Social Icons

9 November 2017

Komunikasi dengan Anak

Setiap orangtua pasti punya cara tersendiri untuk berkomunikasi dengan putranya. Ini baik, itu tidak. Ini boleh, itu tidak.
.
.
Saya tipe yang 'tega', membiarkan anak eksplorasi ini dan itu. Ketika sebagian orang yang melihat berkali-kali mengingatkan, "..awas Bu, anaknya.." saya tetap duduk diam mengawasi dari jauh.
.
.
Altan jatuh. Saya cukup berseru "Ayooo banguuun.." karena Altan tipe yang jarang menangis kecuali sangat sakit (atau malu). Altan bermain dengan sepupunya dan menangis. Saya mengawasi dari jauh, membiarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri. Dan biasanya sepupunya yang mengalah karena Altan paling kecil. Mendiamkan, memberi ini memberi itu, kemudian bermain lagi.

Kecuali jika itu hal berbahaya, semisal Altan tak sengaja menemukan pisau, korek api, lem atau benda-benda lain yang berpotensi melukai atau tak ramah di mulut, biasanya harus langsung saya jauhkan.
.
.
Meski tantangannya adalah.. saya bisa saja abai. Karena merasa anak aman bermain, saya asik dengan aktivitas sendiri dan lupa untuk mengecek, mengawasi, memperhatikan.

Semoga lisan ini senantiasa basah dengan dzikrullah, bahwa Allah sebaik-baik penolong dan pelindung, bahwa tanpa orangtua, ada Allah yang akan menjaga anak-anak kita dari keburukan dan marabahaya.

#Hari6 #gamelevel1 #tantangan10hari #komunikasiproduktif #kuliahbunsay

0 komentar:

Posting Komentar