Social Icons

29 April 2016

Perempuan Sederhana

Perempuan sederhana itu menghela napas, berusaha tetap bersabar meski ada nyeri yang dirasakannya. Kata-kata itu terucap dari Bu Lurah, yang oleh sebagian besar orang dijadikan panutan, "Walah Bu, Bu.. Punya anak kok banyak banyak. Untuk makan sih bisa dari bantu-bantu tetangga. Lha kalau sekolah apa bisa..?" Ia masih mengingatnya, hingga kini, berpuluh tahun berlalu sejak pertemuan itu.

Menjadi sederhana, menjadi berkecukupan, adalah hari-hari yang dilaluinya bersama keluarga. Bahwa makan hanya berlaukkan bawang goreng, tidur tanpa atap hingga tiga bulan karena genteng dijual demi membayar hutang, membuatnya kuat, membuat anak-anak pun tumbuh menjadi sosok yang kuat. Mereka tak dibesarkan dengan materi, tapi dari cinta kasih kedua orang tuanya. Beberapa dari mereka tak naik kelas di Sekolah Dasar, tetapi mereka telah lulus dari banyaknya cobaan hidup yang Allah berikan.

Siapa yang menyangka jika satu, dua, bahkan hampir semua anak-anak ini kelak menjadi sarjana ketika teman-temannya sekampung gagal dalam ujian masuk perguruan tinggi? Siapa yang menyangka bahwa rumah sederhana di salah satu sudut kampung itu selalu didatangi mobil saat anak-anak pulang mengunjungi orang tuanya? Maka saya begitu yakin bahwa doa seorang perempuan, seorang ibu, di kala sempitnya, menjadi salah satu doa yang tak tertolak.

Pagi itu, beliau menutup cerita dengan, "Ada rasa ingin ketemu Bu Lurah dan cerita, anak-anak bisa sekolah.. Tapi ya sudah, Allah yang Maha Tahu."

Beliau, perempuan sederhana itu, yang melahirkan suami saya. Mamak kami, salah satu panutan kami. Semoga kebaikan untuk beliau di dunia juga di akhirat.

*gambar diambil dari google.com

0 komentar:

Posting Komentar