Social Icons

10 Agustus 2016

Altan, Jadilah Pembawa Solusi

Brukkk!

Kotak segala, tempat saya menyimpan pernak-pernik kecil yang tak pernah bisa rapi dan bertengger di rak paling bawah, ditumpahkan Altan. Saya menoleh, meski tak beranjak dari dapur. Altan terlihat bingung melihat pernak-pernik menjahit, baterai, bekas charger, dan yang lainnya menghambur keluar dari kotaknya dan memenuhi lantai.

Saya bergeming, memperhatikan reaksi Altan. Ia yang semula berdiri, berusaha meraih apa yang ada di rak, kini terduduk. Menggapai satu persatu perkakas kecil di kakinya. Tidak menangis, meski saya tahu ia terkejut. Menoleh ke kanan dan ke kiri mencari ibunya. Saat bola matanya menangkap bayangan saya yang berdiri tak jauh darinya, seketika Altan mendekat. Saya tersenyum dan memeluk, "Penasaran ya.." napasnya terdengar memburu. "Ga apa-apa. Kadang jatuh, tapi kan bisa berdiri lagi. Yang berantakan bisa diberesin lagi."

Saya terlihat kejam, mungkin. Atau lebih tepatnya tega. Saya terbiasa meninggalkan Altan asyik bermain di ruang tengah sementara saya mondar-mandir nyapu, ngepel, bahkan nyetrika, dengan mata tetap mengawasi meski tak di dekatnya, menjaga. Jika Altan mulai mencari, saya akan berteriak, "Altaaan!" hingga ia menoleh, menemukan ibunya, dan merangkak menghampiri. Saya tega, membiarkan Altan menangis 'manja' sembari memeluk kaki, karena hendak merampungkan cucian piring terlebih dahulu. Kecuali tangisnya karena sakit, lapar, atau BAB.

"Ga semua yang kita ingin bisa langsung kita dapat," kata saya mengusap-usap kepalanya. "Kadang harus menunggu. Harus sabar." Saya memeluk dan mengecup pipinya yang berisi. "Nanti kan dipeluk Mama lagi. Tapi ga bisa.. selalu minta gendong."

Meski mungkin Altan belum mengerti.

Saya ingin ia tumbuh menjadi sosok yang kuat, yang cerdas, yang berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri, yang tidak mudah mengadu lantas menyerah. Kelak ia adalah seorang pemimpin. Mungkin memimpin jutaan bahkan milyaran umat. Ia harus menjadi bagian masyarakat yang membawa solusi. Seperti namanya, Altan, yang berarti fajar. Ia hadir setelah malam yang begitu pekat.

0 komentar:

Posting Komentar