Social Icons

13 April 2016

Be Honest, Dear..

Salah seorang mahasiswa, yang penampilannya modis, yang terbiasa membawa tas kecil (ntah membawa buku atau tidak) ke kelas, hari ini membuat saya bangga, "..mending dikumpul aja daripada nyontek," katanya sembari bangkit dan mengumpulkan lembar jawaban UTS ke meja saya. Dia yang pertama.

Dan.. ketika saya menyampaikan kebanggaan saya itu kepada teman-temannya yang masih sibuk dengan alat tulis dan lembar jawaban, seketika satu dua dan beberapa peserta ujian yang lain bangkit untuk mengumpulkan lembar jawaban mereka. "Udah ah, Bu. Pusing." Beberapa menit lalu mereka masih gelisah, menoleh ke kanan dan ke kiri, berbisik-bisik, melirik lembar jawaban teman, dan aksi lain yang cukup membuat wajah saya masam. Baiklah.. kemajuan.

Memotivasi mahasiswa agar mereka percaya diri, bahwa mereka mampu menyelesaikan ujian itu dengan baik, dengan kemampuannya sendiri, bukan hal mudah. Meski berulang kali saya tekankan, "..saya menilai proses pembelajaran kalian, bukan semata jawaban di lembar ujian." Tetap ada mahasiswa yang lebih takut nilainya kecil, sementara barokahnya ilmu, ntah ia dapat atau tidak.

Ah.. ya, barokah ilmu. Tidak semua pembelajar memahami ini. Karena di kampus swasta, tak sedikit mahasiswa yang niat awalnya adalah 'yang penting dapat ijazah'. Maka dalam pembelajaran, saya lebih banyak mengajak diskusi tentang bagaimana menjadi pribadi berintegritas tinggi, bagaimana bermimpi besar, bagaimana meraihnya, ketimbang banyak berkutat dengan teorema selevel Analisis Real. Meski begitu, saya tetap ingin menyelamatkan mereka yang disiplin, serius, dan benar-benar pembelajar, supaya mendapatkan haknya dengan menjaga ujian seketat mungkin.

"Kita lagi Ujian Nasional ya?" dengan nada nyinyir, salah seorang mahasiswa menyeletuk suatu waktu. Saya bergeming, tetap dalam posisi berdiri selama ujian berlangsung, dengan mata beredar ke seluruh ruangan, sesekali berjalan menghampiri mereka yang mencurigakan dan memberi tanda di lembar jawabannya. Being honest, dear.. setidaknya untuk menyelamatkan diri dari ketakutan 'saya tidak bisa'. Bahwa dengan menyontek, atau sekedar bertanya memastikan jawaban ke teman, kalian sedang perlahan membunuh potensi diri kalian yang luar biasa. Being honest, dan kalian pun sedang menghormati hak teman kalian untuk berkonsentrasi menyelesaikan ujian mereka.

Saya tak peduli ketika salah seorang teman dosen berkomentar, "Udah lah, Bu. Kita ini tahu mana yang pintar mana yang ga. Kalau kita terlalu ketat di ujian, mahasiswa jadi benci." Saya ingin menunjukkan kepada mereka, begini caranya berkompetisi. Dan lagi, sikap acuh pendidik untuk satu hal (yang dianggap) sepele ini bisa berdampak besar dalam membentuk karakter mereka. Mendidik artinya mengajak berubah, bukan mengikuti arus.

Semoga kalian, para mahasiswa yang optimal berusaha menyelesaikan tugas-tugas belajar dimudahkan meraih cita-cita. Dan semoga.. kalian yang masih belum percaya diri dalam ujian memahami bahwa ujian di bangku sekolah tak ada seujung kuku dari ujian yang sesungguhnya :)

[Gambar diambil dari google.com]

0 komentar:

Posting Komentar