Social Icons

27 Maret 2016

Marah

Bahwa menjadi yang kuat, yang mampu menahan amarah kata Rasul, ternyata tidak mudah. Bahwa "..jangan marah dan bagimu surga" perlu usaha keras. Tapi, meski tak mudah, cukup mengingat, "..berkatalah yang baik atau diam" maka saya memilih untuk menjauh ketika marah. Menjauh, dengan ribuan kata bergumul di otak, bahwa saya tengah menumpahkan semua amarah juga kekesalan dalam imajinasi, yang kemudian mengalir melalui bening di sudut mata. Meski jelas, banyak sekali godaan untuk berkata-kata, membela diri misalnya, bahwa saya telah melakukan ini, ini, dan ini. Ah.. bagaimana jika setiap kebaikan yang telah Allah catat, beterbangan layaknya debu..

Diantara waktu sempit yang datang, berdoa menjadi aktivitas favorit. Salah satunya, "Allahku, jika apa yang telah kuusahakan bernilai kebaikan di sisiMu, anugerahkanlah kepadaku sebuah rumah, di surga." Dan perlahan.. energi memaafkan itu menghampiri.

Maaf.. untuk sesiapapun yang pernah melihat saya marah. Semoga kelak semakin bijak..

Sumber gambar: google.com

Readmore - Marah

24 Maret 2016

Parfum (Kalian Berdua)?

Precious Moments Eau de Parfum. Pertama kenal ini karena ada kado (yang ntah mengapa tidak disematkan siapa nama pemberinya) di antara kado-kado pernikahan kami. Dan.. seketika jatuh cinta (setiap kali suami memakainya) <3

Setahun lebih, dan parfum itu habis. Ntah harus membeli (kembali) di mana karena nama produsennya terlihat asing. Hingga suatu saat, di antara lembaran kertas yang bertumpuk di meja dosen, saya menemukan katalog Oriflame dan iseng membuka. Dan waaah.. seperti dejafu saat menemukan gambar parfum ini di salah satu halamannya.

Butuh waktu cukup lama bagi saya hingga akhirnya memutuskan untuk membeli, karena, yeah.. nominal yang tertera cukup wah untuk dompet kami. Tapi.. demi sebuah romantisme suami-istri (uhuk) yang ingin kembali disemai pasca memiliki bayi, saya memutuskan untuk order ke salah satu dosen senior yang membawa katalog baru setiap bulannya. Otomatis menjadi member, yang artinya mendapat potongan.

Tahukah apa yang paling menarik? Ternyata parfum ini memang untuk menguatkan hubungan cinta ^^

Readmore - Parfum (Kalian Berdua)?

22 Maret 2016

Jumbo Seafood

Dinner di luar, semacam agenda rutin perdua bulan, biasanya karena ada salah satu anggota keluarga yang bilangan usianya bertambah. Ntah mengapa requestnya selalu ke rumah makan seafood. Mungkin karena ayam-ayaman, bebek-bebekan, daging-dagingan, atau roti-rotian terlalu mainstream :D Berhubung rumah makan seafood favorit keluarga kami tutup, alhasil kami mencari referensi lain dan menemukan ini.

Pertama tiba di tempat parkir, maaak.. elit agaknya ini. Intip-intip dompet, cukup ga untuk makan bertujuh (Altan -3m- dihitung haha). Jadi strateginya adalah, bapak sopir (yang adalah suami saya sendiri) turun untuk cek menu plus harga. Biar ah.. apa kata tukang parkir. Bukan dia ini yang bayarin makannya :D Beberapa menit berselang, "Aman." Yeee semobil turun semua dan langsung cari lesehan.

Recommend menurut saya. Selain karena tempatnya luas, rapi, bersih, pelayanannya juga ekspres wow :o Bisa ditengok dapurnya. Ada kali ya dua puluh juru masak. Pesan kepiting, udang, cumi, dua gurame, tumis kangkung dan brokoli plus minum, ga sampai sepuluh menit udah datang. Waaah.. Giranglah perut-perut lapar. Sikaaaaaaat..! Bisa dibayangkan perempuan jelita tiba-tiba berubah beringas karena alasan 'menyusui' #alibi haha..

Mohon maaf hanya menyisakan foto ini pemirsah. Saking amazingnya, piring-piring keburu kosong sebelum difoto ((^.^')

Oh iya, harga? Sesuai dengan kepuasan #elusperut. Dengan menu pesanan kami itu, plus ppn 10%, empat ratus ribu pake kembalian (^^,)v

Readmore - Jumbo Seafood

21 Maret 2016

Dear Ponsel Kesayangan

Jika sebuah benda mati kelak dihisab, maka saya percaya, ponsel bersejarah ini akan mendapatkan tempat di surga.

Tujuh tahun memilikinya dan (hampir) tak pernah mengeluhkan kesetiaannya. Suaranya yang jernih, aplikasinya yang cukup bisa melayani kebutuhan tuannya, ukurannya yang tidak menyulitkan pengguna.. dan ia 'sekarat' sudah lebih dari setahun. Saya tetap mempertahankan, karena hingga kini, suaranya masih jernih melantunkan murottal untuk menemani saya dalam aktivitas seharian, membantu murojaah lewat lantunan ayat Alquran dari Syeikh Misyari dan Al Ghomidi.

Tak peduli orang bilang apa tentang fisikmu. Selama kau masih bisa berbakti, semoga Allah panjangkan pula usiamu..

Readmore - Dear Ponsel Kesayangan

11 Maret 2016

Cake Kuning Telur

~Cake Kuning Telur

Punya baby dan bisa bikin ginian itu membanggakan sekali \(^.^)/

Sepintas kaya bolu biasa ya.. Tapi ini lebih lembuuut dan ga 'seret' kaya bolu. Ntah kalau Bolu Jerman, belum pernah nyobain haha..

Waktu diangkat dari oven bahagiaaa banget karena warna permukaan cakenya bagus, putih kecokelatan. Ternyata dalamnya golden, yeah.. meski teknik ngeluarin dari cetakannya mesti belajar lagi (--,)a kurang tepung kayanya jadi pada nempel di cetakan.

Terpenting, komen beliau (suami-red) kali ini, "Lumayan.. bisa buat cemilan nanti malam." :3

Resep saya dapat dari Bunda Maria Liu di grup masak facebook. Karena first trial, saya pakai setengah resep :D

Versi saya:

~4 kuning telur + 1 telur (kuning&putih)  + 75gr gula pasir dimix dengan kecepatan tinggi sampai adonan mengembang berjejak

~Matikan mixer, tambahkan 50gr terigu yang sudah diayak, aduk dengan teknik aduk balik

~Masukkam 50gr margarin (yang telah dilelehkan sebelumnya), aduk rata

~Tuang ke dalam cetakan yang sebelumnya dioles margarin dan ditabur terigu

~Panggang dengan api kecil selama 24 menit (sebelumnya panaskan oven terlebih dahulu), kemudian besarkan api dan panggang 15 menit. Tusuk dengan lidi. Jika tidak ada adonan menempel, artinya cake sudah matang.

Enjoy it ^^

Readmore - Cake Kuning Telur

Guruku Motivasiku

"Kok ga ada motivasi, Bu?" tanya Wisnu saat saya (agak tergesa) menutup pertemuan hari itu karena mengejar waktu untuk memasuki kelas berikutnya.

"Iya, saya buru-buru. Pekan depan ya.."

"Yaaah.. Ibu."

Saya mengulum senyum. Ternyata, ada yang menantikan saya bercerita atau sekedar memberi satu dua kata penyemangat.

Dahulu ketika sekolah, saya senang jika guru mengajak diskusi tentang hal-hal menarik di sekitar kami. Sesuatu yang berbeda, di luar materi pelajaran yang terkadang menjenuhkan. Beliau, para guru, meminta kami berpikir besar, bermimpi besar. Maka, itu yang juga saya lakukan saat berada di posisi mereka.

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika tentu tahu rumitnya Kalkulus, ribetnya Statistika, juga abstraknya Analisis Real. Tapi saya yakin, di balik setiap mata kuliah ini, ada banyak pelajaran yang bisa diambil. Saya tidak ingin hanya rumit, ribet, dan abstrak saja yang ada di benak mereka. Belajar dari seorang teman (yang juga saya anggap sebagai guru), belajar adalah tentang nilai (value), bukan melulu tentang nilai (mark). Maka jika selepas mata kuliah ini mereka masih terfokus dengan bagaimana mendapat A atau B, bukan seberapa banyak manfaat yang mampu mereka beri untuk masyarakat, berarti saya gagal.

"Janganlah seorang muslim bermimpi, kecuali mimpi yang besar." (Umar Bin Kaththab ra.)

Readmore - Guruku Motivasiku

7 Maret 2016

Nuansa Alquran saat Memberi ASI

Baru beberapa hari mencoba mempraktekkan ini. Biasanya saya tilawah atau murojaah di dekat Altan, tapi tidak terprogram, tidak berurutan, dan (bisa jadi) tidak saya niatkan untuknya melainkan untuk memenuhi target tilawah dan murojaah harian saya.

Awalnya, seperti yang dilakukan oleh ibu hafidzah tersebut, saya membacakan satu halaman alquran saat memberi ASI. Ternyata Altan rewel karena (mungkin) merasa bahwa tangan dan mata saya justru tertuju pada Alquran yang saya pegang. Maka, akhirnya saya hanya melantunkan surat-surat yang saya hafal, start Al Fatihah, An Naas, Al Falaq, dan berurut ke atas, satu surat setiap kali memberi ASI, tetapi diulang terus sampai Altan tertidur. Sembari mengusap perlahan kepalanya, sesekali mencium, dan.. Altan lebih tenang. Terkadang matanya terlihat fokus, atau mencari-cari wajah saya (sumber suara), dan tak jarang ia bergumam, "Ngg.. ngg.." seperti mengiyakan ayat-ayat Allah yang didengarnya.

Semoga terus bertumbuh dalam nuansa Alquran ya, Sayang.. semoga bertumbuh pula kecintaanmu terhadap Alquran dan Dia yang menurunkan.

Readmore - Nuansa Alquran saat Memberi ASI

6 Maret 2016

Belajar Menjadi Ibu

Menjadi 'new mom' memang bukan soal mudah. Saya kira, banyak membaca, mengikuti diskusi seputar pendidikan anak, cukup. Ternyata perlu juga mempersiapkan mental terutama menghadapi banyak suara yang berdatangan, harus ini harus itu, yang terkadang menjatuhkan mental, "I'm not good enogh."

Dalam masa belajar ini, saya (merasa) lebih butuh disupport daripada justifikasi mengapa tidak begini mengapa tidak begitu. Meski tetap saya menghargainya sebagai bentuk perhatian.

Seperti saat Altan sakit. Ini untuk yang pertama kalinya. Mungkin karena saya yang (bermaksud mengenalkan, tetapi justru) ceroboh ketika sabtu lalu mengajak Altan ke majelis ilmu. Usianya dua bulan, saya pikir cukup aman. Tetapi malamnya suhu badan Altan naik. Sempat curiga ini gejala sakit, tetapi suami menenangkan, "Cuma kepanasan kok, coba bawa keluar kamar." Dan ternyata Senin malam ada cairan bening yang mengganggu hidungnya. Altan flu.

Yang saya tahu, batas wajarnya adalah 3-10 hari. Maka selama menunggu batas maksimal, saya menjemurnya di pagi hari, memberi uap dari air panas yang ditetesi telon, mengoleskan balsam bayi di dada dan punggungnya, meminum madu, Yakult, jamu beras kencur, berharap nutrisinya (melalui ASI) bisa meringankan sakit Altan. Saya percaya ini berhasil, apalagi Altan adalah bayi ASI. Tentu saja saya berencana mengunjungi dokter, tetapi nanti ketika (setidaknya) satu pekan terlewati dan sakitnya tidak membaik. Hanya tidak ingin menjadi ibu yang panik, maka saya menyiapkan bekal ilmu dari berbagai sumber.

Alhamdulillah, Sabtu pagi caiean di hidungnya telah mengering. Sampai hari ini, saya masih melanjutkan ikhtiar-ikhtiar penyembuhan ala rumahan, karena sesekali Altan batuk dengan dahak di tenggorokan.

Dari pengalaman ini, saya hanya menitipkan satu harap: beri saya kesempatan belajar :)

Readmore - Belajar Menjadi Ibu

5 Maret 2016

Sebaik-baik Pengasuh untuk Altan

Pernah nonton Children of Heaven? Tentang dua kakak beradik yang bergantian memakai sepatu ke sekolah karena keluarga mereka yang kurang mampu. Pagi sang adik yang memakai sepatu (kebesaran), siang giliran sang kakak. Begitu setiap hari. Dan apa yang saya alami hari ini membuat saya teringat film berkesan itu ((^.^') suami belum pulang dari rapat sementara saya harus tiba pukul 3 sore di kampus. Maka ketika beliau tiba, saya bergegas memacu Revo Hijau kesayangan agar segera sampai di kampus.

Saya dan suami bergiliran menjaga Altan. Beruntungnya, suami tidak memiliki jam kantor yang mengharuskan stand by dari jam sekian hingga jam sekian. Meski resikonya terkadang saya harus terlambat ke kampus jika beliau belum pulang (belum ada pengganti) untuk menjaga buah hati kami. Bersyukur pula, sewaktu-waktu nenek Altan berkunjung dan (gembira sekali jika harus) mengasuh Altan sementara saya dan suami keluar sejenak untuk menuntaskan amanah.

Pengasuh anak, sensitif sekali bagi saya. Sejak hamil, ini sudah kami pikirkan. Bahwa kami tidak ingin Altan diasuh oleh sembarang orang. Kami penanggungjawab utama pendidikannya. Maka ketika di periode emas kami lalai, ntah bagaimana masa depannya kelak.
Sebagai perempuan, tentu besar sekali keinginan untuk menjadi full time mother, memperhatikan setiap tumbuh kembang anak dengan baik. Tetapi, ada banyak sisi yang harus dilihat secara bijak, bahwa kita (dengan berjuta cita) dikelilingi orang-orang terkasih yang menaruh harapan kepada kita.

Menjadi dosen bukanlah cita-cita utama saya. Namun, ketika orang tua menaruh harap besar, sementara dengan itu pula saya memiliki ruang untuk berkarya, saya tetap melanjutkan. Ini bukan profesi, melainkan salah satu lahan ibadah. Maka dalam untaian doa saya hanya mampu berbisik, "Allahku, mampukan aku untuk menjadi sebaik-baik anak, sebaik-baik istri, sebaik-baik ibu, juga sebaik-baik hamba yang ingin menebar kebaikan untuk umat."

Terpenting suami ridho. Maka selanjutnya, kami yang harus pintar-pintar mencari 'win-win solution'. Allah yang akan membukakan jalan :)

*gambar diambil dari google.com

Readmore - Sebaik-baik Pengasuh untuk Altan

1 Maret 2016

Kentang Krispi

Kentang Krispi ~ Selalu penasaran dengan resep ini karena (mencoba beberapa resep) belum pernah benar-benar segaring milik Mc.D. Atau saya yang payah dalam teknik menggoreng? ((^.^')

Melihat penampakannya sebelum masuk freezer (setelah dibumbui, sebelum digoreng) sudah optimis sangat. But.. yeah.. lagi-lagi 'garing sesaat, melempem kemudian' setelah matang. Tapi, dengan antusiasnya suami mencomot sebelum semua kentang digoreng, "Enak ini, Yank." Tumbeeen komennya membahagiakan :D

Baiklah.. mungkin saya payah dalam masak-memasak, apalagi dalam hal seni (foodphotograph), tapi dengan rasa yang memukau sekalipun penampilan kurang menarik, itu cukup menghibur ((^.^')

Resep bisa cek di sini.

Readmore - Kentang Krispi