Social Icons

27 Januari 2016

Ia dan Cintanya

"..lelaki tak butuh banyak kata untuk cinta."

Foto ini diam-diam saya ambil saat beliau tertidur setelah mendiamkan si kecil yang rewel, sementara saya disibukkan dengan berbagai pekerjaan rumah tangga beberapa hari lalu. Sementara hari ini.. sekalipun tak berbekal foto, saya ingin berterima kasih banyaaak untuk beliau yang luar biasa (sayangnya hingga) membiarkan istrinya beristirahat.

Sebagai ibu muda, menyediakan mata yang selalu berjaga, apalagi saat tengah malam, adalah sesuatu yang berat awalnya. Tak hanya mata, tangan dan kaki yang sigap pun diperlukan: untuk memberi ASI, mengganti popok, menenangkan bayi berumur beberapa hari yang belum tahu cara berkomunikasi.. Dengan list pekerjaan rumah yang juga harus tetap dikerjakan bagaimanapun kondisinya.

Mungkin beliau melihat kelelahan itu..

Malam ini, saya meminta beristirahat agak awal karena kantuk yang tak tertahankan. Seharian Altan rewel, selalu menangis setiap kali dibaringkan. Maka seharian itulah saya menenangkan, membopong berkeliling rumah, sambil tetap mencuci, menjemur pakaian, melipat popok yang kering..

Dan ketika terbangun, beliau sedang bersiap tidur di samping saya, sementara Altan sudah tenang berbaring tak jauh dari kami. "Udah jam dua," bisiknya. "Mau tidur dulu."

Jam dua? Bagaimana mungkin saya tidak terbangun sama sekali. Tidakkah Altan menangis? Minta ASI misalnya? "Udah tadi mimik yang di botol di kulkas," kata beliau lagi. Ketika menilik ruang tengah, ternyata setiap perlengkapan Altan ada di sana, plus ayunan yang ntah kapan beliau membuatnya. Benar-benar memberi kesempatan saya beristirahat.

"Makasih, Sayang.."

Semoga kebaikan dunia dan akhirat untuk beliau. We are partner after all..

Readmore - Ia dan Cintanya

17 Januari 2016

Kelapangan Menerima Kebenaran

Seringkali kita menemukan teman (mungkin juga saudara) yang memposting hal-hal yang terasa mengganjal di hati. Dan kita, yang terbatas ilmunya, tak jarang pula tergesa-gesa menjustifikasi kemudian ikut berkomentar. Padahal.. bisa jadi komentar kita membuat sang pemilik postingan merasa tak berkenan. Dan tak dipungkiri, saya adalah salah satu dari sekian banyak pembuat postingan yang merasa tak berkenan jika diberi komentar yang berlawanan.

Ah.. manusia. Tempat di mana kesalahan lalu lalang dan kemudian hinggap. Kita hanya diberi titah untuk "saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran". Maka, setelah itu berlepas dirilah, biarkan Allah, yang Maha Membolak Balik Hati, yang menyelesaikan. Bukan memaksakan orang lain harus mengiyakan yang kita kata.

Semoga kita semakin lapang dalam menerima kebenaran.. dan semoga kita, tak juga 'sok tahu' karena dalih menyampaikan kebenaran.

Readmore - Kelapangan Menerima Kebenaran