ia lakukan, ia pula yang kelak menanggung resikonya, bukan menyalahkan orang lain.

"Apa iya siy anak segitu ngerti," komentar selewat. Kenapa bisa tidak mengerti? Bayi kan mendengar :)

Belajar terus, Altan Shalih. Menjadilah pembelajar yang melesat menjadi insan terbaik.

Readmore - Belajar Kuat Altan

19 Juli 2016

Niaga Barokah

Suatu saat dalam episode transaksi online, setelah beberapa kali order ke salah satu seller dan selalu terpuaskan, akhirnya mendapat ujian 'kepercayaan'. Barang yang diharapkan sampai Senin karena akan dikirim lagi bersama pesanan lain, tiba-tiba dikonfirmasi oleh seller bahwa stok kosong Minggu malam. Innalillahi..

Meski menggunakan emo senyum, agaknya si Mbak menangkap kekecewaan saya yang teramat sangat. Kemarau setahun, terhapus karena hujan sehari. Dan sempat bertekad tidak mau order lagi ke beliau.

"Minta no rekening dan no HP ya Mbak, sebagai permohonan maaf, saya kirimkan pulsa beserta uang transaksinya." Hm? Sesaat tertegun. "Mohon maaf sekali atas kelalaian saya." Ah Mbak.. dan saya pun melunak.

Perniagaan kita, apa niat utamanya? Barokah. Bahwa marah dilawan marah akan semakin membara. Beliau melunak saat hati customernya mulai mengeras. Dan saya belajar dari Mba Shaliha ini, arti sabar juga kerelaan untuk 'mengalah'.

Semoga lancar perniagaannya, Mbak. Semoga Barokah <3

*gambar diambil dari google

Readmore - Niaga Barokah

12 Juli 2016

Aura Keshalihan

Apakah mungkin bayi bisa merasakan aura kesalihan?

Altan baru pertama kali bertemu teman-teman sesama Rohis SMA saya dulu, tapi ekspresinya seolah bertemu saudara dekat. Awalnya tersenyum lama-lama melonjak girang. Menyambut saat Zara ataupun Aini mengulurkan tangan untuk menggendong. Senang diajak bermain dan bercanda.

Tapi..

Pernah suatu kali, Altan berjumpa dengan saudara kami yang dipanggilnya Mbah meski usianya masih muda. Beliau bertato, dan mm.. saya ragu apakah beliau sholat atau tidak. Altan bergeming meski berkali-kali beliau mengajak bercanda. Dan tak lama setelah sang Mbah membopong, Altan menangis ketakutan.

Ah.. mungkin hanya perasaan saya saja. Tapi mengingat Altan yang ekspresif saat mendengar adzan atau mendengar dan tersenyum saat saya bacakan ayat-ayat Alquran, semoga benar bahwa ketertarikannya hanyalah pada apa-apa yang Allah tuntunkan.

Readmore - Aura Keshalihan

5 Juli 2016

Altan Masuk Menu 4*

Alhamdulillah sudah masuk hari ke28 Altan MPASI \(^.^)/ ga terasa ya Altan mam nya udah banyak, wuiii..

Awalnya saya kira menu 4* cukup sulit karena harus jeli padu padan makanannya, ternyata ga juga. Ah.. betul kata admin Homemade Healthy Baby Food, cukup dengan bahan makanan yang ada di sekitar. Masak satu kali pagi, pisah perporsi, sore tinggal dihangatkan. Tinggal Mamanya aja niy yang rajin cari ide padu padan makanan dan selingan buah (untuk cemilan)nya apa. Dan.. sampai hari ini BABnya lancaaar \(^.^)/ hatur tengkyu deh sama Bunda-bunda cerdas HHBF.

Menu 4* yang paling membahagiakan itu ini, bubur nasi+ayam+bayam+tahu putih. Altan enjoy dan sepertinya suka. Bumbu aromatik memang pengaruh ya ke nafsu makan :3 meski tanpa gula dan garam, harumnya masakan cukup menggugah selera. Menu ini saya beri daun seledri dan daun bawang cincang plus bawang goreng. Merebusnya dengan geprekan bawang putih.

Nungguin makan Altan yang minimal 30 menit (padahal cuma habis sesendok makan haha) adalah penuh tantangan. Semacam nyanyi, "a a a a, e e e ooo.." atau rayuan, "ting tong.. ada makanan mau masuuuk." itu ga bisa dipakai berkali-kali dalam jeda singkat ((^.^') harus banyak ide Bu Ibuuu..

Sempat ga sabar juga waktu Altan ikut penasaran pengen pegang sendok. Ternyata itu proses belajar :o Akhirnya saya biarkan dan tetap suap dengan sendok lain. Yang lebih menantang lagi waktu Altan mau ikut pegang mangkok dan tangannya ngacak-ngacak makanan. Subhanallah Sayaaang, segitu lamanya bikin (karena Mamanya lelet) harus tumpah dalam tempo sesingkat-singkatnya. Tapi itu cuma dialog dalam hati karena di depan Altan harus pinter acting, keep smiiiileee :D

Sampai hari ini, paling banyak Altan makan adalah dua sendok makan haha.. sepertinya mengikuti jejak Mamanya yang makan sedikit tapi sering (apa iyyya sekarang porsinya sedikiiit???). Santaaaaai.. asal tetap dimakan, enjoy waktu makan, ceria dan lincah seperti biasa, no problemo.  Tipe anak beda-beda dan bagi saya 'makan banyak' bukan target utama, hihihi.. Berat badan Altan juga normal kok <3

Semangat ah B|

Readmore - Altan Masuk Menu 4*

28 Juni 2016

Evaluasi 14 Hari Pertama MPASI Altan

Nyari alpukat ga ketemu, adanya brokoli. Ternyata mengakhiri MPASI tunggal di hari ke14 dengan brokoli dan Altan habis itu membahagiakan \(^.^)/ mungkin karena brokolinya ditumis dengan bawang merah&putih dan diberi kaldu ayam untuk melunakkan, jadi harum gurih rasanya. Kenapa ga dari kemarin-kemarin coba ngasih kaldunya ((^.^')

Ini menu yang direvisi dari rencana menu MPASI awal karena Mamanya padat merayap di kampus dan ga sempat belanja, jadi pakai bahan seadanya di kulkas. Meski resikonya, ternyata ada yang padu padan pagi-sorenya ga pas :(  Altan sembelit gara-gara wortel-beras putih-pisang (yang tinggi serat) diberikan berurutan. Dan.. 7 hari pertamanya kurang sayur, bahkan lebih banyak mengenalkan buah berair yang akibatnya Altan diare sampai BAB 8x sehari :'( panik siy ga, cuma ngerasa 'I am not good enough', jadi ibu itu ga mudah.. Perlu belajar lebih banyak lagi.

Akhirnya, hari ke8 cek ricek lagi menunya. Selang-seling karbo, sayur, protein hewani, protein nabati, dan buahnya harus pas. Tinggi serat dipadankan dengan rendah serat di sore harinya. Lemak tambahan (saya pakai minyak makan, minyak zaitun, dan santan) juga diberikan. Air putih hanya setelah makan, bukan ketika makan, supaya Altan belajar mengunyah dan menelan.

Siap-siap besok mulai menu 4* ya, Sayang ({})

Note: Menu di gambar bukan menu ideal dan harus banyak revisi. Wortel-beras putih-pisang bisa diganti menjadi wortel-daging sapi-pisang. Buah berair bisa diganti sayur atau buah berlemak seperti alpukat untuk variasi. Kurma, ternyata juga hanya boleh untuk 12+ kecuali kurma segar (kebanyakan kurma di Indonesia sudah kering bahkan sebagian berbentuk manisan)

Readmore - Evaluasi 14 Hari Pertama MPASI Altan

15 Juni 2016

MPASI Pertama Altan

Hari pertama MPASI \(^.^)/ Alhamdulillah untuk permulaan, cukup membahagiakan karena Altan habis 2 sdm kuning telur (pagi) dan 1 sdm ubi cilembu (sore). Sedikit lemak tambahan dari minyak zaitun sebagai pelengkap. Semangat untuk besok (^^,)9

Seharusnya siy, kalau mengikuti ketentuan MPASI WHO, 180 harinya Altan adalah 18 Juni 2016, bisa juga saat ulang bulan keenam yaitu 21 Juni 2016. Tapi mm.. Ramadhan ini banyak sekali tantangan. Tempo lalu Altan demam dan flu, jadi minta ASI lebih sering, mungkin efek badan yang kurang fit. Sementara Mamanya galau antara ingin puasa dan lihat anak sehat. Akhirnya diputuskan untuk mengorbankan sehari ga puasa demi supply jus sayur, susu berfermentasi, vit C, kurma, dan ikhtiar lain supaya Altan segera sehat. Tapiii.. ga lantas bikin ASI deras (karena butuh proses).

"Kita majukan aja MPASI nya," celetuk Ayahnya Altan. Tik tok tik tok.. hati pun bimbang.

Dua dokter (yang merupakan teman sejawat hihi) pun dihubungi, bolehkah dengan alasan supaya nutrisi terpenuhi dan Mamanya Altan bisa tetap puasa, MPASI dimajukan (3 hari)? Alhamdulillah jawabannya boleh. Fiuh..

Semangat Ibuuu.. win win solution selalu ada untukmuuu \(^.^)/

Readmore - MPASI Pertama Altan

14 Juni 2016

Ramadhan di Waktu Sempit

~Dari mana datangnya kekuatan jika bukan karena cinta. Dari mana pula datangnya kekuatan jika bukan karena keimanan~

Sesaat terhenti dengan banyak keluhan menggoda pikiran, "..this is too much." hingga bagian terlemah diri merutuki sistem yang mewajibkan banyak hal untuk pekerja sementara nurani ingin fokus mengejar keutamaan Ramadhan. Ah.. bukan mereka yang salah. Siapa pula yang memilih di awal. Tak perlu menyalahkan keadaan.

Dan nasihat dari seorang ustadz dari tanah Jogja tiba-tiba melintas, "..khusyuknya sholat, bukan tentang sholat di ruang tertutup, dengan aromaterapi nan berAC. Khusyuknya sholat bisa jadi karena kaki yang terbakar gurun, dahi yang berdebu lantaran pasir menjadi sajadah, bahu dan punggung yang rela dinaiki sang cucu ketika bersujud. Khusyuknya sholat adalah anugerah yang datang kepada mereka yang mengusahakan." Wahai diri.. betapa kerdilnya engkau.

Mengharap barokah Ramadhan di sela-sela waktu sempit mengejar amanah yang satu dengan yang lain, tetap mencita-citakan diri menjadi penghafal quran meski seayat suliiit sekali dihafal karena bayi menangis, mencoba tetap terjaga sekalipun mata telah layu dan segera mengajak istirahat. Allah, Engkau Tahu ikhtiar kami.. mudahkan, mudahkan, mudahkan, kuatkan, kuatkan, kuatkan!

Kami tak ingin menjadi yang menyesal saat Syahrol Quran ini berlalu..

*gambar diambil dari google.com

Readmore - Ramadhan di Waktu Sempit

12 Juni 2016

Mengajak Altan Berpuasa

Baru kali ini, setelah ribuan hari (pernah) menjalankan puasa, saya kembali seperti anak kecil: berharap bisa buka kulkas dan minum susu saat Dzuhur tiba. Sebegitu lemahnya kah imanku, huhuuuuu T-T

Menyiapkan kurma nabeez (infused water dari kurma), susu UHT, air kelapa muda, jus buah, jus sayur, makan sedikit tapi sering, adalah beberapa ikhtiar saya mempersiapkan diri untuk menahan lapar dan dahaga di siang hari. Scaraaa biasa makan dan minum ga pandang porsi, ga pandang waktu, selalu lapar karena nutrisi disedot baby Altan. Maka puasa adalah tantangan. Subhanallah.. begini ya rasanya.

"Ada rukhsah untuk ibu menyusui, Dek, jangan memaksakan diri," kata salah satu senior suatu waktu. Tapi, saat saya menyerah, saya takut menyesal di kemudian hari :'( ada banyak ibu di luar sana yang tetap berpuasa dengan segudang aktivitasnya. Saya takut menjadi Muslim yang lemah, sementara Muslim yang kuat lebih dicintai Allah. Dan.. saya takut kelak melahirkan anak-anak yang lemah pula.

Tekad yang harus dikuatkan. Ikhtiar harus dioptimalkan. Doa, doa, doa, senjata utama. Selama Altan tetap mendapat asupan nutrisi, tidak rewel, maka saya hanya harus memperbaiki manajemen konsumsi nutrisi di malam hari. Saya boleh berbuka (tidak berpuasa) jika dan hanya jika Altan butuh asupan lebih sementara saya tidak mampu menyediakan.

Semangat Ibu.. Semoga dimudahkan.

Readmore - Mengajak Altan Berpuasa

5 Juni 2016

Menghafal Quran Bersama Altan

Mengikuti seleksi Dauroh Quran Ramadhan membuat satu persatu memori di Ma'had Tahfidz tiga tahun lalu terlintas. Tentang haru birunya menghafal Quran, hingga suara serak, hingga berderai-derai karena tak kunjung hafal, hingga lembaran demi lembaran Alquran perlahan usang saking seringnya dibaca dan dibolak balik. Juga.. tentang salah satu ummahat, teman kami sesama penghafal, yang selalu membawa putra putrinya turut serta menghafal meski masih balita.

Nyatanya tak mudah, menghafal sembari menggendong Altan. Dengan durasi hanya setengah jam kami diminta menghafal satu halaman Alquran yang belum pernah dihafal sama sekali. Tapi, saya bertekad Altan harus tetap ikut. Karena capaian yang saya inginkan adalah kami bersama-sama menghafal Quran.

Menit-menit pertama Altan masih tenang. Satu, dua, tiga ayat mulai bisa dihafalkan. Tapi kemudian Altan tidak nyaman. Maka saya berdiri menenangkan sembari tetap menghafal. Subhanallah.. ini tak mudah, tapi saya harus.

Sempat seorang nenek yang mengantarkan cucunya ikut seleksi menghampiri dan mengajak Altan bermain. Meski tak lama, Altan kembali ke pangkuan saya dan menunjukkan tanda-tanda haus. Dan.. A B C episode menenangkan Altan masih berlanjut hingga tiba giliran saya menyetorkan hafalan.

"Sip." Ustadzah Evi mengacungkan jempol. Padahal ada huruf yang salah ucap dan dibenarkan. Tapi legaaa.. setor juga akhirnya. Meski terlambat 15 menit, setidaknya satu episode menghafal bersama Altan telah terlewati.

Masih menanti kabar apakah saya diterima menjadi peserta dauroh atau tidak. Tapi apapun hasilnya, kita tetap menghafal Quran ya, Sayang <3

Bismillah.. Semoga Allah mudahkan.

Readmore - Menghafal Quran Bersama Altan

2 Juni 2016

Jadwal Edukasi Altan

Belajar dari salah satu ummahat KE(ren dan)CE(rdas), lahirlah jadwal edukasi yang masih jaaauh dari sempurna ini. Semacam ikrar bahwa keseharian Altan harus diisi dengan banyak hal positif. Kalau ga dibuat begini Mamanya lalai, huhuhu..

All day long murottal, bahwa Alquran membawa rahmat bagi pendengarnya. Rahmat itu bisa berupa ketenangan hati dan ketentraman jiwa. Bukan hanya untuk Altan, tapi juga kami orang tuanya. Sekaligus mengenalkan ragam kosa kata di dalamnya agar kelak mudah bagi Altan untuk membaca dan menghafalkan.

Murojaah saat mengASI. Selain untuk mengikat kembali hafalan (yang hingga hari ini belum juga mutqin), mengajak ikut menghafal Quran, juga menjadi waktu khusus untuk kami berdua, tidak diganggu gadget ataupun aktivitas lain yang membuat saya beralih dari memandang putra pertama kami ini dengan penuh cinta.

Ba'da Shubuh, waktu paling fresh di mana Altan mulai ber'aaaooo' ria, saya membacakan kisah dari terjemah Alquran, sesekali dari buku edukasi anak. Bahwa dengan kisah (bukan dongeng) Altan akan belajar banyak hikmah juga teladan. Ba'da Maghrib, meski agak sulit, terkadang saya upayakan untuk tetap membaca, karena saat mengantuk kabarnya menjadi salah satu waktu emas untuk menerima ilmu melalui alam bawah sadarnya.

Peran ayah pun saaangat besar untuk pendidikan anak. Jika dekat dengan ibu membuat anak memiliki karakter lembut, tekun, dan ulet, maka dekat dengan ayah akan mengajarkannya menjadi sosok pemberani dan bertanggung jawab. Dengan Mama Altan adalah sosok yang cerdas dan patuh, dengan Ayah Altan terlihat lebih aktif dan ekspresif. Play time! Mungkin begitu ya ((^.^')

Buku bantal, heboh sekali saat pertama membeli ini, setahun lalu saat Altan belum lahir. Meski akhir-akhir ini justru agak kurang dilirik. Alasan memilikinya dulu untuk menstimulus agar Altan suka membaca. Daaan.. supaya bukunya awet ((^.^') tapi ya.. buku sesungguhnya bukan yang seperti ini. Tapi setidaknya mengenalkan sejak dini kepada Altan tentang warna, tulisan, dan gambar.

Semoga.. ini bukan sekedar rencana. Semoga kami dimudahkan untuk merealisasikan. Bismillah..

Readmore - Jadwal Edukasi Altan

27 Mei 2016

Pesantren Quran Ramadhan

"Ibuuu.. ada Pesantren Quran Ramadhan di Darul Hikmah. Target 5 juz selama 20 hari," kata Intan suatu waktu.

"Ikut!" titah saya. "Semua harus daftar. Kita ga jadi bikin supermanzil mandiri Ramadhan ini. Kalian harus naik level."

Dan berbagai ragam 'tapi' keluar dari bibir mereka satu persatu.

"Mumpung ada kesempatan. Mumpung masih single. Jangan sampai di kemudian hari menyesal."

Berangkat, empat orang, untuk mendaftar meski ada ragu. Dan yang tiga tersisa, semoga kelak ikut mendaftar.

Ah.. anak-anak, tahukah.. saya begitu ingin mengikuti pesantren quran. Saaangat ingin. Tapi ada tanggungjawab lebih besar di sini, mendampingi suami juga putra kami yang masih bayi. Berangkatlah dalam keadaan ringan maupun berat! Karena sungguh, seusai Ramadhan, akan ada semangat jaaauh lebih besar daripada hanya berada di halaqah tahfidz kecil kita. Bertemu dengan sesama penghafal quran, saling berbagi motivasi dan inspirasi, akan memacu kita untuk lebih lebih dan lebiiih semangat berinteraksi dengan alquran.

Dan seusai tahfidz di pesantren, kabarkan sebahagia apa kalian di sana :)

*gambar diambil dari google.com

Readmore - Pesantren Quran Ramadhan

24 Mei 2016

Ia yang Kuat Itsar-nya

Dahulu, di hari-hari awal ba'da menikah, ketika pikiran saya terdominasi dengan honeymoon dan jalan-jalan, suami justru berkata, "..mending jalan-jalan ke tempat saudara, silaturahim." Dan ini menjadi karakter beliau hingga hari ini.

Jika kita pernah mendengar kata itsar (tingkatan tertinggi ukhuwah, mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan kita), mungkin itu yang menjadi prinsip beliau. Sesekali mendapat kisah, bahwa dahulu, saat hanya selembar uang sepuluh ribuan yang menemani perjalanan, beliau harus urus keperluan administrasi seorang teman (yang jauh lebih sempit kondisi ekonominya) supaya bisa dirawat gratis di rumah sakit. Kakinya hancur dan hampur amputasi karena kecelakaan. Bayangkan berapa ratus juta biaya yang harus dikeluarkan untuk berbulan-bulan perawatan di RS jika tidak ada Jamkesmas. Harus ada yang tuntaskan urusan administrasi! Maka beliau yang maju dengan bantuan beberapa teman. Dan kini.. melihat sang teman telah mampu berjalan bahkan mengendarai motor sendiri, membuat saya menitikkan air mata diam-diam.

Punya uang ataupun tidak, jika ada yang meminta bantuan, beliau akan memberi, ntah bagaimanapun caranya. Berapa kali dimintai bantuan untuk mencarikan pekerjaan, beliau bantu sekalipun sendirinya (dianggap) pengangguran oleh beberapa kalangan. Setiap kali berkunjung ke sebuah tempat, ".. kita ke tempat Pak Fulan (atau) Mbah Fulanah dulu.." sekedar menyelipkan beberapa lembar rupiah yang bisa diberikan. Melihat raut wajah bahagia dari mereka yang menerima, bagi beliau cukup.

Mungkin.. sebagai wujud terima kasih karena dahulu, untuk bisa menuntaskan pendidikan hingga sarjana, banyaaak sekali orang baik yang membantu.

Dan hari ini, saat tiba masa untuk memurojaah hadist (dalam program one day one hadist), saya tertegun. Ada.. Satu hadist yang bagi saya saaangat menghibur kami.

Tak ada yang tahu bagaimana kondisi kami, apakah lapang ataukah sempit, apakah memiliki ataukah kekurangan. Tapi saat ada yang datang meminta bantuan, maka Allah sedang menguji apakah kita yakin dengan pertolongannya atau tidak.

Cinta.. usiamu 29 tahun, 27 Mei nanti. Semoga barokah, semoga terus menebar manfaat.

Loving you always, lillah, fillah..

Readmore - Ia yang Kuat Itsar-nya

15 Mei 2016

Memperdengarkan Kisah untuk Altan

Mendapat tugas dari salah satu majelis ilmu untuk merangkum sejarah tentang Zaid Bin Khattab. Parahnya, saya baru ingat dua jam sebelum majelis ilmu dimulai! Waaa.. panik pun melanda. Sementara Baby Altan masih aktif-aktifnya dan sedikit protes jika diabaikan. Duh duuuh.. Semakin rewel saat mamanya pegang ponsel untuk buka-buka shirah dari jendela termudah mobile internet. Baiklah.. yuk, Nak, keliling dulu sambil digendong.

Mungkin karena tahu saya tidak fokus, tidak tenang, berkali-kali berusaha meraih ponsel meski tangan satunya tetap mendekap, Altan masih tidak bisa tenang. Padahal, biasanya tak butuh waktu lama untuk Altan tidur jika digendong kain. Dan tiba-tiba.. ah.. mengapa saya bisa lupa. "Altan Sholih mau ikut baca shirah ya.." perlahan, saya pun membacakan.

Seperti mendapat yang diinginkan, Altan terlihat tenang, dengan mimik wajah serius memperhatikan. Tapi matanya semakin sayu.. semakin berat.. dan.. tidur dengan lelapnya. Subhanallah.. Sembari mengecup perlahan keningnya, saya berbisik, "Maaf Sayang, Mama lupa Altan suka dibacakan cerita.."

Teringat kembali nasehat salah seorang ummahat tentang kurikulum pendidikan anak, terutama di seribu hari pertama kehidupannya. Bahwa memperdengarkan dan mengajak anak (sejak dalam kandungan) untuk berinteraksi dengan Alquran saja tidak cukup. Selama ini saya hanya memperdengarkan murottal dan memurojaah hafalan saat Altan minta ASI. Sementara nalarnya juga membutuhkan teladan dari kisah-kisah yang dibacakan dengan menggunakan bahasa ibu.

Beberapa kali mencoba membacakan terjemah Alquran ataupun buku cerita, Altan terlihat tertarik, bahkan merespon, "O.. ooo.. aooo.." membuat saya semakin bersemangat. Membacakan kisah (bukan dongeng) dengan harap kelak Altan bisa meneladani. Dan ini menjadi salah satu cara menambah kosakatanya selain bernyanyi.

Oh iya.. tentang bernyanyi. Awalnya saya suka menyanyikan lagu anak-anak, sesekali lagu anak-anak yang agak Islami. Tapi belakangan, karena sedang belajar menghafal huruf dalam Bahasa Arab plus artinya dan harus menyetorkan hafalan setiap hari, saya nyanyikan saat bersama Altan, "Bi dengan.. Ka seperti.. Li/la untuk.. ilaa kepada.. 'alaa di atas.. min dari.." dan diprotes ayahnya Altan karena nyanyinya pakai lagu qasidah dengan suara sumbang ((^.^')

Apapun itu.. Ikhtiar saja lah.. Nanti Allah yang menunjukkan Kuasanya. Menjadikan Altan (kelak) cerdas, sholih, nan ahlul Quran misalnya?

Bismillah.. Semoga Allah mudahkan..

Readmore - Memperdengarkan Kisah untuk Altan

8 Mei 2016

Altan Berenang

Akhirnya berenang \(^.^)/

Kolamnya udah nabung sejak hamil, buat renang Mamanya Altan dulu, hihihi.. Jadi belinya sengaja yang gede biar muat berdua bahkan bertiga ayahnya ((^.^')

Ini pakai air biasa lhooo, ga dingin ga hangat, untuk membiasakan aja supaya Altan kelak ga takut mandi. Pertama berenang sore pas gerah, jadi dicelup sebentar kakinya di air, udah digerak-gerakin sama Altan, lama-lama sepaha.. didudukin.. dan dilepas.. wuuu.. senengnyaaa.. Tapi pas dicoba pagi-pagi kelihatan agak takut dan megangin neck-ring terus, dingin mungkin ya ((^.^') baru mulai gerak-gerak lagi pas Mamanya ikut nyebur.

Berenang untuk bayi, di beberapa sumber dibolehkan sejak usia 3 bulan. Tapi di bidanku.com baru dibolehkan mulai usia 6 bulan. Tergantung ibu masing-masing. Intinya harus memastikan keselamatan si kecil. Yang pasti, selain melatih keberanian, berenang bagus untuk perkembangan otot dan motorik bayi. Daaan.. nyunnah juga kaaan.. Semoga lain kali diberi kesempatan dan waktu untuk membelajarkan memanah dan berkuda (Mamanya juga mau belajaaar hahaha..)

Happy holiday semuaaa.. (sambil ngelirik diri sendiri, koreksian tugas dan UTS mahasiswa masih numpuk belum tersentuh. Lupakan sejenak :D )

Readmore - Altan Berenang

3 Mei 2016

Rencana Menu MPASI Altan

Rencana menu MPASI Altan. Ga sabaaar \(^.^)/

Awalnya bingung step by step nya, ngulik buku di Gramedia pun ga nemu yang benar-benar klik. Daaan.. dipertemukan dengan grup Homemade Healthy Baby Food. Belajar banyak terutama panduan MPASI sesuai standar WHO.

Bahwa 14 hari pertama adalah menu tunggal untuk tes alergi.. Bahwa 7 hari pertama harus banyak eksplore protein hewani.. Bahwan padu padan karbo-protein-sayur-buah harus dilihat apakah sama-sama berserat tinggi (untuk meminimalisasi resiko sembelit).. Bahwa gula dan garam dihindarkan dari MPASI.. Bahwa untuk menghilangkan amis atau rasa getir bisa dengan bumbu aromatik.. Bahwa penyajian MPASI juga disandingkan dengan lemak tambahan (minyak kelapa, zaitun, unsalted butter, santan).. Sampaaai cara menyimpan dan memasak menunya. So lucky I am \(^.^)/

Menu ini mencontoh Bunda Mayang Piastiari, yang rajiiin banget pos diary MPASI putranya. Dari beliau juga saya belajar banyak. Trims a lot, Bunda.. Semoga terus menginspirasi dan menebar manfaat <3

Readmore - Rencana Menu MPASI Altan

29 April 2016

Perempuan Sederhana

Perempuan sederhana itu menghela napas, berusaha tetap bersabar meski ada nyeri yang dirasakannya. Kata-kata itu terucap dari Bu Lurah, yang oleh sebagian besar orang dijadikan panutan, "Walah Bu, Bu.. Punya anak kok banyak banyak. Untuk makan sih bisa dari bantu-bantu tetangga. Lha kalau sekolah apa bisa..?" Ia masih mengingatnya, hingga kini, berpuluh tahun berlalu sejak pertemuan itu.

Menjadi sederhana, menjadi berkecukupan, adalah hari-hari yang dilaluinya bersama keluarga. Bahwa makan hanya berlaukkan bawang goreng, tidur tanpa atap hingga tiga bulan karena genteng dijual demi membayar hutang, membuatnya kuat, membuat anak-anak pun tumbuh menjadi sosok yang kuat. Mereka tak dibesarkan dengan materi, tapi dari cinta kasih kedua orang tuanya. Beberapa dari mereka tak naik kelas di Sekolah Dasar, tetapi mereka telah lulus dari banyaknya cobaan hidup yang Allah berikan.

Siapa yang menyangka jika satu, dua, bahkan hampir semua anak-anak ini kelak menjadi sarjana ketika teman-temannya sekampung gagal dalam ujian masuk perguruan tinggi? Siapa yang menyangka bahwa rumah sederhana di salah satu sudut kampung itu selalu didatangi mobil saat anak-anak pulang mengunjungi orang tuanya? Maka saya begitu yakin bahwa doa seorang perempuan, seorang ibu, di kala sempitnya, menjadi salah satu doa yang tak tertolak.

Pagi itu, beliau menutup cerita dengan, "Ada rasa ingin ketemu Bu Lurah dan cerita, anak-anak bisa sekolah.. Tapi ya sudah, Allah yang Maha Tahu."

Beliau, perempuan sederhana itu, yang melahirkan suami saya. Mamak kami, salah satu panutan kami. Semoga kebaikan untuk beliau di dunia juga di akhirat.

*gambar diambil dari google.com

Readmore - Perempuan Sederhana

24 April 2016

Long Life Education

"Diantara yang kusesali adalah.. hari-hari berlalu sementara amalanku belum bertambah," begitu kata Umar bin Khatab ra. Tapi beberapa hari ini, agak meleset sedikit karena yang lebih terpikir adalah, "..hari-hari berlalu sementara setrikaan tetap menggunung." Dear Ibu Rumah Tangga, kau kah itu? ((^.^')

Teringat sebuah film pendek dari negeri seberang. Dalam sebuah adegannya, saya menemukan quote, "..apakah seorang ibu sepertiku tak boleh bermimpi?" Ya. Dalam hiruk pikuk yang tak kunjung berhenti, dalam kelelahan yang seolah mengejar ke sana ke mari, dalam haru biru juga suka cita menghadapi si kecil yang tak terprediksi, ada mimpi terselip di sana. Semisal, mimpi menjadi ahlul quran.

Kepada siapa lagi harus meminta jika bukan kepada Dia yang Maha Mengabulkan? Agar ditambahkan kekuatan, kesabaran, keikhlasan, juga kemampuan menyelesaikan semua.

Maka dalam hari-hari sempit dan waktu yang seolah berputar sangat cepat, saya memutuskan tetap thalabul 'ilmi meski via online. Cita-cita menjadi ahlul quran harus diikhtiarkan! Mengikuti grup hafalan quran One Day One Line, menghafal quran dengan metode gerakan tangan, menghafal quran dengan menerjemahkan perkata.. juga menghafal hadist dengan matannya. Ternyata.. aktivitas harian seperti ini membahagiakan! Bahwa hari-hari yang datang membawa energi baru yang terbaharukan.

Saya tak ingin menjadi bagian dari orang-orang yang berputus asa dan mengatakan, "..kenapa baru tau sekarang? Kenapa baru belajar sekarang?" Karena Long Life Education, Tarbiyah Madal Hayah, adalah benar adanya :)

"Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap mukmin." (Shahih Al Baihaqi dalam Syu'abul Iman)

Semangat thalabul 'ilmi (^^,)9

*gambar diambil dari google.com

Readmore - Long Life Education

21 April 2016

Mengejar Stok ASIP

"..bahwa mengejar stok lebih sulit daripada menabung."

Menjadi ibu pantang sakit, ternyata memang benar. Ada banyaaak sekali yang harus diselesaikan pasca 'kelalaian' beberapa hari lalu. Dan yang paling mendominasi pikiran saya adalah.. stok ASIP (ASI Perah) yang kurang. Diare menyebabkan saya sulit makan yang akhirnya berefek ke kuantitas ASI.

Selasa, Altan (4m) saya tinggal hanya dengan 4 botol ASIP yang dalam prediksi saya akan cukup bahkan sisa, mengingat jam siang ia lebih banyak tidur daripada terjaga. Ternyata, sejam sebelum kepulangan saya, ada pesan masuk, "Tunggu depan kampus ya.. Mau ambil ASIP." Sudah habis hanya dalam waltu kurang dari 6 jam? Subhanallah.. Maka pulangnya, saya meminum jus sayur lebih banyak dari biasanya.

Rabu, baru saja menyadari bahwa daya hisap Altan semakin kuat, kuantitas ASI yang dibutuhkannya semakin banyak. Saya hanya mampu menyediakan satu botol ASIP yang sedikit sekali volumenya. Akhirnya saya putuskan untuk izin tidak hadir di perkuliahan pagi. Tetap berniat ke kampus jika ASIP dirasa cukup untuk Altan saat saya tidak di rumah.

Hari ini.. Lagi-lagi izin dari perkuliahan pagi karena ASIP yang (dengan sekuat tenaga telah saya ikhtiarkan) belum cukup membuat saya tenang meninggalkan Altan. Maaf Sayang, ibumu ternyata begitu lalai..

Minum lebih banyak dari biasanya, jus sayur pun dikonsumsi lebih banyak, dan masih mengikhtiarkan untuk membuat infused water dari kurma. Doakan saya bisa amanah dengan semuanya, terutama menyediakan ASI yang cukup untuk Altan.

*gambar diambil dari google.com

Readmore - Mengejar Stok ASIP

17 April 2016

Yang Tak Terprediksi

Ambruk! Akibat terlalu pede melahap mie instan sisa sarapan untuk makan malam, dalam kondisi perut kosong seharian. Terlalu dzalim dengan diri, sok lincah ke sana ke mari menghadiri rentetan agenda yang padat merayap sampai lupa dengan hak perut. Dan.. seketika suami menyampaikan bela sungkawa dengan, "..makanya, kalau.. jangan.." di saat perut mulai mulas dan toilet menjadi langganan selama beberapa jam.

Godaan untuk marah begitu besar, karena fisik yang tak karuan, sementara pekerjaan rumah belum tersentuh sama sekali, baby tidur dengan banyak semut mengerumuni sisa jajanan di ruang tengah. Aaah.. Ya Allah. Dan saya mengikuti saran suami untuk tidur saja. Menyelamatkan lisan dari dosa.

Beruntung ini Ahad, hari di mana saya ingiiin sekali merasa santai dengan semuanya. Pamit sebentar untuk mencari sarapan, ternyata beliau pulang agak terlambat. "Yuk, makan." Saya menatap curiga, katanya bubur ayam.. kok? "Kasian lihat dirimu kesakitan semalam. Ini lho ada zuppa (appetizer favorit saya yang hanya tersedia sepekan sekali di pasar kaget)." Subhanallah..

Selalu tak terprediksi, selalu punya cara untuk menghibur. Dan bagi saya, itu cukup :)

Terima kasih, Cinta..

Readmore - Yang Tak Terprediksi

16 April 2016

Jus Bayam~Wortel~Bengkuang

Kabar gembira \(^.^)/ (untuk kita semua.. ups)

Awalnya saya pikir kebetulan, di hari yang sama saat pertama konsumsi jus sayur, sepulang dari kampus saya sedikit terkesima saat pumping dan mendapatkan ASI 2-3 kali lipat banyaknya dari hari-hari sebelumnya. Masa siy karena jus sayur, padahal cuma segelas. Hari berikutnya pun saya coba daaan.. ternyata benar! Waaah membahagiakan sekali untuk ibu menyusui \(^.^)/

Kali ini mencoba saran teman supaya jusnya lebih terasa manis (alami tanpa gula). Yap, ditambah bengkuang. Ternyata umbi ini masuk kategori sayur. Selain manis lebih segar juga rasanya.

Warna jusnya hijau pekat ya ((^.^') tergantung komposisi kok.. Kalau mau banyakin bengkuangnya juga bisa. Takarannya suka suka deeeh..

Semangat hidup sehat (^^,)9

Readmore - Jus Bayam~Wortel~Bengkuang

13 April 2016

Be Honest, Dear..

Salah seorang mahasiswa, yang penampilannya modis, yang terbiasa membawa tas kecil (ntah membawa buku atau tidak) ke kelas, hari ini membuat saya bangga, "..mending dikumpul aja daripada nyontek," katanya sembari bangkit dan mengumpulkan lembar jawaban UTS ke meja saya. Dia yang pertama.

Dan.. ketika saya menyampaikan kebanggaan saya itu kepada teman-temannya yang masih sibuk dengan alat tulis dan lembar jawaban, seketika satu dua dan beberapa peserta ujian yang lain bangkit untuk mengumpulkan lembar jawaban mereka. "Udah ah, Bu. Pusing." Beberapa menit lalu mereka masih gelisah, menoleh ke kanan dan ke kiri, berbisik-bisik, melirik lembar jawaban teman, dan aksi lain yang cukup membuat wajah saya masam. Baiklah.. kemajuan.

Memotivasi mahasiswa agar mereka percaya diri, bahwa mereka mampu menyelesaikan ujian itu dengan baik, dengan kemampuannya sendiri, bukan hal mudah. Meski berulang kali saya tekankan, "..saya menilai proses pembelajaran kalian, bukan semata jawaban di lembar ujian." Tetap ada mahasiswa yang lebih takut nilainya kecil, sementara barokahnya ilmu, ntah ia dapat atau tidak.

Ah.. ya, barokah ilmu. Tidak semua pembelajar memahami ini. Karena di kampus swasta, tak sedikit mahasiswa yang niat awalnya adalah 'yang penting dapat ijazah'. Maka dalam pembelajaran, saya lebih banyak mengajak diskusi tentang bagaimana menjadi pribadi berintegritas tinggi, bagaimana bermimpi besar, bagaimana meraihnya, ketimbang banyak berkutat dengan teorema selevel Analisis Real. Meski begitu, saya tetap ingin menyelamatkan mereka yang disiplin, serius, dan benar-benar pembelajar, supaya mendapatkan haknya dengan menjaga ujian seketat mungkin.

"Kita lagi Ujian Nasional ya?" dengan nada nyinyir, salah seorang mahasiswa menyeletuk suatu waktu. Saya bergeming, tetap dalam posisi berdiri selama ujian berlangsung, dengan mata beredar ke seluruh ruangan, sesekali berjalan menghampiri mereka yang mencurigakan dan memberi tanda di lembar jawabannya. Being honest, dear.. setidaknya untuk menyelamatkan diri dari ketakutan 'saya tidak bisa'. Bahwa dengan menyontek, atau sekedar bertanya memastikan jawaban ke teman, kalian sedang perlahan membunuh potensi diri kalian yang luar biasa. Being honest, dan kalian pun sedang menghormati hak teman kalian untuk berkonsentrasi menyelesaikan ujian mereka.

Saya tak peduli ketika salah seorang teman dosen berkomentar, "Udah lah, Bu. Kita ini tahu mana yang pintar mana yang ga. Kalau kita terlalu ketat di ujian, mahasiswa jadi benci." Saya ingin menunjukkan kepada mereka, begini caranya berkompetisi. Dan lagi, sikap acuh pendidik untuk satu hal (yang dianggap) sepele ini bisa berdampak besar dalam membentuk karakter mereka. Mendidik artinya mengajak berubah, bukan mengikuti arus.

Semoga kalian, para mahasiswa yang optimal berusaha menyelesaikan tugas-tugas belajar dimudahkan meraih cita-cita. Dan semoga.. kalian yang masih belum percaya diri dalam ujian memahami bahwa ujian di bangku sekolah tak ada seujung kuku dari ujian yang sesungguhnya :)

[Gambar diambil dari google.com]

Readmore - Be Honest, Dear..

6 April 2016

First Trial ~> Jus Sayur

Ketika salah satu grup WA ramai bincang-bincang seputar food combining, saya hanya menyimak. Gimana yaaa.. mau sesuai pentunJUK peLAKsanaan, saya masih doyan-doyannya makan, huhu.. apa aja deh, yang ada di depan, bisa habis tanpa ba bi bu tanpa ca ci cu (tapi berdoa dulu, hihihi). Tapiii karena saya juga kepengen sehat, tergoda juga nyobain: jus sayur.

Ga banyak yang diblender, cukup segelas karena takut ga habis :D lagian jus sayur itu harus fresh. Dan ternyata rasanya cukup bersahabat :3 mungkin karena ada tambahan jeruk nipis. Besok-besok sepertinya tertarik untuk mencoba resep lain,nyam nyam..

Readmore - First Trial ~> Jus Sayur

27 Maret 2016

Marah

Bahwa menjadi yang kuat, yang mampu menahan amarah kata Rasul, ternyata tidak mudah. Bahwa "..jangan marah dan bagimu surga" perlu usaha keras. Tapi, meski tak mudah, cukup mengingat, "..berkatalah yang baik atau diam" maka saya memilih untuk menjauh ketika marah. Menjauh, dengan ribuan kata bergumul di otak, bahwa saya tengah menumpahkan semua amarah juga kekesalan dalam imajinasi, yang kemudian mengalir melalui bening di sudut mata. Meski jelas, banyak sekali godaan untuk berkata-kata, membela diri misalnya, bahwa saya telah melakukan ini, ini, dan ini. Ah.. bagaimana jika setiap kebaikan yang telah Allah catat, beterbangan layaknya debu..

Diantara waktu sempit yang datang, berdoa menjadi aktivitas favorit. Salah satunya, "Allahku, jika apa yang telah kuusahakan bernilai kebaikan di sisiMu, anugerahkanlah kepadaku sebuah rumah, di surga." Dan perlahan.. energi memaafkan itu menghampiri.

Maaf.. untuk sesiapapun yang pernah melihat saya marah. Semoga kelak semakin bijak..

Sumber gambar: google.com

Readmore - Marah

24 Maret 2016

Parfum (Kalian Berdua)?

Precious Moments Eau de Parfum. Pertama kenal ini karena ada kado (yang ntah mengapa tidak disematkan siapa nama pemberinya) di antara kado-kado pernikahan kami. Dan.. seketika jatuh cinta (setiap kali suami memakainya) <3

Setahun lebih, dan parfum itu habis. Ntah harus membeli (kembali) di mana karena nama produsennya terlihat asing. Hingga suatu saat, di antara lembaran kertas yang bertumpuk di meja dosen, saya menemukan katalog Oriflame dan iseng membuka. Dan waaah.. seperti dejafu saat menemukan gambar parfum ini di salah satu halamannya.

Butuh waktu cukup lama bagi saya hingga akhirnya memutuskan untuk membeli, karena, yeah.. nominal yang tertera cukup wah untuk dompet kami. Tapi.. demi sebuah romantisme suami-istri (uhuk) yang ingin kembali disemai pasca memiliki bayi, saya memutuskan untuk order ke salah satu dosen senior yang membawa katalog baru setiap bulannya. Otomatis menjadi member, yang artinya mendapat potongan.

Tahukah apa yang paling menarik? Ternyata parfum ini memang untuk menguatkan hubungan cinta ^^

Readmore - Parfum (Kalian Berdua)?

22 Maret 2016

Jumbo Seafood

Dinner di luar, semacam agenda rutin perdua bulan, biasanya karena ada salah satu anggota keluarga yang bilangan usianya bertambah. Ntah mengapa requestnya selalu ke rumah makan seafood. Mungkin karena ayam-ayaman, bebek-bebekan, daging-dagingan, atau roti-rotian terlalu mainstream :D Berhubung rumah makan seafood favorit keluarga kami tutup, alhasil kami mencari referensi lain dan menemukan ini.

Pertama tiba di tempat parkir, maaak.. elit agaknya ini. Intip-intip dompet, cukup ga untuk makan bertujuh (Altan -3m- dihitung haha). Jadi strateginya adalah, bapak sopir (yang adalah suami saya sendiri) turun untuk cek menu plus harga. Biar ah.. apa kata tukang parkir. Bukan dia ini yang bayarin makannya :D Beberapa menit berselang, "Aman." Yeee semobil turun semua dan langsung cari lesehan.

Recommend menurut saya. Selain karena tempatnya luas, rapi, bersih, pelayanannya juga ekspres wow :o Bisa ditengok dapurnya. Ada kali ya dua puluh juru masak. Pesan kepiting, udang, cumi, dua gurame, tumis kangkung dan brokoli plus minum, ga sampai sepuluh menit udah datang. Waaah.. Giranglah perut-perut lapar. Sikaaaaaaat..! Bisa dibayangkan perempuan jelita tiba-tiba berubah beringas karena alasan 'menyusui' #alibi haha..

Mohon maaf hanya menyisakan foto ini pemirsah. Saking amazingnya, piring-piring keburu kosong sebelum difoto ((^.^')

Oh iya, harga? Sesuai dengan kepuasan #elusperut. Dengan menu pesanan kami itu, plus ppn 10%, empat ratus ribu pake kembalian (^^,)v

Readmore - Jumbo Seafood

21 Maret 2016

Dear Ponsel Kesayangan

Jika sebuah benda mati kelak dihisab, maka saya percaya, ponsel bersejarah ini akan mendapatkan tempat di surga.

Tujuh tahun memilikinya dan (hampir) tak pernah mengeluhkan kesetiaannya. Suaranya yang jernih, aplikasinya yang cukup bisa melayani kebutuhan tuannya, ukurannya yang tidak menyulitkan pengguna.. dan ia 'sekarat' sudah lebih dari setahun. Saya tetap mempertahankan, karena hingga kini, suaranya masih jernih melantunkan murottal untuk menemani saya dalam aktivitas seharian, membantu murojaah lewat lantunan ayat Alquran dari Syeikh Misyari dan Al Ghomidi.

Tak peduli orang bilang apa tentang fisikmu. Selama kau masih bisa berbakti, semoga Allah panjangkan pula usiamu..

Readmore - Dear Ponsel Kesayangan

11 Maret 2016

Cake Kuning Telur

~Cake Kuning Telur

Punya baby dan bisa bikin ginian itu membanggakan sekali \(^.^)/

Sepintas kaya bolu biasa ya.. Tapi ini lebih lembuuut dan ga 'seret' kaya bolu. Ntah kalau Bolu Jerman, belum pernah nyobain haha..

Waktu diangkat dari oven bahagiaaa banget karena warna permukaan cakenya bagus, putih kecokelatan. Ternyata dalamnya golden, yeah.. meski teknik ngeluarin dari cetakannya mesti belajar lagi (--,)a kurang tepung kayanya jadi pada nempel di cetakan.

Terpenting, komen beliau (suami-red) kali ini, "Lumayan.. bisa buat cemilan nanti malam." :3

Resep saya dapat dari Bunda Maria Liu di grup masak facebook. Karena first trial, saya pakai setengah resep :D

Versi saya:

~4 kuning telur + 1 telur (kuning&putih)  + 75gr gula pasir dimix dengan kecepatan tinggi sampai adonan mengembang berjejak

~Matikan mixer, tambahkan 50gr terigu yang sudah diayak, aduk dengan teknik aduk balik

~Masukkam 50gr margarin (yang telah dilelehkan sebelumnya), aduk rata

~Tuang ke dalam cetakan yang sebelumnya dioles margarin dan ditabur terigu

~Panggang dengan api kecil selama 24 menit (sebelumnya panaskan oven terlebih dahulu), kemudian besarkan api dan panggang 15 menit. Tusuk dengan lidi. Jika tidak ada adonan menempel, artinya cake sudah matang.

Enjoy it ^^

Readmore - Cake Kuning Telur

Guruku Motivasiku

"Kok ga ada motivasi, Bu?" tanya Wisnu saat saya (agak tergesa) menutup pertemuan hari itu karena mengejar waktu untuk memasuki kelas berikutnya.

"Iya, saya buru-buru. Pekan depan ya.."

"Yaaah.. Ibu."

Saya mengulum senyum. Ternyata, ada yang menantikan saya bercerita atau sekedar memberi satu dua kata penyemangat.

Dahulu ketika sekolah, saya senang jika guru mengajak diskusi tentang hal-hal menarik di sekitar kami. Sesuatu yang berbeda, di luar materi pelajaran yang terkadang menjenuhkan. Beliau, para guru, meminta kami berpikir besar, bermimpi besar. Maka, itu yang juga saya lakukan saat berada di posisi mereka.

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika tentu tahu rumitnya Kalkulus, ribetnya Statistika, juga abstraknya Analisis Real. Tapi saya yakin, di balik setiap mata kuliah ini, ada banyak pelajaran yang bisa diambil. Saya tidak ingin hanya rumit, ribet, dan abstrak saja yang ada di benak mereka. Belajar dari seorang teman (yang juga saya anggap sebagai guru), belajar adalah tentang nilai (value), bukan melulu tentang nilai (mark). Maka jika selepas mata kuliah ini mereka masih terfokus dengan bagaimana mendapat A atau B, bukan seberapa banyak manfaat yang mampu mereka beri untuk masyarakat, berarti saya gagal.

"Janganlah seorang muslim bermimpi, kecuali mimpi yang besar." (Umar Bin Kaththab ra.)

Readmore - Guruku Motivasiku

7 Maret 2016

Nuansa Alquran saat Memberi ASI

Baru beberapa hari mencoba mempraktekkan ini. Biasanya saya tilawah atau murojaah di dekat Altan, tapi tidak terprogram, tidak berurutan, dan (bisa jadi) tidak saya niatkan untuknya melainkan untuk memenuhi target tilawah dan murojaah harian saya.

Awalnya, seperti yang dilakukan oleh ibu hafidzah tersebut, saya membacakan satu halaman alquran saat memberi ASI. Ternyata Altan rewel karena (mungkin) merasa bahwa tangan dan mata saya justru tertuju pada Alquran yang saya pegang. Maka, akhirnya saya hanya melantunkan surat-surat yang saya hafal, start Al Fatihah, An Naas, Al Falaq, dan berurut ke atas, satu surat setiap kali memberi ASI, tetapi diulang terus sampai Altan tertidur. Sembari mengusap perlahan kepalanya, sesekali mencium, dan.. Altan lebih tenang. Terkadang matanya terlihat fokus, atau mencari-cari wajah saya (sumber suara), dan tak jarang ia bergumam, "Ngg.. ngg.." seperti mengiyakan ayat-ayat Allah yang didengarnya.

Semoga terus bertumbuh dalam nuansa Alquran ya, Sayang.. semoga bertumbuh pula kecintaanmu terhadap Alquran dan Dia yang menurunkan.

Readmore - Nuansa Alquran saat Memberi ASI

6 Maret 2016

Belajar Menjadi Ibu

Menjadi 'new mom' memang bukan soal mudah. Saya kira, banyak membaca, mengikuti diskusi seputar pendidikan anak, cukup. Ternyata perlu juga mempersiapkan mental terutama menghadapi banyak suara yang berdatangan, harus ini harus itu, yang terkadang menjatuhkan mental, "I'm not good enogh."

Dalam masa belajar ini, saya (merasa) lebih butuh disupport daripada justifikasi mengapa tidak begini mengapa tidak begitu. Meski tetap saya menghargainya sebagai bentuk perhatian.

Seperti saat Altan sakit. Ini untuk yang pertama kalinya. Mungkin karena saya yang (bermaksud mengenalkan, tetapi justru) ceroboh ketika sabtu lalu mengajak Altan ke majelis ilmu. Usianya dua bulan, saya pikir cukup aman. Tetapi malamnya suhu badan Altan naik. Sempat curiga ini gejala sakit, tetapi suami menenangkan, "Cuma kepanasan kok, coba bawa keluar kamar." Dan ternyata Senin malam ada cairan bening yang mengganggu hidungnya. Altan flu.

Yang saya tahu, batas wajarnya adalah 3-10 hari. Maka selama menunggu batas maksimal, saya menjemurnya di pagi hari, memberi uap dari air panas yang ditetesi telon, mengoleskan balsam bayi di dada dan punggungnya, meminum madu, Yakult, jamu beras kencur, berharap nutrisinya (melalui ASI) bisa meringankan sakit Altan. Saya percaya ini berhasil, apalagi Altan adalah bayi ASI. Tentu saja saya berencana mengunjungi dokter, tetapi nanti ketika (setidaknya) satu pekan terlewati dan sakitnya tidak membaik. Hanya tidak ingin menjadi ibu yang panik, maka saya menyiapkan bekal ilmu dari berbagai sumber.

Alhamdulillah, Sabtu pagi caiean di hidungnya telah mengering. Sampai hari ini, saya masih melanjutkan ikhtiar-ikhtiar penyembuhan ala rumahan, karena sesekali Altan batuk dengan dahak di tenggorokan.

Dari pengalaman ini, saya hanya menitipkan satu harap: beri saya kesempatan belajar :)

Readmore - Belajar Menjadi Ibu

5 Maret 2016

Sebaik-baik Pengasuh untuk Altan

Pernah nonton Children of Heaven? Tentang dua kakak beradik yang bergantian memakai sepatu ke sekolah karena keluarga mereka yang kurang mampu. Pagi sang adik yang memakai sepatu (kebesaran), siang giliran sang kakak. Begitu setiap hari. Dan apa yang saya alami hari ini membuat saya teringat film berkesan itu ((^.^') suami belum pulang dari rapat sementara saya harus tiba pukul 3 sore di kampus. Maka ketika beliau tiba, saya bergegas memacu Revo Hijau kesayangan agar segera sampai di kampus.

Saya dan suami bergiliran menjaga Altan. Beruntungnya, suami tidak memiliki jam kantor yang mengharuskan stand by dari jam sekian hingga jam sekian. Meski resikonya terkadang saya harus terlambat ke kampus jika beliau belum pulang (belum ada pengganti) untuk menjaga buah hati kami. Bersyukur pula, sewaktu-waktu nenek Altan berkunjung dan (gembira sekali jika harus) mengasuh Altan sementara saya dan suami keluar sejenak untuk menuntaskan amanah.

Pengasuh anak, sensitif sekali bagi saya. Sejak hamil, ini sudah kami pikirkan. Bahwa kami tidak ingin Altan diasuh oleh sembarang orang. Kami penanggungjawab utama pendidikannya. Maka ketika di periode emas kami lalai, ntah bagaimana masa depannya kelak.
Sebagai perempuan, tentu besar sekali keinginan untuk menjadi full time mother, memperhatikan setiap tumbuh kembang anak dengan baik. Tetapi, ada banyak sisi yang harus dilihat secara bijak, bahwa kita (dengan berjuta cita) dikelilingi orang-orang terkasih yang menaruh harapan kepada kita.

Menjadi dosen bukanlah cita-cita utama saya. Namun, ketika orang tua menaruh harap besar, sementara dengan itu pula saya memiliki ruang untuk berkarya, saya tetap melanjutkan. Ini bukan profesi, melainkan salah satu lahan ibadah. Maka dalam untaian doa saya hanya mampu berbisik, "Allahku, mampukan aku untuk menjadi sebaik-baik anak, sebaik-baik istri, sebaik-baik ibu, juga sebaik-baik hamba yang ingin menebar kebaikan untuk umat."

Terpenting suami ridho. Maka selanjutnya, kami yang harus pintar-pintar mencari 'win-win solution'. Allah yang akan membukakan jalan :)

*gambar diambil dari google.com

Readmore - Sebaik-baik Pengasuh untuk Altan

1 Maret 2016

Kentang Krispi

Kentang Krispi ~ Selalu penasaran dengan resep ini karena (mencoba beberapa resep) belum pernah benar-benar segaring milik Mc.D. Atau saya yang payah dalam teknik menggoreng? ((^.^')

Melihat penampakannya sebelum masuk freezer (setelah dibumbui, sebelum digoreng) sudah optimis sangat. But.. yeah.. lagi-lagi 'garing sesaat, melempem kemudian' setelah matang. Tapi, dengan antusiasnya suami mencomot sebelum semua kentang digoreng, "Enak ini, Yank." Tumbeeen komennya membahagiakan :D

Baiklah.. mungkin saya payah dalam masak-memasak, apalagi dalam hal seni (foodphotograph), tapi dengan rasa yang memukau sekalipun penampilan kurang menarik, itu cukup menghibur ((^.^')

Resep bisa cek di sini.

Readmore - Kentang Krispi

14 Februari 2016

Sebuah Proses Menjadi Ahlul Quran

Suatu saat dalam grup tahfidz, "Alaaaa inna nashrallaahi qoriib, itu ada di surat dan ayat berapa, akhwati?". Seketika saya mengingat-ingat. Familiar, tapi di surat apa ya.. Albaqarah sepertinya. Tapi ayat berapa..

"Albaqarah, pertengahan juz 2, ayat 214 kalau ga salah," jawab teman yang lain selang beberapa detik. MasyaAllah.. dan saya begitu malu.

Di lain waktu, dalam sebuah diskusi untuk menentukan kepengurusan baru tahfidz online kami, salah seorang teman mengingatkan, "Tsabbit qolbi.. tsabbit.." saya tertegun. Lagi-lagi tak paham artinya jika beliau tidak meneruskan, "Teguh.. teguh.."

Ah.. betapa dangkalnya ilmu saya..

Menjadi ahlul Qur'an adalah sebuah perjalanan panjang. Meski dengan banyak membaca dan menghafalkan kita tetap mendapatkan kebaikan: hati tenang, lisan dan laku terjaga, tetapi jika kita tak mengerti yang kita hafalkan, bagaimana kita mengamalkan?

Bersemangatlah wahai hamba yang merindukan surga! Sekalipun panjang, janganlah berhenti meniti perjalanannya. Tetaplah membaca dan menghafalkan Alquran, sembari sedikit demi sedikit belajar memahami artinya.

Bismillah..

*gambar diambil dari google

Readmore - Sebuah Proses Menjadi Ahlul Quran

27 Januari 2016

Ia dan Cintanya

"..lelaki tak butuh banyak kata untuk cinta."

Foto ini diam-diam saya ambil saat beliau tertidur setelah mendiamkan si kecil yang rewel, sementara saya disibukkan dengan berbagai pekerjaan rumah tangga beberapa hari lalu. Sementara hari ini.. sekalipun tak berbekal foto, saya ingin berterima kasih banyaaak untuk beliau yang luar biasa (sayangnya hingga) membiarkan istrinya beristirahat.

Sebagai ibu muda, menyediakan mata yang selalu berjaga, apalagi saat tengah malam, adalah sesuatu yang berat awalnya. Tak hanya mata, tangan dan kaki yang sigap pun diperlukan: untuk memberi ASI, mengganti popok, menenangkan bayi berumur beberapa hari yang belum tahu cara berkomunikasi.. Dengan list pekerjaan rumah yang juga harus tetap dikerjakan bagaimanapun kondisinya.

Mungkin beliau melihat kelelahan itu..

Malam ini, saya meminta beristirahat agak awal karena kantuk yang tak tertahankan. Seharian Altan rewel, selalu menangis setiap kali dibaringkan. Maka seharian itulah saya menenangkan, membopong berkeliling rumah, sambil tetap mencuci, menjemur pakaian, melipat popok yang kering..

Dan ketika terbangun, beliau sedang bersiap tidur di samping saya, sementara Altan sudah tenang berbaring tak jauh dari kami. "Udah jam dua," bisiknya. "Mau tidur dulu."

Jam dua? Bagaimana mungkin saya tidak terbangun sama sekali. Tidakkah Altan menangis? Minta ASI misalnya? "Udah tadi mimik yang di botol di kulkas," kata beliau lagi. Ketika menilik ruang tengah, ternyata setiap perlengkapan Altan ada di sana, plus ayunan yang ntah kapan beliau membuatnya. Benar-benar memberi kesempatan saya beristirahat.

"Makasih, Sayang.."

Semoga kebaikan dunia dan akhirat untuk beliau. We are partner after all..

Readmore - Ia dan Cintanya

17 Januari 2016

Kelapangan Menerima Kebenaran

Seringkali kita menemukan teman (mungkin juga saudara) yang memposting hal-hal yang terasa mengganjal di hati. Dan kita, yang terbatas ilmunya, tak jarang pula tergesa-gesa menjustifikasi kemudian ikut berkomentar. Padahal.. bisa jadi komentar kita membuat sang pemilik postingan merasa tak berkenan. Dan tak dipungkiri, saya adalah salah satu dari sekian banyak pembuat postingan yang merasa tak berkenan jika diberi komentar yang berlawanan.

Ah.. manusia. Tempat di mana kesalahan lalu lalang dan kemudian hinggap. Kita hanya diberi titah untuk "saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran". Maka, setelah itu berlepas dirilah, biarkan Allah, yang Maha Membolak Balik Hati, yang menyelesaikan. Bukan memaksakan orang lain harus mengiyakan yang kita kata.

Semoga kita semakin lapang dalam menerima kebenaran.. dan semoga kita, tak juga 'sok tahu' karena dalih menyampaikan kebenaran.

Readmore - Kelapangan Menerima Kebenaran